Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Maret 2017

Buku Itu Guru yang Sabar

Membaca membuat seseorang sejenak lupa. Lupa di mana ia berada dan kadang tak jarang kita seolah hadir di antara kata kata.

Di antara kata kata itulah kita berdialog bagai guru dan murid. Kadang kita protes dengan apa yang kita baca. Ia pun diam tak protes balik.

Namun selalu ada informasi baru bila kita membaca buku. Informasi yang bisa memperkaya isi qalbu dan  membuat kita selalu rindu dengan sebuah buku.

Bagi kita yang selalu haus ilmu buku seolah guru yang telaten dan sabar melayani rasa ingin tahu kita. Saat sedih, marah, atau biasa saja mental kita buku akan tetap diam melayani.

Jadikan buku sebagai sahabat diwaktu luang. Anggaplah sebagai guru yang penyayang. lambat laun ia akan memberi kita dengan impian impian baru yang membuat gairah hidup kita selalu baru.

Mulailah dari buku yang isinya sesuai minat kamu. Jangan berhenti, teruslah berinteraksi dengan buku karena ia adalah guru yang selalu kau rindu. Pada akhirnya.

Kamis, 04 Desember 2014

Anda Mau Belajar Filsafat, Dunia Sophie Sumbernya


Sebagian pembaca mungkin ada yang penasaran dengan yang namanya Filsafat. Sebuah cabang ilmu yang konon bisa membuat orang yang mempelajarinya gila bila tidak hati hati mengkajinya.

Bagi yang masih penasaran dengan apa itu filsafat cobalah Anda baca novel karangan penulis Swedia, Jostein Gardner, yang berjudul SOPHIE'S WORLD. Buku ini ada terjemahanya yang diterbitkan oleh penerbir Mizan, Bandung dengan judul Dunia Sophie. Buku ini berkisah tentang seorang ayah yang mengajari anaknya filsafat dengan cara yang unik yaitu dengan cara mberinya cerita yang didalamnya berisi dialog antara Sophie dan ahli filsafat. Dengan bahasa yang populer dalam setiap kisahnya filsafat menjadi lebih enak dan mudah dipelajari.

Sejarah awal pemikiran filosofis hingga teori big bang disajikan dengan cara yang mudah dan tidak menjemukan. Pengusaan teori filsafat penulis memberikan buku ini bisa dikatakan buku rujukan terpercaya tentang sejarah filsafat mengingat penulisnya juga seorang Dosen Filsafat di Sebuah kampus di Swedia.

Nah, untuk Anda yang gemar berfilsafat tunggu apa lagi, Segeralah baca buku itu.

Rabu, 03 Desember 2014

LEBIH AKRAB DENGAN BUKU RUJUKAN


Seringkali kita dibuat pusing dan kebingungan apabila kita membutuhkan informasi yang sebenarnya itu sepele karena  sekedar ingin mengetahui alamat sebuah perusahaan atau kedutaan sebuah negara   kita  kerepotan untuk mendapatkan jawabannya. Mau bertanya ke mana dan pada siapa kita pun ragu jangan jangan mereka juga tidak bisa memberi solusi akan masalah kita. Di sinilah pentingnya peranan buku rujukan atau buku referensi bagi orang orang yang mengalami persolan seperti yang tersebut di atas.
Keberadaan buku rujukan memang sering kali terabaikan padahal tidak semua bahan pustaka adalah bahan bacaan yang penggunaannya harus dibaca sampai tuntas berjam jam ataupun berhari-hari. Ada beberapa koleksi khusus yang fungsinya sebenarnya hanya untuk dilihat atau dibaca sekilas isinya. Dengan kata lain penggunaannya hanya  diperlukan apabila kita membutuhkan informasi singkat akan suatu hal. Informasi itu bisa berupa makna kata, alamat kantor, cara menggunakan sesuatu, lokasi maupun tanggal suatu peristiwa. Informasi yang demikian inilah  yang  biasanya akan kita temukan jawabannya dalam buku buku khusus yang memuat informasi  itu yang lazim kita sebut buku rujukan atau  buku referensi.
Di setiap perpustakaan sebenarnya menyediakan buku buku referensi semacam ini yang biasanya ditempatkan di ruang tersendiri dan  buku buku referensi ini tidak dipinjamkan untuk dibaca di rumah karena kegunaanya yang spesifik tadi, yaitu hanya digunakan sebagai rujukan singkat.  Dengan alasan tersebut itulah buku referensi tidak dipinjamkan untuk dibaca di rumah melainkan hanya untuk di baca di tempat.
Ada beberapa jenis  buku referensi yang perlu kita ketahui untuk memudahkan kita dalam menelusuri informasi singkat seperti yang tersebut di atas, di antaranya  adalah :
a.         Kamus
Daftar alfabetis kata-kata yang disertai dengan arti kata tersebut.
b.         Ensiklopedi
Daftar istilah istilah ilmu pengetahuan dengan tambahan keterangan ringkas tentang arti dari istilah tadi.
c.         Direktori
Buku yang memuat alamat alamat berbagai organisasi.
d.         Almanak
Buku yang memuat keterangan  penting di suatu saat dan tempat tertentu.
e.         Buku tahunan
Buku yang memuat peristiwa peristiwa selama setahun terakhir
f.          Buku Pedoman
Ada dua macam yaitu manual (memuat sekumpulan fakta / buku pintar) dan hanbook (yang berisi cara melakukan sesuatu/how to  do it)
Dari beberapa buku referensi yang sudah penulis  bahas diharapkan kita tidak lagi kebingungan untuk menemukan  informasi  yang kita butuhkan karena kita sudah mengetahui sumber informasi untuk mengatasi persoalan tersebut.
Agar kita terbiasa dengan buku buku referensi tentu tidak ada salahnya bila setiap kali kita berkunjung ke perpustakaan kita menengok ke ruang referensi agar kita lebih akrab dengan buku buku rujukan atau buku referensi tersebut. Dengan pemahaman yang kita punya mengenai bahan pustaka ini berarti kita telah selangkah  menuju menjadi Masyarakat Literasi yaitu masyarakat yang bisa menggunakan sumber informasi karena sekarang bukan lagi era melek huruf tapi melek informasi.  Selamat berselancar di dunia informasi.

Senin, 21 April 2014

MELANGLANG BUANA DEMI SEBUAH KEBAHAGIAN




JUDUL                    : THE GEOGRAPHY OF BLISS: KISAH SEORANG PENGGERUTU YANG BERKELILING DUNIA MENCARI NEGARA YANG PALING MEMBAHAGIAKAN.
PENGARANG          : Eric Weiner
PENERJEMAH        : M. Rudi Atmoko
PENERBIT                : Qanita. Bandung
CETAKAN                 :  Cetakan pertama, Februari 2014
TEBAL                       : 532 halaman
ISBN                           : 978 602 1637 22 7

‘Kebahagiaan adalah hasil interaksi social. Tidak ada kebahagian manusia yang didapat dalam kesendirian’. – Karma Ura, Cendekiawan Bhutan.

Apakah kebahagian orang satu dengan lainnya mempunyai rasa yang sama di benak orang satu dan lainnya. Sejumlah pertanyaan yang membuat seorang Eric Weiner, seorang mantan reporter New York Times dan National Public Radio (NPR) bepergian untuk mencari tempat paling membahagiakan di dunia.

Sejumlah Negara menjadi tujuan perjalanannya untuk mendapat jawaban dari pergolakan batinnya tentang tempat paling membahagiakan di dunia. Ada sepuluh Negara dari berbagai latar belakang budaya yang menjadi persinggahannya. Di antara negara-negara tersebut adalah Belanda, Swiss,Bhutan, Qatar, Islandia, Moldova, Thailand, Britania Raya, India, dan Amerika. 

Saya penasaran, bagaimana kalau menghabiskan waktu selama satu tahun dengan melakukan perjalanan mengelilingi dunia, mencari tempat-tempat yang terkenal karena kekacauannya, tetapi justru itu adalah tempat-tempat bahagia yang tidak digembar-gemborkan? Tempat-tempat yang tak diragukan lagi mempunyai satu atau beberapa bahan yang kita anggap sangat penting untuk hidangan kebahagiaan sejati: di antaranya adalah uang , kesenangan, spiritualitas, keluarga, dan cokelat. Bagaimana jika Anda tinggal di Negara yang luar biasa kaya dan tak seorang pun membayar pajak? Bagaimana jika Anda tinggal di Negara tempat kegagalan adalah sebuah pilihan? Bagaimana jika Anda tinggal di Negara yang begitu demokratis sehingga Anda memberikan hak pilih  sampai tujuh kali dalam setahun? Bagaimana jika Anda tinggal di Negara tempat pemikiran  yang berlebihan dihalangi? Apakah dengan itu anda akan bahagia?(hal. 16) .
Itulah sekumpulan pertanyaan di benak  Eric Weiner yang membuatnya berkelana ke beberapa Negara hanya untuk mencari kebahagiaan. Dan apakah mereka memang  betul-betul merasakan dengan  apa yang disebut kebahagiaan itu.

Belanda adalah Negara pertama yang ia singgahi. Dengan kondisi toleransi  begitu tinggi yang  dimiliki oleh orang Belanda,  Eric malah merasakan ketidaknyamanan. Ketidaknyamanan yang muncul dari rasa ketidakpedulian orang Belanda akibat toleransi yang begitu tinggi terhadap apa-apa yang dilakukan oleh orang lain.  Eric merasakan dengan situasi tersebut dirinya akan mudah untuk berbuat menyimpang karena tidak adanya kontrol sosial masyarakat.

Negara berikutnya adalah Swiss yang cukup konvensional dalam mengungkapkan kebahagiaannya. Mereka tidak pernah berlebihan dalam mengekspresikan kebahagiaan. Conjoyment adalah istilah  yang diciptakan Eric untuk orang Swiss dalam mengekspresikan kebahagiaan yang kalau diartikan adalah merasa gembira sekaligus tenang. Tentunya kita sendiri akan kesulitan merasakannya kalau kita sendiri tidak pernah bersinggungan dengan orang Swiss secara langsung. Sedangkan deskripsi yang diberikan oleh Eric sendiri masih dangkal dan pastinya akan membuat pembaca meraba-raba seperti apakah kondisi Conjoyment itu.

Dari perjalanannya tersebut ternyata ada macam-macam penyebab kebahagiaan sebuah Negara selain di kedua negara di atas misalnya, di negara petrodollar, Qatar, uang bisa menjadikannya negara yang berbahagia. Sedangkan di India bagaimana orang bisa menemukan kebahagiaan hanya dengan menjadi murid spiritual seorang Guru, tokoh agama Hindu. Bahkan yang lebih mengherankannya  adalah tetangga kita, Thailand,  di mana di sana kebahagiaan didapatkan dengan cara tidak berfikir dalam bertindak, aneh bukan? Ya itulah sebagian hasil pemetaan Eric akan kebahagiaan yang terjadi dari beberapa negara yang telah dijadikan obyek observasinya.  

Melihat sekilas buku ini jelas akan membuat orang mengira ini adalah buku travelling. Namun,   apakah ini sebuah buku travelling? Ya, dengan tegas dinyatakan oleh penulisnya sendiri,  tapi tidak sebagaimana buku perjalanan biasa. Eric menyatakan ini adalah buku perjalanan ide ide karena sebenarnya perjalanannya bukan semata-mata untuk melihat tempat-tempat eksotik suatu tempat  akan tetapi lebih pada  sebuah perjalanan untuk mencari  bahan-bahan utama yang menjadikan mengapa sebuah tempat terlihat lebih membahagiakan daripada tempat lainnya? Dan bagaimana pula lingkungan suatu tempat mempengaruhi timbulnya rasa kebahagiaan pada tempat tersebut.

Seperti kata kata yang selalu terngiang di benak Eric, ketika mengakhiri perjalanannya, yang ia dapatkan  dari  Karma Ura, cendekiawan  Bhutan, bahwa kebahagiaan seratus persen bersifat relasional karena tidak ada yang namanya kebahagiaan pribadi.

At last,  but not least sebagaimana yang kita yakini dalam agama kita masing-masing,  kebahagiaan akan diperoleh dengan cara berbagi dengan sesama. Bukan begitu? Selamat membaca!

Minggu, 09 Juni 2013

JK. Rowling A Honestly Writer (Penulis yang Tulus)


" Saya menulis cerita Harry Potter sebenarnya tidak khusus kutujukan untuk konsumsi anak-anak, namun saya menulis absolutly for my self" begitulah pegakuan joanne Kathleen Rowling atau yang lebih dikenal JK Rowling penulis buku Harry Potter seperti yang dikutip oleh Marc Saphiro.

JK. Rowling "THE WIZARD BEHIND HARRY POTTER, ANAUTHORIZED BIOGRAPHY " yang ditulis oleh Marc Saphirro dan diterbitkan oleh St. Martin's Griffin, New York ini banyak menceritakan kisah hidup JK Rowling dan Latar belakang proses kelahiran Harry Potter  dan Dunia sihirnya.

Sebagai penulis, seperti halnya kebanyakan penulis sukses lainnya, JK Rowlingsejak kecil memanga suka menulis. Dan menulisnya sendiri merupakan cara dia menghibur dirinya. Pada usia anak-anak ia sudah membuat cerita imajinatif yang diberinya judul RABBIT AND MISS BEE. Cerita itu ia tulis dengan tangan pada buku hariannya kemudian ia tunjukkan pada saudaranya untuk dibaca. disamping suka menulis ia juga sangat gemar membaca seringkali waktunta banyak dihabiskan untuk menghadapi berlembar-lembar halaman buku dari pada bermain main.


Ketika beranjak dewasa ia menikah dan kemudian pernikahannya kandas ketika ia memperoleh anak satu. Pada saat itulah satu fase sulit dalam  kehidupannya bermula karena iaharus menjadi single parent. di tengah-tengah kesulitan inilah ada Blessing in disguisse. Ditengah kesukaannya meluangkan kesulitan nogkrong di kafe sendirian ia yang gemar menulis mulai membuat cerita yang kelak akan mendunia.

dengan membawa kertas dan pulpen ia habiskan waktu di kafe dengan menulis sepanjang waktu untuk menghibur dirinya.

"Saya tidak bisa membayangkan orang bisa menikmati membaca karay saya melebihi kenikmatan ketika saya sedang menuliskannya," itulah salah satu pengakuannya.

Melihat perjalanan hidup JK. Rowling kita akhirnya bisa lebih memaknai akan sebuah ketulusan dalam menjalankan aktifitas. Dan sekali lagi ketulusan pasti akan menyebabkan imbas positf bagi yang menjalankannya. Selamat membaca.

Senin, 03 Juni 2013

RAHASIA KREATIFITAS FARIZ RM



JUDUL              : REKAYASA FIKSI (Bagaimana cara Fariz menulis lagu)
PENGARANG  : FARIZ RM
PENERBIT        : REPUBLIKA
CETAKAN        : I JUNI 2009
TEBAL              : viii+216 Halaman

Baru kali ini, sepanjang hidup, saya menulis sebuah komposisi lagu tanpa bantuan alat musik. Saya membayangkan bilah-bilah ‘keyboard’ seolah ada dihadapan saya, pura-pura menekan tuts tertentu dan menggaungkan bunyi nada tertentu, yang kemudian saya transfer notasi di buku partitur. Mulanya canggung, akan tetapi dorongan inspirasi dengan setting luar biasa yang tanpa sengaja saya temukan itu seolah menjadi kekuatan yang membangun keyakinan pada diri saya bahwa saya mampu menyelesaikan wujud komposisi yang penjiwaanya begitu saya kenal di dalam hati dan pikiran.

Kutipan di atas adalah pengakuan Fariz RM tentang bagaimana ia menggubah komposisi lagunya yang terkenal, Barcelona. Lagu  yang sangat terkenal  di era 80-an itu, ternyata digubah oleh Fariz RM hanya dengan cara menuliskan notasi lagunya dalam buku partitur-sama sekali tanpa menggunakan alat musik- luar biasa!
Inilah salah satu  isi buku yang ditulis oleh Fariz RM, yang berjudul REKAYASA FIKSI, yang secara keseluruhan memuat 20 lagu hits dari Fariz RM. Melalui bukunya ini Fariz mencoba merekonstuksi ulang setiap kenangannya dalam melahirkan sebuah komposisi lagu yang ia gubah. Secara detail, Fariz menerangkan sisi ekstrinsik yang mempengaruhi proses terjadinya lagu-lagunya, mulai dari latar, tokoh, maupun kisah-kisah yang melatarbelakangi isi cerita dari lagu yang dibuatnya.
Tentunya sangat menarik bagi kita dapat mengetahui proses kreatif  seorang Fariz RM Sebagai seorang musisi serba bisa Indonesia, yang oleh pengamat musik dianggap sebagai perwujudan generasi emas musisi Indonesia bersama Dedi Dhukun, Dian Permana Putra, Adhi M.S. dan Erwin Gutawa. Di era 80-an mereka memberi warna yang berbeda terhadap blantika musik pop Indonesia yang didominasi oleh aliran musik ‘cengeng’ yang diwakili oleh Betharia Sonata dkk.
Di samping menyajikan 20  lagu-lagu hits dari Fariz, buku ini juga menyajikan perjalanan hidup fariz RM mulai dari kecil hingga ia terjun ke dunia musik. Seperti yang diakuinya, bahwa sejak kecil Fariz memang sudah bercita-cita menjadi musisi. Pada saat itu, cita-cita tersebut sungguh aneh bagi sebagian orang tua yang lebih banyak menghendaki anak-anaknya menjadi ekonom, dokter dan ilmuwan yang lain asalkan bukan  musisi. Namun, bagi Fariz, cita-cita tersebutlah yang selalu terlintas dibenaknya setiap kali ditanya oleh orang tuanya maupun oleh teman-temannya.
Persinggungan Fariz dengan dunia musik sebenarnya dimulai sejak ia balita di mana setiap kali ibunya selesai memandikannya pasti ibunya akan meletakkan dia dipangkuannya sambil memainkan tuts-tuts piano. Keadaan itulah yang akhirnya, tanpa disadari, telah  menstimulus sense of music Fariz RM. Bahkan, ketika menjelang remaja Fariz diikutkan les piano klasik oleh ibunya. Keadaan inilah yang membuat Faris ketika remaja sangat dikagumi oleh teman sekolahnya berkenaan dengan ketrampilannya dalam bermain musik.
Ketika lepas masa SMA Faris pindah ke Bandung karena ia  diterima di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Di Bandung inilah Faris merasa bahwa idealismenya dalam bermusik semakin berkembang berkat pergaulannya dengan seniman-seniman Bandung yang penuh dengan ide-ide kreatif dan mendobrak kemapanan. Salah satu seniman Bandung  yang banyak   menginspirasinya ialah almarhum Harry Roesli.
Namun, seperti yang diakuinya, sosok yang sangat berpengaruh ketika  ia memutuskaan untuk menekuni dunia musik sebagai jalan hidupnya adalah almarhum Chrise. Dari Chrise inilah Fariz pertama kali mendapat tawaran untuk turut serta dalam mengerjakan proyek album musik soundtrack film Badai Pasti Berlalu yang sedang dikerjakan oleh Chrise. Pada saat itu, Faris diminta untuk menjadi additional player, yaitu  posisi sebagai pemain drum. Dan dari Chrise inilah Faris memperoleh nama beken yang membuat ia malang melintang di blantika musik, yaitu: Faris RM.
Kehadiran buku ini, menurut Faris, hanyalah  wujud pertanggungjawabannya sebagai makhluk yang dikaruniai oleh Sang Pencipta dengan bakat menggubah lagu. Karenanya, ia ingin membaginya  dengan orang lain. Ia berharap penggemarnya dapat merasakan perasaan yang sama dalam menghayati lagunya. Dan untuk mewujudkan  keinginan tersebut, Faris menuliskan  20 hits-hitsnya dalam bentuk partitur lagu, yang dalam penulisan partiturnya ia dibantu oleh Irsa Destiwi, yang oleh Fariz dianggap sangat mahir di bidang notasi balok.  
Gaya penyajian buku ini pun  dilakukan oleh  fariz dengan cara yang sederhana.  Hal ini ditegaskan  oleh Fariz RM sendiri bahwa dia tidak bermaksud menjelaskan hal teknis dalam proses terciptanya sebuah lagu, tak lebih hanya  sekedar untuk berbagi pengalaman dengan penggemarnya, secara simple disertai dengan istilah-istilah sederhana. Dan yang lebih menambah keeksklusifan buku ini bagi pembacanya adalah, bagi kita yang bisa membaca notasi musik (not balok), sengaja dimanjakan oleh Fariz dengan disertakannya partitur lagu yang dibahasnya agar pembaca bisa memainkan lagu tersebut sesuai dengan nada yang diinginkan oleh Fariz RM. Selamat menikmati.
OLEH : AGUS BUCHORI
STAF PERPUSTAKAAN
BADAN PERPUSTAKAAN DAN ARSIP DAERAH KAB. LAMONGAN

DAN SEGALANYA TENTANG SENI RUPA



JUDUL           : Gelaran Almanak Seni Rupa Jogja 1999-2009
PENULIS       : Muhidin M. Dahlan dkk.
PENERBIT     : GELARAN BUDAYA, Yogyakarta, 2009
TEBAL           : 872 hlm.

Apakah anda seorang yang menggeluti dunia seni rupa dan merindukan referensi yang komprehensif tentang seni rupa? Bila anda mengiyakan pertanyaan saya maka anda layak gembira karena buku referensi yang mampu menjawab kegelisahan anda sudah muncul di belantika perbukuan Indonesia. Ya buku tersebut berjudul Gelaran Almanak Seni Rupa Yogya 1999-2009 (gelaran ASRY).
Dunia seni rupa sangatlah luas cakupannya walaupun bisa  kita sederhanakan hanya dua bidang yaitu seni murni dan desain-baik dua dimensi maupun tiga dimensi. Melalui Buku Gelaran ASRY ini kita bisa menelisik lebih dalam kedua cabang seni rupa tersebut tanpa takut kehabisan informasi yang kita butuhkan.  Di kategori seni murni; lukis, patung, dan komik tak luput dari pembahasan. Begitu pun di bidang desain mulai dari batik, keris, dan kriya juga sangat dalam dibahasnya. Disertai keterangan mengenai riwayat hidup para maestro-maestro dibidang tersebut, menjadi lengkaplah informasi yang disajikan oleh Gelaran ASRY ini.
Walaupun yang disuguhkan lebih banyak bersetting Yogya, namun buku ini sangat representatif untuk dijadikan referensi mengingat Yogya dianggap sebagai barometer seni rupa Indonesia.  Meski berbentuk almanak, yang biasannya hanya menyajikan kronologi suatu peristiwa dalam  kurun waktu tertentu, kenyataannya Gelaran ASRY ini berbeda sekali dengan buku almanak kebanyakan. Di sana banyak sekali terangkum entri yang bervariasi. Bahkan penerbitnya sendiri menyebut buku ini adalah almanak plus karena teknik penyajiannya menggabungkan beberapa model: Ensiklopedia, Kamus, Kronik, Apa dan siapa, katalog maupun seperti tampilan Yellow pages (Nama dan Alamat). Bisa dikatakan buku ini merupakan bank data seni rupa Yogyakarta.
Dengan teknik penyajian yang beragam ini kita bisa mencari istilah dengan cepat, karena penyajiannya model kamus, apabila kita ingin mengetahui tokoh seni rupa pun kita tidak kesulitan karena dengan menggunakan teknik penyajian apa dan siapa, buku ini pun bisa menjawab keingintahuan kita. Bahkan yang lebih menarik lagi  adalah bagaimana dengan lihainya buku ini mampu memberikan penjelasan ringkas terhadap pokok bahasan tertentu yang berkaitan dengan dunia seni rupa karena teknik penyajiannya yang sangat ensiklopedis.
Namun yang lebih banyak menjadi bahasan di buku ini adalah perjalanan proses kreatif seniman yogyakarta yang terangkum secara kronologis mulai dari Januari 1999 sampai Desember 2009. mulai dari pameran, seminar, obituari seniman, lelang  maupun artikel yang termuat di suratkabar terangkum rapi dan berurut per tanggal.
Masih ada lagi kelebihan dari gelaran ASRY ini, yaitu memuat karya-karya senirupa dari seniman-seniman  Yogyakarta . Dimulai dari sang maestro Affandi, Joko Pekik sampai seniman seniman muda yang saat ini karyanya banyak meramaikan balai lelang seni dalam negeri maupun manca Negara di antaranya Jumadil Alfi, I Nyoman Masriadi, Alit Sembodo dan teman-teman seangkatannya. Dan semua karya yang dimuat tersebut disajikan dengan berwarna. Dalam hal ini Gelaran ASRY oleh penerbitnya diharapkan bisa menjadi sebuah galeri tanpa dinding.
Akhirnya, dengan sedikit kekurangan, karena lebih banyak mengulas dunia seni rupa ‘lokal’ (Yogyakarta), semoga buku ini bisa menjadi oase yang bisa menghapus dahaga kita akan referensi yang komprehensif di bidang seni rupa. Semoga.
Peresensi: Agus Buchori
Penikmat Budaya Rupa
Tinggal di Paciran, Lamongan