JUDUL : THE GEOGRAPHY OF BLISS: KISAH SEORANG PENGGERUTU YANG BERKELILING
DUNIA MENCARI NEGARA YANG PALING MEMBAHAGIAKAN.
PENGARANG : Eric Weiner
PENERJEMAH : M. Rudi Atmoko
PENERBIT :
Qanita. Bandung
CETAKAN : Cetakan pertama, Februari 2014
TEBAL : 532 halaman
ISBN :
978 602 1637 22 7
‘Kebahagiaan
adalah hasil interaksi social. Tidak ada kebahagian manusia yang didapat dalam
kesendirian’. – Karma Ura, Cendekiawan Bhutan.
Apakah kebahagian orang satu dengan lainnya
mempunyai rasa yang sama di benak orang satu dan lainnya. Sejumlah pertanyaan
yang membuat seorang Eric Weiner, seorang mantan reporter New York Times dan National Public Radio (NPR) bepergian untuk
mencari tempat paling membahagiakan di dunia.
Sejumlah Negara menjadi tujuan perjalanannya
untuk mendapat jawaban dari pergolakan batinnya tentang tempat paling
membahagiakan di dunia. Ada sepuluh Negara dari berbagai latar belakang budaya
yang menjadi persinggahannya. Di antara negara-negara tersebut adalah Belanda,
Swiss,Bhutan, Qatar, Islandia, Moldova, Thailand, Britania Raya, India, dan
Amerika.
Saya penasaran, bagaimana kalau menghabiskan
waktu selama satu tahun dengan melakukan perjalanan mengelilingi dunia, mencari
tempat-tempat yang terkenal karena kekacauannya, tetapi justru itu adalah
tempat-tempat bahagia yang tidak digembar-gemborkan? Tempat-tempat yang tak
diragukan lagi mempunyai satu atau beberapa bahan yang kita anggap sangat
penting untuk hidangan kebahagiaan sejati: di antaranya adalah uang ,
kesenangan, spiritualitas, keluarga, dan cokelat. Bagaimana jika Anda tinggal
di Negara yang luar biasa kaya dan tak seorang pun membayar pajak? Bagaimana
jika Anda tinggal di Negara tempat kegagalan adalah sebuah pilihan? Bagaimana
jika Anda tinggal di Negara yang begitu demokratis sehingga Anda memberikan hak
pilih sampai tujuh kali dalam setahun?
Bagaimana jika Anda tinggal di Negara tempat pemikiran yang berlebihan dihalangi? Apakah dengan itu
anda akan bahagia?(hal. 16) .
Itulah sekumpulan pertanyaan di benak Eric Weiner yang membuatnya berkelana ke
beberapa Negara hanya untuk mencari kebahagiaan. Dan apakah mereka memang betul-betul merasakan dengan apa yang disebut kebahagiaan itu.
Belanda adalah Negara pertama yang ia
singgahi. Dengan kondisi toleransi
begitu tinggi yang dimiliki oleh orang
Belanda, Eric malah merasakan
ketidaknyamanan. Ketidaknyamanan yang muncul dari rasa ketidakpedulian orang Belanda akibat toleransi yang begitu tinggi terhadap apa-apa yang dilakukan oleh
orang lain. Eric merasakan dengan
situasi tersebut dirinya akan mudah untuk berbuat menyimpang karena tidak
adanya kontrol sosial masyarakat.
Negara berikutnya adalah Swiss yang cukup
konvensional dalam mengungkapkan kebahagiaannya. Mereka tidak pernah berlebihan
dalam mengekspresikan kebahagiaan. Conjoyment
adalah istilah yang diciptakan Eric
untuk orang Swiss dalam mengekspresikan kebahagiaan yang kalau diartikan adalah
merasa gembira sekaligus tenang. Tentunya kita sendiri akan kesulitan
merasakannya kalau kita sendiri tidak pernah bersinggungan dengan orang Swiss
secara langsung. Sedangkan deskripsi yang diberikan oleh Eric sendiri masih
dangkal dan pastinya akan membuat pembaca meraba-raba seperti apakah kondisi Conjoyment itu.
Dari perjalanannya tersebut ternyata ada
macam-macam penyebab kebahagiaan sebuah Negara selain di kedua negara di atas
misalnya, di negara petrodollar,
Qatar, uang bisa menjadikannya negara yang berbahagia. Sedangkan di India
bagaimana orang bisa menemukan kebahagiaan hanya dengan menjadi murid spiritual
seorang Guru, tokoh agama Hindu.
Bahkan yang lebih mengherankannya adalah
tetangga kita, Thailand, di mana di sana
kebahagiaan didapatkan dengan cara tidak berfikir dalam bertindak, aneh bukan?
Ya itulah sebagian hasil pemetaan Eric akan kebahagiaan yang terjadi dari
beberapa negara yang telah dijadikan obyek observasinya.
Melihat sekilas buku ini jelas akan membuat
orang mengira ini adalah buku travelling.
Namun, apakah ini sebuah buku travelling? Ya, dengan tegas dinyatakan
oleh penulisnya sendiri, tapi tidak
sebagaimana buku perjalanan biasa. Eric menyatakan ini adalah buku perjalanan
ide ide karena sebenarnya perjalanannya bukan semata-mata untuk melihat
tempat-tempat eksotik suatu tempat akan
tetapi lebih pada sebuah perjalanan
untuk mencari bahan-bahan utama yang
menjadikan mengapa sebuah tempat terlihat
lebih membahagiakan daripada tempat lainnya? Dan bagaimana pula lingkungan suatu
tempat mempengaruhi timbulnya rasa kebahagiaan pada tempat tersebut.
Seperti kata kata yang selalu terngiang di
benak Eric, ketika mengakhiri perjalanannya, yang ia dapatkan dari Karma Ura, cendekiawan Bhutan, bahwa kebahagiaan
seratus persen bersifat relasional karena tidak ada yang namanya kebahagiaan
pribadi.
At
last, but not least sebagaimana
yang kita yakini dalam agama kita masing-masing, kebahagiaan akan diperoleh dengan cara
berbagi dengan sesama. Bukan begitu? Selamat membaca!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar