Kamis, 09 Maret 2017

Buku Itu Guru yang Sabar

Membaca membuat seseorang sejenak lupa. Lupa di mana ia berada dan kadang tak jarang kita seolah hadir di antara kata kata.

Di antara kata kata itulah kita berdialog bagai guru dan murid. Kadang kita protes dengan apa yang kita baca. Ia pun diam tak protes balik.

Namun selalu ada informasi baru bila kita membaca buku. Informasi yang bisa memperkaya isi qalbu dan  membuat kita selalu rindu dengan sebuah buku.

Bagi kita yang selalu haus ilmu buku seolah guru yang telaten dan sabar melayani rasa ingin tahu kita. Saat sedih, marah, atau biasa saja mental kita buku akan tetap diam melayani.

Jadikan buku sebagai sahabat diwaktu luang. Anggaplah sebagai guru yang penyayang. lambat laun ia akan memberi kita dengan impian impian baru yang membuat gairah hidup kita selalu baru.

Mulailah dari buku yang isinya sesuai minat kamu. Jangan berhenti, teruslah berinteraksi dengan buku karena ia adalah guru yang selalu kau rindu. Pada akhirnya.

Rabu, 23 Maret 2016

Gambaran Interaksi Muhammadiyah dan NU dalam Novel Kambing dan Hujan




Judul               : Kambing dan Hujan
Penulis            : Mahfud Ikhwan
Penerbit          : Bentang (PT Bentang Pustaka) Yogyakarta
Cetakan          : Mei 2015
Tebal               : vi+374 hlm; 20,5 cm
ISBN               : 978-602-291-027-5

Benturan budaya sudah sering menjadi bumbu penyedap dalam cerita fiksi. Namun bagaimana kalau  yang menjadi bumbu adalah friksi dalam interaksi sosial antara dua ormas terbesar di Indonesia; Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Tentunya ini sangat rawan untuk diperbincangkan namun dalam jagad dunia fiksi- baca sastra, semua yang tidak mungkin menjadi mungkin karena kenyataan dan rekaan dalam fiksi berkelindan mesra dalam sebuah teks yang bebas untuk ditafsirkan.

Dalam Novel kambing dan hujan karangan Mahfud Ikhwan ini,  konflik diawali dengan keinginan Miftahul Abrar dan Nurul Fauzia untuk menikah dan masing masing harus  meminta persetujuan kedua orang tuanya. Dari sini semua kompleksitas cerita bermula. Keduanya adalah anak dua tokoh penting  di  dusun Centong  yang masing masing menjadi pengurus Masjid Utara dan Masjid Selatan dan di kedua mesjid tersebut adalah perwujudan dua ormas besar di negeri ini yaitu Muhammadiyah dan NU. Iskandar sebagai orang tua Mif, panggilan Miftahul Abrar adalah pengurus Masjid Utara yang berafiliasi ke  Muhammadiyah yang mengklaim sebagai  Islam pembaruan dan Muhammad Fauzan ayah dari Fauzia adalah pengurus Masjid Selatan yang berafiliasi ke  NU yang dianggap sebagai Islam tradisionalis.

Ternyata tanpa sepengetahuan Mif dan Fauzia kedua orangtua yang akan berbesanan ini meskipun berbeda organisasi, sebenarnya keduanya ini adalah sahabat di waktu kecil. Bahkan tanpa sepengetahuan kedua sejoli yang hendak menikah  ini,  ternyata ibu fauziah adalah gadis yang dulu sempat berpacaran dengan bapaknya mif. Hanya karena berbeda golongan saja  bapaknya mif urung menikah dengan ibunya fauzia.

Konflik antara muhammadiyah dan NU yang disodorkan dalam novel ini memang sebagaimana konflik yang terjadi  di tataran akar rumput yang selama ini terjadi pada kedua organisasi ini. Perdebatan antara Qunut dan tidak Qunut dalam shalat subuh, jumlah rakaat dalam tarawih maupun ritual kebudayaan lainnya semisal syukuran sedekah bumi dan masalah dua adzan dalam pelaksanaan shalat jumat. Penggambaran konflik dua ormas keagamaan terbesar di Indonesia  pada novel ini yang mengambil setting sebuah kampung kecil di pantai utara Lamongan berbatasan dengan Kabupaten Tuban  ini seolah menjadi kaca benggala bagaimana interaksi kedua ormas tersebut selama ini berlangsung dan mewarnai kehidupan agama kedua Ormas ini di Indonesia. 

Novel ini seolah mengkritik bagaimana konflik yang terjadi pada kedua ormas tersebut sebenarnya hanyalah berkutat pada hal hal yang bukan prinsipil dalam sebuah ritual keagamaan karena apa yang kedua ormas ini jalani  keduanya bisa dibenarkan karena masing masing mengacu pada lima mazhab besar, Sunni. Sebagai organisasi yang sama-sama ahlussunah mungkin perdebatan yang terjadi hanyalah sebuah riak kecil karena banyak faktor-faktor lain  selain factor  agama yang membuat perdebatan ini lestari pada tataran akar rumput kedua organisasi.   

Akhirnya, apakah masing masing menerima  jalan hidup yang hendak ditempuh anak-anaknya atau  harus memegang teguh garis organisasi yang mereka yakini. Akankah keluarga mereka menjalankan ritual berbeda dalam satu rumah jika keduanya harus berbesanan. Bagaimana para jamaah masjid utara dan jamaah masjid Selatan akan bersuara melihat apa yang telah mereka jalani. Apakah demi cinta anak anak mereka, mereka harus rela melakukan kompromi meski itu melawan garis garis organisasi yang sudah selama ini mereka perjuangkan hingga menjadi sebuah trade mark yang diyakini banyak orang. Selamat membaca!

Rabu, 22 April 2015

MEMBEDAH CARA JITU MEMPEROLEH KEBAHAGIAAN.



Banyak orang bertanya-tanya bagaimana cara memperoleh kebahagiaan. Bagi penulis Awang Surya hanya dengan banyak – banyak  bersyukur dan beramal itu cukup mendekatkan seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan. itulah yang dikatakan oleh Awang Surya dalam acara bedah bukunya, Bahagia Tanpa Menunggu Kaya, yang diselenggarakan bekerja sama dengan Badan perpustakaan dan Arsip Daerah (Baperpus Arsda) Kabupaten Lamongan dan Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Lamongan pada Rabu 11 Februari 2015 di Mushola Al Quro Baperpus Arsda.

Dikatakan oleh Awang Surya bahwa buku Bahagia Tanpa Menunggu Kaya ini merupakan buah kontemplasinya selama empat puluh tahun karena buku ini ditulisnya saat ia berumur empat puluh tahun. Sebuah angka yang dianggap sebagai  titik kematangan seseorang dalam menjalani hidup. Selain itu Awang juga banyak menyitir bahwa ketidakbahagiaan yang dirasakan seseorang sebenarnya karena kekosongan ruhani masyarakat di tengah kepungan gaya hidup komsumtif. Orang hanya perlu banyak mensyukuri apa yang telah diberikan oleh sang pencipta untuk mengekang keinginan keinginannya yang sebenarnya sangat semu dan relatif.

Acara bedah buku yang dihadiri oleh beberapa siswa sma dan mahasiswa di Lamongan ini menjadi semakin riuh dengan kehadiran beberapa murid kursus menulis FLP Lamongan. Bahkan, di awal acara FLP Lamongan sempat memberikan tantangan dengan mengadakan lomba menulis dadakan dengan tema kebahagiaan  sehingga pada saat acara dialog di akhir acara bedah buku tersebut  peserta yang hadir selain  bertanya tentang isi buku juga ada yang bertanya mengenai kiat kiat menulis pada Awang Surya.
Diharapkan ke depan dengan diadakannya bedah buku ini, semakin banyak kebahagiaan yang dirasakan oleh masyarakat Lamongan dan juga semakin banyak penulis yang lahir dari Lamongan sebagaimana Awang Surya yang merupakan putra Lamongan Asli. Selamat membaca.