Rabu, 23 Maret 2016

Gambaran Interaksi Muhammadiyah dan NU dalam Novel Kambing dan Hujan




Judul               : Kambing dan Hujan
Penulis            : Mahfud Ikhwan
Penerbit          : Bentang (PT Bentang Pustaka) Yogyakarta
Cetakan          : Mei 2015
Tebal               : vi+374 hlm; 20,5 cm
ISBN               : 978-602-291-027-5

Benturan budaya sudah sering menjadi bumbu penyedap dalam cerita fiksi. Namun bagaimana kalau  yang menjadi bumbu adalah friksi dalam interaksi sosial antara dua ormas terbesar di Indonesia; Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Tentunya ini sangat rawan untuk diperbincangkan namun dalam jagad dunia fiksi- baca sastra, semua yang tidak mungkin menjadi mungkin karena kenyataan dan rekaan dalam fiksi berkelindan mesra dalam sebuah teks yang bebas untuk ditafsirkan.

Dalam Novel kambing dan hujan karangan Mahfud Ikhwan ini,  konflik diawali dengan keinginan Miftahul Abrar dan Nurul Fauzia untuk menikah dan masing masing harus  meminta persetujuan kedua orang tuanya. Dari sini semua kompleksitas cerita bermula. Keduanya adalah anak dua tokoh penting  di  dusun Centong  yang masing masing menjadi pengurus Masjid Utara dan Masjid Selatan dan di kedua mesjid tersebut adalah perwujudan dua ormas besar di negeri ini yaitu Muhammadiyah dan NU. Iskandar sebagai orang tua Mif, panggilan Miftahul Abrar adalah pengurus Masjid Utara yang berafiliasi ke  Muhammadiyah yang mengklaim sebagai  Islam pembaruan dan Muhammad Fauzan ayah dari Fauzia adalah pengurus Masjid Selatan yang berafiliasi ke  NU yang dianggap sebagai Islam tradisionalis.

Ternyata tanpa sepengetahuan Mif dan Fauzia kedua orangtua yang akan berbesanan ini meskipun berbeda organisasi, sebenarnya keduanya ini adalah sahabat di waktu kecil. Bahkan tanpa sepengetahuan kedua sejoli yang hendak menikah  ini,  ternyata ibu fauziah adalah gadis yang dulu sempat berpacaran dengan bapaknya mif. Hanya karena berbeda golongan saja  bapaknya mif urung menikah dengan ibunya fauzia.

Konflik antara muhammadiyah dan NU yang disodorkan dalam novel ini memang sebagaimana konflik yang terjadi  di tataran akar rumput yang selama ini terjadi pada kedua organisasi ini. Perdebatan antara Qunut dan tidak Qunut dalam shalat subuh, jumlah rakaat dalam tarawih maupun ritual kebudayaan lainnya semisal syukuran sedekah bumi dan masalah dua adzan dalam pelaksanaan shalat jumat. Penggambaran konflik dua ormas keagamaan terbesar di Indonesia  pada novel ini yang mengambil setting sebuah kampung kecil di pantai utara Lamongan berbatasan dengan Kabupaten Tuban  ini seolah menjadi kaca benggala bagaimana interaksi kedua ormas tersebut selama ini berlangsung dan mewarnai kehidupan agama kedua Ormas ini di Indonesia. 

Novel ini seolah mengkritik bagaimana konflik yang terjadi pada kedua ormas tersebut sebenarnya hanyalah berkutat pada hal hal yang bukan prinsipil dalam sebuah ritual keagamaan karena apa yang kedua ormas ini jalani  keduanya bisa dibenarkan karena masing masing mengacu pada lima mazhab besar, Sunni. Sebagai organisasi yang sama-sama ahlussunah mungkin perdebatan yang terjadi hanyalah sebuah riak kecil karena banyak faktor-faktor lain  selain factor  agama yang membuat perdebatan ini lestari pada tataran akar rumput kedua organisasi.   

Akhirnya, apakah masing masing menerima  jalan hidup yang hendak ditempuh anak-anaknya atau  harus memegang teguh garis organisasi yang mereka yakini. Akankah keluarga mereka menjalankan ritual berbeda dalam satu rumah jika keduanya harus berbesanan. Bagaimana para jamaah masjid utara dan jamaah masjid Selatan akan bersuara melihat apa yang telah mereka jalani. Apakah demi cinta anak anak mereka, mereka harus rela melakukan kompromi meski itu melawan garis garis organisasi yang sudah selama ini mereka perjuangkan hingga menjadi sebuah trade mark yang diyakini banyak orang. Selamat membaca!

Rabu, 22 April 2015

MEMBEDAH CARA JITU MEMPEROLEH KEBAHAGIAAN.



Banyak orang bertanya-tanya bagaimana cara memperoleh kebahagiaan. Bagi penulis Awang Surya hanya dengan banyak – banyak  bersyukur dan beramal itu cukup mendekatkan seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan. itulah yang dikatakan oleh Awang Surya dalam acara bedah bukunya, Bahagia Tanpa Menunggu Kaya, yang diselenggarakan bekerja sama dengan Badan perpustakaan dan Arsip Daerah (Baperpus Arsda) Kabupaten Lamongan dan Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Lamongan pada Rabu 11 Februari 2015 di Mushola Al Quro Baperpus Arsda.

Dikatakan oleh Awang Surya bahwa buku Bahagia Tanpa Menunggu Kaya ini merupakan buah kontemplasinya selama empat puluh tahun karena buku ini ditulisnya saat ia berumur empat puluh tahun. Sebuah angka yang dianggap sebagai  titik kematangan seseorang dalam menjalani hidup. Selain itu Awang juga banyak menyitir bahwa ketidakbahagiaan yang dirasakan seseorang sebenarnya karena kekosongan ruhani masyarakat di tengah kepungan gaya hidup komsumtif. Orang hanya perlu banyak mensyukuri apa yang telah diberikan oleh sang pencipta untuk mengekang keinginan keinginannya yang sebenarnya sangat semu dan relatif.

Acara bedah buku yang dihadiri oleh beberapa siswa sma dan mahasiswa di Lamongan ini menjadi semakin riuh dengan kehadiran beberapa murid kursus menulis FLP Lamongan. Bahkan, di awal acara FLP Lamongan sempat memberikan tantangan dengan mengadakan lomba menulis dadakan dengan tema kebahagiaan  sehingga pada saat acara dialog di akhir acara bedah buku tersebut  peserta yang hadir selain  bertanya tentang isi buku juga ada yang bertanya mengenai kiat kiat menulis pada Awang Surya.
Diharapkan ke depan dengan diadakannya bedah buku ini, semakin banyak kebahagiaan yang dirasakan oleh masyarakat Lamongan dan juga semakin banyak penulis yang lahir dari Lamongan sebagaimana Awang Surya yang merupakan putra Lamongan Asli. Selamat membaca.

Keutuhan Informasi adalah Tujuan dari Pemerberkasan Arsip



Judul Buku   : Filing System: Panduan Praktis Penataan Berkas
Penulis          : Drs. Burhanudin DR, Waluyo, S.S., M.Hum, Titi Susanti, MAP.
Penyunting   : Wahjudi Djaja, S.S
Penerbit         : Gambang Buku Budaya, Yogyakarta
Cetakan         : Pertama, Februari 2015                :
Tebal              : x+101 hlm. 14 x 20 cm
ISBN               : 978-602-72157-1-9

Kegiatan pengelolaan arsip memang lekat dengan apa itu yang disebut pemberkasan (Filing).  Arsip yang memberkas menjamin adanya  keutuhan  informasi yang terkandung didalamnya. Keutuhan informasi merupakan asas dalam penyelenggaraan kearsipan sebagaimana yang tertuang dalam pasal 4 (empat) Undang-undang Nomor 43 tahun 2009 tentang Kearsipan. Disamping keutuhan informasinya, asal usul informasi (principle of provenace), maupun aturan asli (principle original order) dalam pengelolaan arsip merupakan unsur unsur yang membuat arsip mempunyai tingkat keautentikan dan keterpercayaan tinggi. 
 Walaupun nilai keutuhan dan kelengkapan informasi dalam pemberkasan arsip  begitu krusial  akan tetapi buku referensi yang membahas tentang  tentang penataan arsip maupun pemberkasan itu sangat jarang ditemukan di negara kita. Kebanyakan yang ada adalah manual yang diterbitkan dalam bentuk peraturan  di lembaga publik/pemerintah sedangkan bacaan yang khusus untuk konsumsi   khalayak umum masih kurang. Kehadiran buku Filing System Panduan Praktis penataan berkas seolah menjadi angin  segar bagi para praktisi kearsipan di Indonesia.
Buku yang ditulis oleh tiga dosen Program Diploma sekolah Vokasi UGM yaitu; Drs. Burhanudidin DR, Waluyo, S.S., M.Hum, dan Titi Susanti, MAP, menyajikan isi yang berbeda dengan buku sejenis yang pernah ada. Buku buku terdahulu, salah satunya buku Manajemen Kearsipan karangan Drs Zulkifli Amsyah, MLS.   Di dalam Manajemen Kearsipan, Drs Zulkifli Amsyah, banyak  mengupas  bagaimana menata sebuah item arsip/lembar surat bukan arsip sebagai berkas atau file. Tentunya dua istilah item arsip/lembar surat dan file/berkas berbeda dalam hal kelengkapan informasinya; Item adalah satuan terkecil arsip yang tidak bisa dipecah lagi informasinya sedangkan file atau berkas adalah satu unit arsip yang disusun berdasarkan kesamaan kegiatan, kesamaan masalah, atau kesamaan jenis.
Sebelum menentukan sistim pemberkasan yang akan digunakan setiap organisasi hendaknya melihat besar kecilnya  rentang  tugas dan fungsi organisasi serta volume arsip yang tercipta. Dengan memahami tupoksi organisasi maka arsip yang tercipta nantinya akan terkumpul sesuai dengan masalah dan kegiatan yang ditanganinya.  
Dalam pelaksanaan sistim pemberkasan (filing system) perlu dipelajari bentuk bentuk berkas karena hal ini mempengaruhi prinsip manajemen arsip aktif yaitu kecepatan, ketepatan dan kelengkapan.  Tentunya dua unsur yang pertama yaitu kecepatan dan ketepatan bisa dicapai  pada saat proses  penemuan kembali informasi apabila arsip tertata secara  per item namun kelengkapan informasinya kurang karena arsip tersebut tidak memberkas dalam sebuah kesatuan informasi yang utuh (hal. 8).
Ada beberapa bentuk berkas yang diuraikan dalam buku ini;
1.    Berkas berdasarkan kesamaan kegiatan
Berkas ini berisi item arsip/surat yang berkaitan dengan kegiatan yang sama misalnya,  berkas kegiatan Ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia maka surat surat yang berhubungan dengan Ulang Tahun Kemerdekaan akan dikumpulkan dalam satu berkas dengan indeks yang sama yaitu HUT RI.
2.    Berkas berdasarkan kesamaan subyek atau perihal
Berkas ini akan berisi surat surat dengan pokok masalah yang sama misalnya berkas pelatihan maka berkas tersebut akan terdiri dari pelatihan computer, pelatihan keuangan dan pelatihan lainnya.
3.    Berkas berdasarkan kesamaan jenis
Sedangkan untuk berkas dengan tipe sejenis ini biasanya berisi arsip yang berupa produk hokum yaitu peraturan dan perundangan. Berkas ini akan terkelompok dalam tiap tiap jenis produk hokum misalnya Undang-undang, peraturan, edaran dan sebagainya dan akan tersusun dalam tahun yang sama.
4.    Berkas perorangan
Berkas perorangan ini biasanya akan dikelompokkan sesuai dengan nama seseorang dan akan berisi kronologi orang yang bersangkutan apakah ia sebagai pegawai, mahasiswa, atau pasien dll dalam kaitanya dengan tupoksi organisasi yang melibatkan namanya.
Keunggulan yang terkandung dalam buku ini  adalah adanya langkah langkah praktik di setiap akhir Bab. Dengan cara penyajian yang demikian,  memungkinkan pembaca buku untuk mencoba mempraktekkannya setiap selesai pembahasan karena langkah praktiknya pun sudah disajikan secara berurutan sehingga pembaca tinggal mengikuti prosedur yang diberikan.
Kalaupun ada yang kurang dari penyajian buku ini adalah tidak adanya daftar istilah  kearsipan. Keberadaan daftar istilah kearsipan ini diharapkan akan mempermudah pembaca terutama pembaca yang tidak berlatarbelakang pendidikan kearsipan. 
Selain itu ada beberapa istilah penting yang berkaitan dengan pemberkasan yaitu item, file, series, dan fond yang perlu diberikan contoh lebih konkret namun dalam penyajiannya  hanya diberikan definisi secara singkat.
Karena pembahasan dari buku ini lebih menitik beratkan pada arsip dinamis maka istilah  series dan fond pun tidak ada uraiannya yang lebih detail karena kedua istilah tersebut banyak berisinggungan dengan manajemen pengelolaan arsip statis yaitu arsip yang bernilai guna  informasional dan kesejarahan .