JUDUL : REKAYASA FIKSI (Bagaimana cara
Fariz menulis lagu)
PENGARANG : FARIZ RM
PENERBIT : REPUBLIKA
CETAKAN : I JUNI 2009
TEBAL : viii+216 Halaman
Baru kali ini, sepanjang hidup, saya menulis sebuah komposisi lagu
tanpa bantuan alat musik. Saya membayangkan bilah-bilah ‘keyboard’ seolah ada
dihadapan saya, pura-pura menekan tuts tertentu dan menggaungkan bunyi nada
tertentu, yang kemudian saya transfer notasi di buku partitur. Mulanya
canggung, akan tetapi dorongan inspirasi dengan setting luar biasa yang tanpa
sengaja saya temukan itu seolah menjadi kekuatan yang membangun keyakinan pada
diri saya bahwa saya mampu menyelesaikan wujud komposisi yang penjiwaanya
begitu saya kenal di dalam hati dan pikiran.
Kutipan di atas adalah pengakuan Fariz RM tentang bagaimana ia menggubah
komposisi lagunya yang terkenal, Barcelona .
Lagu yang sangat terkenal di era 80-an itu, ternyata digubah oleh Fariz
RM hanya dengan cara menuliskan notasi lagunya dalam buku partitur-sama sekali
tanpa menggunakan alat musik- luar biasa!
Inilah salah satu isi buku yang
ditulis oleh Fariz RM, yang berjudul REKAYASA FIKSI, yang secara keseluruhan
memuat 20 lagu hits dari Fariz RM. Melalui bukunya ini Fariz mencoba
merekonstuksi ulang setiap kenangannya dalam melahirkan sebuah komposisi lagu
yang ia gubah. Secara detail, Fariz menerangkan sisi ekstrinsik yang
mempengaruhi proses terjadinya lagu-lagunya, mulai dari latar, tokoh, maupun
kisah-kisah yang melatarbelakangi isi cerita dari lagu yang dibuatnya.
Tentunya sangat menarik bagi kita dapat mengetahui proses kreatif seorang Fariz RM Sebagai seorang musisi serba
bisa Indonesia, yang oleh pengamat musik dianggap sebagai perwujudan generasi
emas musisi Indonesia bersama Dedi Dhukun, Dian Permana Putra, Adhi M.S. dan Erwin
Gutawa. Di era 80-an mereka memberi warna yang berbeda terhadap blantika musik
pop Indonesia yang didominasi oleh aliran musik ‘cengeng’ yang diwakili oleh
Betharia Sonata dkk.
Di samping menyajikan 20 lagu-lagu
hits dari Fariz, buku ini juga menyajikan perjalanan hidup fariz RM mulai dari
kecil hingga ia terjun ke dunia musik. Seperti yang diakuinya, bahwa sejak
kecil Fariz memang sudah bercita-cita menjadi musisi. Pada saat itu, cita-cita
tersebut sungguh aneh bagi sebagian orang tua yang lebih banyak menghendaki
anak-anaknya menjadi ekonom, dokter dan ilmuwan yang lain asalkan bukan musisi. Namun, bagi Fariz, cita-cita
tersebutlah yang selalu terlintas dibenaknya setiap kali ditanya oleh orang
tuanya maupun oleh teman-temannya.
Persinggungan Fariz dengan dunia musik sebenarnya dimulai sejak ia balita
di mana setiap kali ibunya selesai memandikannya pasti ibunya akan meletakkan
dia dipangkuannya sambil memainkan tuts-tuts piano. Keadaan itulah yang
akhirnya, tanpa disadari, telah menstimulus sense of music Fariz RM. Bahkan, ketika menjelang remaja Fariz
diikutkan les piano klasik oleh ibunya. Keadaan inilah yang membuat Faris ketika
remaja sangat dikagumi oleh teman sekolahnya berkenaan dengan ketrampilannya
dalam bermain musik.
Ketika lepas masa SMA Faris pindah ke Bandung karena ia diterima di Fakultas Seni Rupa dan Desain
ITB. Di Bandung inilah Faris merasa bahwa idealismenya dalam bermusik semakin
berkembang berkat pergaulannya dengan seniman-seniman Bandung yang penuh dengan ide-ide kreatif dan
mendobrak kemapanan. Salah satu seniman Bandung yang banyak
menginspirasinya ialah almarhum Harry Roesli.
Namun, seperti yang diakuinya, sosok yang sangat berpengaruh ketika ia memutuskaan untuk menekuni dunia musik
sebagai jalan hidupnya adalah almarhum Chrise. Dari Chrise inilah Fariz pertama
kali mendapat tawaran untuk turut serta dalam mengerjakan proyek album musik
soundtrack film Badai Pasti Berlalu yang sedang dikerjakan oleh Chrise. Pada saat
itu, Faris diminta untuk menjadi additional
player, yaitu posisi sebagai pemain
drum. Dan dari Chrise inilah Faris memperoleh nama beken yang membuat ia malang melintang di blantika musik, yaitu: Faris RM.
Kehadiran buku ini, menurut Faris, hanyalah wujud pertanggungjawabannya sebagai makhluk
yang dikaruniai oleh Sang Pencipta dengan bakat menggubah lagu. Karenanya, ia
ingin membaginya dengan orang lain. Ia
berharap penggemarnya dapat merasakan perasaan yang sama dalam menghayati
lagunya. Dan untuk mewujudkan keinginan
tersebut, Faris menuliskan 20
hits-hitsnya dalam bentuk partitur lagu, yang dalam penulisan partiturnya ia
dibantu oleh Irsa Destiwi, yang oleh Fariz dianggap sangat mahir di bidang
notasi balok.
OLEH : AGUS BUCHORI
STAF PERPUSTAKAAN
BADAN PERPUSTAKAAN DAN ARSIP DAERAH KAB. LAMONGAN

Tidak ada komentar:
Posting Komentar