Sabtu, 27 Juli 2013

Ebook

Ebook atau buku virtual. Paperless book. Atau apalagi namanya telah memberikan kemudahan bagi para penggemar buku. Di tengah gencarnya gadget yang multi fungsi untuk menggapai informasi sehingga sedikit mengabaikan keintiman seseorang dengan buku konvensional.

Dengan adanya aplikasi pembaca ebook yang terintegrasi di smartphone sedikit membantu pecinta buku untuk tidak memutus hubungan dengan buku. Sebagai bibliomania, kemudahan gadget tidak akan serta merta membuat mereka berpaling  dalam lautan katakata. Walaupun bau kertas tak hadir ketika membaca ebook, namun keheningan masih terasa hadir lewat layar elektronik.

Minggu, 09 Juni 2013

MENARIK PEMUSTAKA KE PERPUSTAKAAN




Beberapa kiat yang perlu dilakukan pengelola perpustakaan untuk menarik pemustaka berkunjung ke perpustakaan.

1. Pemasyarakatan Gerakan Peningkatan Minat Baca
Gerakan peningkatan minat baca merupakan unsur penting yang perlu mendapat perhatian serius di semua kalangan. Minat baca tidak bisa muncul tiba-tiba tapi harus dipupuk sejak dini dan perlu upaya-upaya yang maksimal untuk mewujudkannya.
Seperti yang dilansir oleh Taufik Ismail, Bahwa Negara kita adalah bangsa dengan minat baca yang rendah di antara bangsa-bangsa di dunia. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam proses peningkatan minat baca karena bangsa kita bangsa yang lebih familiar dengan budaya tutur.
Beberapa cara yang bisa digunakan untuk meningkatkan minat baca masyarakat ialah:
a. Sosialisasi bacaan ke keluaraga
Peningkatan minat baca bisa dimulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga. Dari keluarga inilah diharapkan orangtua mulai menanamkan kecintaan anak-anaknya untuk mencintai bacaan, misalnya dilakukan dengan membacakan buku cerita pada anak-anak menjelang tidur. Apabila dilakukan secara kontinyu, kegiatan ini lambat laun akan menggugah anak untuk membaca sendiri.
Peran perpustakaan di sini bisa dilakukan dengan jalan mengadakan lomba mendongeng orang tua kepada anaknya.
Ketika kebiasaan membaca sudah tertanam di setiap keluarga maka kebutuhan akan bahan bacaan akan meningkat dan diharapkan mereka akhirnya akan mencari tempat sumber koleksi bacaan. Dari sinilah perpustakaan diharapkan untuk menangkap kegelisahan masyarakat yang haus akan bacaan.
b. Mengundang anak TK/PAUD Kunjungan ke Perpustakaan
Kegiatan ini bisa berupa; mewarnai, membaca, dan bisa juga melihat film yang diputar di perpustakaan. Aktivitas ini secara tidak langsung bisa memberikan pengalaman kepada anak-anak mengenai aktivitas perpustakaan. Anak-anak secara tidak langsung akan mengamati perilaku pengunjung dan petugas perpustakaan ketika mereka berada di ruang perpustakaan. Dari sini diharapkan mereka tidak canggung lagi ketika harus berkunjung sendiri ke perpustakaan kelak.
c. Mengadakan lomba membaca naskah sastra
Lomba membaca naskah sastra merupakan salah satu kegiatan yang dapat merangsang minat baca. Ini disebabkan karena masing-masing individu mempunyai selera yang berbeda. Mereka akan memilih dan memilah jenis bacaan yang sesuai dengan perasaannya.
Dari beberapa poin di atas diharapkan nantinya bisa tercipta kebiasaan membaca di masyarakat sehingga tercipta suatu kondisi masyarakat pembelajar sepanjang hayat ( long life education ).
2. Promosi Perpustakaan
Promosi perpustakaan adalah kegiatan pengenalan sosialisasi mengenai seluk beluk dunia perpustakaan. Tujuan dari promosi perpustakaan ini adalah:
· Untuk menginformasikan kepada pemakai layanan dan program kegiatan yang ada di perpustakaan;
· Untuk menbangkitkan minat dan keinginan pemakai terhadap perpustakaan dan layanannya;
· Untuk memelihara kesadaran pemakai terhadap layanan perpustakaan;
· Untuk meningkatkan penggunaan perpustakaan.
Jika melihat dari tujuan promosi perpustakaan tersebut maka diperlukan cara-cara yang jitu sebagaimana cara-cara promosi di dunia usaha supaya promosi perpustakaan bisa tepat sasaran dan menghasilkan hasil yang optimal.
Beberapa Sarana Promosi
1. Menggunakan media elektronik
a. Media televisi
Media televisi sangat efektif dipakai untuk memromosikan suatu produk barang atau jasa karena jangkauannya yang luas dan juga karena bentuk medianya yang audio visual.
b. Internet
Yaitu melalui penggunaan website yang menarik bagi perpustakaan yang bersangkutan akan memancing user untuk mendatangi perpustakaan tersebut. Website ini bisa menjadi perwakilan perpustakaan di dunia maya. Di sini bisa ditunjukkan seluk beluk perpustakaan mulai dari cara pendaftaran, Gedung, daftar koleksi, dan informasi lainnya.
c. Radio
Bagi perpustakaan lokal bisa memanfaatkan media radio untuk perpustakaannya. Mengingat radio adalah media audio maka bentuk atau isi iklannya dititik beratkan pada informasi-informasi insidental. Misalnya program perpustakaan yang berlangsung hanya mingguan.
2. Media Cetak
a. Surat kabar
Media surat kabar ini bisa dipakai untuk mendisplaikan buku-buku terbaru atau buku-buku yang sedang best seller di pasaran dan sudah dimiliki oleh perpustakaan.
b. Majalah
Majalah bisa dipakai untuk menampilkan profil singkat perpustakaan serta apa saja keunggulan maupun kekhasan sebuah perpustakaan yang bersangkutan yang tidak dimiliki oleh perpustakaan lainnnya.
c. Brosur
Brosur sangat efektif dipakai untuk memberikan informasi yang sifatnya beralur misalnya, cara menjadi anggota, di situ ditunjukkan prosesnya mulai dari datang ke perpustakaan sampai mendapat kartu anggota hinnga terjadi proses transaksi meminjam buku.
3. Pameran
Pameran buku merupakan ajang yang bagus untuk memancing masyarakat datang ke perpustakaan. Dengan rajin mengikuti pameran buku maupun mengadakan pameran sendiri akan membuat perpustakaan dikenal secara langsung oleh masyarakat.

JK. Rowling A Honestly Writer (Penulis yang Tulus)


" Saya menulis cerita Harry Potter sebenarnya tidak khusus kutujukan untuk konsumsi anak-anak, namun saya menulis absolutly for my self" begitulah pegakuan joanne Kathleen Rowling atau yang lebih dikenal JK Rowling penulis buku Harry Potter seperti yang dikutip oleh Marc Saphiro.

JK. Rowling "THE WIZARD BEHIND HARRY POTTER, ANAUTHORIZED BIOGRAPHY " yang ditulis oleh Marc Saphirro dan diterbitkan oleh St. Martin's Griffin, New York ini banyak menceritakan kisah hidup JK Rowling dan Latar belakang proses kelahiran Harry Potter  dan Dunia sihirnya.

Sebagai penulis, seperti halnya kebanyakan penulis sukses lainnya, JK Rowlingsejak kecil memanga suka menulis. Dan menulisnya sendiri merupakan cara dia menghibur dirinya. Pada usia anak-anak ia sudah membuat cerita imajinatif yang diberinya judul RABBIT AND MISS BEE. Cerita itu ia tulis dengan tangan pada buku hariannya kemudian ia tunjukkan pada saudaranya untuk dibaca. disamping suka menulis ia juga sangat gemar membaca seringkali waktunta banyak dihabiskan untuk menghadapi berlembar-lembar halaman buku dari pada bermain main.


Ketika beranjak dewasa ia menikah dan kemudian pernikahannya kandas ketika ia memperoleh anak satu. Pada saat itulah satu fase sulit dalam  kehidupannya bermula karena iaharus menjadi single parent. di tengah-tengah kesulitan inilah ada Blessing in disguisse. Ditengah kesukaannya meluangkan kesulitan nogkrong di kafe sendirian ia yang gemar menulis mulai membuat cerita yang kelak akan mendunia.

dengan membawa kertas dan pulpen ia habiskan waktu di kafe dengan menulis sepanjang waktu untuk menghibur dirinya.

"Saya tidak bisa membayangkan orang bisa menikmati membaca karay saya melebihi kenikmatan ketika saya sedang menuliskannya," itulah salah satu pengakuannya.

Melihat perjalanan hidup JK. Rowling kita akhirnya bisa lebih memaknai akan sebuah ketulusan dalam menjalankan aktifitas. Dan sekali lagi ketulusan pasti akan menyebabkan imbas positf bagi yang menjalankannya. Selamat membaca.

Kamis, 06 Juni 2013

PELAYANAN MAKSIMAL KEPADA DUA TIPE PEMUSTAKA DENGAN BERBASIS LEARNING COMMUNITY BUILDING UNTUK MENUJU PERPUSTAKAAN NASIONAL IDEAL.


Pendahuluan
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini berlangsung sangat cepat . Keberadaan komputer sebagai sarana bantu tenaga manusia dalam mengatasi pekerjaannya semakin tak terelakaan mengingat beberapa keunggulan yang telah ditawarkannya termasuk juga sebagai media penyampai informasi. Komputer telah mampu memberikan kecepatan dan kemudahan bagi para pencari informasi. Internet adalah aktivitas yang dihasilkan dari kemajuan teknologi infomasi ini. Dengan internet, seseorang bisa saling terhubung satu sama lain tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Dunia sudah menjadi desa global (Global Village) di mana batas batas wilayah sudah semakin kabur, dengan kata lain intenet sudah mampu mendekatkan manusia satu dengan yang lainnya sehingga mereka satu sama lain bisa saling mengetahui kejadian di belahan dunia yang lain dengan cepat. Apa yang terjadi di belahan dunia lain bisa diketahui saat itu juga.

Paparan di atas menunjukan telah terjadinya suatu tatanan masyarakat informasional. Sebagaimana yang telah dijelaskan Alvin Toffler yang dikutip oleh Sondang P Siagian, bahwa masyarakat informasional adalah masyarakat yang dipenuhi dengan informasi yang melimpah, bertipe multimedia, cepat dan dapat diakses di mana saja dan kapan saja tak terbatas ruang dan waktu. Dengan kondisi masyarakat informasional yang demikian secara tidak langsung juga turut mengubah pola perilaku para pengguna informasi dalam menyikapi cara penyajian informasi yang semula langka, lambat dan tekstual serta statis perkembangannya berubah menjadi informasi yang melimpah, cepat, dan mempunyai mobilitas tinggi.

Di tengah perkembangan masyarakat informasional yang bermobilitas tinggi, baik informasinya maupun pengguna informasinya, Perpustakaan Nasional sebagai salah satu lembaga penyedia informasi dan pengetahuan juga harus mengubah paradigma layanan yang selama ini dijalankan. Hal ini dikarenakan seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang telah memunculkan dua tipe pengguna yaitu pemustaka langsung yaitu pemustaka yang menggunakan koleksi perpustakaan dengan cara datang langsung ke gedung perpustakaan dan pemustaka virtual yaitu pemustaka yang menggunakan koleksi perpustakaan tidak secara langsung mendatangi perpustakaan melainkan menggunakan sarana teknologi informasi dan komunikasi yaitu internet.

Dua tipe pemustaka inilah yang menjadi obyek pelayanan jasa Perpustakaan Nasional sehingga tercipta perpustakaan yang ideal yang dapat melayani kebutuhan dua tipe pemustakanya tersebut secara maksimal. Walaupun kemudahan mesin pencari ( search engine ) di internet dalam menyediakan informasi sangat menarik bagi pencari informasi namun keberadaan perpustakaan tetaplah selalu dibutuhkan oleh penggunanya. Ini dikarenakan informasi yang disediakan oleh perpustakaan kebanyakan berupa informasi yang berbasis pustaka dan dalam proses mengubahnya menjadi pengetahuan memerlukan proses internalisasi yang panjang. Sedangkan yang diberikan oleh internet kebanyakan informasi yang siap pakai (instant) dan tidak perlu kajian mendalam untuk memahaminya.

Strategi Perpustakaan Nasional Untuk Memenuhi Kebutuhan Pemustaka Konvensional Maupun Pemustaka Virtual Sebelum melangkah lebih jauh mengenai strategi pengelolaan Perpustakaan Nasional untuk memenuhi dua tipe pemustaka di atas ada baiknya kita tengok pendapat James. J. Stapleton yang menguraikan langkah langkah yang diperlukan seseorang untuk mengubah informasi menjadi pengetahuan yang berguna, yaitu: 1. cari 2. dapatkan 3. evaluasi 4. susun 5. pahami 6. analisis 7. simpulkan 8. sebarkan 9. bertindaklah berbasis pengetahuan 10. pelihara dan gabungkan Dari sepuluh item yang diutarakan terlihat sebuah proses belajar mandiri yang harus dilakukan oleh seseorang agar bisa mengubah informasi menjadi pengetahuan.

Kesepuluh langkah tersebut adalah sebuah daur hidup pengetahuan yang siklusnya selalu berulang di mana pengetahuan yang tercipta merupakan sebuah informasi baru yang akan diproses lagi untuk menjadi pengetahuan yang baru. Gambar 1. Daur Hidup Pengetahuan Berdasarkan gambar di atas perpustakaan bisa mengambil peran sentral karena perpustakaan adalah sumber informasi sekaligus bisa menjadi tempat proses pengubahan informasi menjadi pengetahuan baru yang akan dikaji kembali sebagai informasi yang baru. Dari sinilah lahir tantangan sesungguhnya keberadaan lembaga perpustakaan bagaimana sebuah perpustakaan menjadi katalisator yang mempermudah proses daur hidup pengetahuan supaya bisa berlangsung terus menerus sehingga tercipta suatu kondisi masyarakat pembelajar sepanjang hayat (life long education).

Ada tiga elemen penting yang dapat membuat perpustakaan mempermudah pemustaka dalam proses mengubah informasi menjadi pengetahuan. Ketiga elemen tersebut hasil penyederhanaan dari enam elemen standar yang harus digunakan oleh perpustakaan yang diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan yaitu: 1. Standar Koleksi Perpustakaan 2. Standar Sarana dan Prasarana 3. Standar Pelayanan Perpustakaan 4. Standar Tenaga Perpustakaan 5. Standar Penyelenggaraan 6. Standar Pengelolaan keenamnya bisa kita sederhanakan menjadi tiga elemen yaitu;
1. Kelengkapan Koleksi
2. Kemudahan Akses
3. Smart Building Community (komunitas gedung pembelajaran)

 1.1 Kelengkapan Koleksi Koleksi perpustakaan sebagian besar adalah bahan pustaka hal ini mengingat informasi yang dikelola oleh perpustakaan adalah informasi yang berbasis pustaka. Agar koleksi bisa diakses oleh dua tipe pemustaka seperti yang tersebut di atas maka perlu diadakan alih media terhadap seluru khasanah koleksi tekstual menjadi koleksi digital (E book). Pengalihmediaan ini mutlak dilaksanakan karena koleksi tekstual diperuntukkan bagi pemustaka konvensional saja sedangkan koleksi hasil alih media ditujukan untuk pemustaka virtual di dunia maya (via internet). Perpustakaan Nasional sebagai perpustakaan deposit harus menginventarisir seluruh koleksi perpustakaan di daerah terutama untuk manuskrip kuno yang mengandung kearifan local agar bisa digunakan oleh pemustaka di seluruh nusantara dengan mengalihmediakan naskah tersebut kedalam bentuk digitalsehingga tujuan Perpustakaan Nasional untuk menjadi perpustakaan deposit bisa terlaksana.

 2.1 Kemudahan Akses Akan menjadi mubazir apabila kelengkapan koleksi tidak dibarengi kemudahan akses dari koleksi tersebut. Untuk itu diperlukan sebuah system pelayanan yang berbasis teknologi informasi (on line). Sistim Informasi Koleksi Pustaka (SIKP) yang mengelola pengkatalogan yang menghasilkan peta lokasi pustaka tekstual dan E book. SIKP ini bekerja secara online sehingga pemustaka virtual juga bisa mengakses informasi Perpustakaan Nasional yang berbentuk digital walaupun secara fisik, koleksi tersebut masih berada di Perpustakaan Nasional namun informasinya bisa diakses oleh pemustaka virtual tersebut. Selain itu SIKP juga dilengkapi sarana Tunjuk Silang (Cross Refferece) yang berkenaan dengan isi koleksi yang diakses misalnya, apabila yang sedang diakses oleh pemustaka adalah buku budaya maka tunjuk silangnya akan menunjukkan lokasi keberadaan benda-benda budaya yang ada dalam buku tersebut . Dalam hal ini SIKP bisa merujuk pada koleksi yang dimiliki oleh Museun Nasional ataupun Galeri Nasional yang menyimpan benda tersebut sehingga pemustaka akan lebih menghayati pengalaman belajarnya.

 3.1 Learning Community Building ( gedung komunitas pembelajar) Poin terakhir dari ketiga elemen pembentuk perpustakaan ideal adalah gedung. perpustakaan. Perpustakaan Nasional sebagai perpustakaan induk harus bisa menciptakan kondisi gedung perpustakaan yang bisa menjadi wadah bagi sebuah komunitas pembelajar yang berbasis pengetahuan. Hal ini diwujudkan dengan pemberian sarana-sarana pembelajaran di lingkungan Perpustakaan Nasional. Sarana pembelajaran itu bisa berupa beberapa sarana bermain kreatif yang berada di luar gedung, tempat riset/ruang baca disertai sarana untuk menulis, dan ruang audio visual. Gambar 2. Proses terciptanya perpustakaan ideal yang berorientasi 2 tipe pemustaka Penutup Kemajuan teknologi informasi memang tidak bisa dihindari. Perpustakaan sebagai bagian dari komunitas informasi juga dituntut harus bisa mengubah pola fikir (mindset) agar tidak tertinggal jauh dengan saudara sepupunya (internet). Era kecepatan dan kemudahan informasi baik tipe tekstual dan maupun digital, menuntut sebuah hadirnya perpustakaan yang ideal yang mampu mengimbanginya.

Perpustakaan Nasional sebagai perpustakaan pembina bisa mengambil langkah lebih dulu dengan melakukan langkah sebagai berikut:
 1. melengkapi koleksi dalam dua bentuk yaitu tekstual dan digital;
 2. memberikan sarana kemudahan akses informasi dengan membuat suatu sistim informasi koleksi kearsipan (SIKP);
 3. membangun suatu gedung yang dapat mendorong terciptanya suatu komunitas pembelajaran; Semoga arah menuju ke sana segera terlaksana. Amin.

 Daftar Pustaka
Ponti, Marisa. (2007). A LIS Collaboratory to Bridge The Research-Practice gap.
Library Manajement vol. 29 No. 4/5. 2008.
Siagian, Sondang P. (2003).Sistem Informasi Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara. Stapleton, James J. (2003) Executives Guide to Knowledge Manajemen: Puncak Keunggulan Kompetitif (alih bahasa: Emil Salim, S.H.). Jakarta: Erlangga. Suhardini, Dini. (2006).

Keberadaan Lembaga Perpustakaan dan Peranannya Dalam Rangka Meningkatkan Kualitas Kehidupan Masyarakat. Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia, 2006.

 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan. Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2008.

DI BALIK BUKU BIOGRAFI

Salah satu kesukaan saya adalah mengoleksi buku biografi atau otobiografi. Entah kenapa saya selalu ingin tahu rahasia dibalik perjalanan hidup seseorang hingga menjadi seperti yang kita kenal sekarang. 
Buku –buku yang saya koleksi tersebut tidak spesifik berlatar belakang bidang tertentu. Misalnya bidang politik atau bidang ekonomi atau bidang apalah. Biasanya aku hanya membaca biografi tokoh yang mempunyai sisi kreatifitas dalam hidupnya dan telah menjadi inspirasi banyak.
Kenapa buku biografi? Karena ada sisi menarik dari seseorang yang mungkin sama dengan kita sehingga kita bisa menajamkannya untuk keperluan hidup kita atau bisa mengabil hikmah perjalanan hidup sesorang. 
Ada sebuah proses dari hidup seseorang hingga enjadi seperti yang kita kenal. Bagaimana seseorang terbentuk tentunya ada jutaan anak tangga kehidupan yang harus ia lewati dan aku berharap ada salah satu anak tangga yang sama dengan kehidupanku. Kesuksesan tidak dilahirkan. Ada proses yang membentuknya dari kepingan kepingan yang mungkin pernah salah dan butuh perbaikan hingga terbentuk karakter seseorang. 
Proses yang tidak disadari namun seolah plot sebuah cerita yang mesti harus dijalani dengan sedikit improvisasi untuk menyempurnakannya. Dan itulah menariknya buku biografi, yang kadang kadang oleh tokohnya pun dirasa mengejutkan ketika membaca ceritanya.
karena sebenarnya arah hidupnya tidak pernah seperti yang ia bayangkan hingga menjadi seperti tokoh yang diceritakan pada buku biografi itu. Menarik bukan?

Senin, 03 Juni 2013

RAHASIA KREATIFITAS FARIZ RM



JUDUL              : REKAYASA FIKSI (Bagaimana cara Fariz menulis lagu)
PENGARANG  : FARIZ RM
PENERBIT        : REPUBLIKA
CETAKAN        : I JUNI 2009
TEBAL              : viii+216 Halaman

Baru kali ini, sepanjang hidup, saya menulis sebuah komposisi lagu tanpa bantuan alat musik. Saya membayangkan bilah-bilah ‘keyboard’ seolah ada dihadapan saya, pura-pura menekan tuts tertentu dan menggaungkan bunyi nada tertentu, yang kemudian saya transfer notasi di buku partitur. Mulanya canggung, akan tetapi dorongan inspirasi dengan setting luar biasa yang tanpa sengaja saya temukan itu seolah menjadi kekuatan yang membangun keyakinan pada diri saya bahwa saya mampu menyelesaikan wujud komposisi yang penjiwaanya begitu saya kenal di dalam hati dan pikiran.

Kutipan di atas adalah pengakuan Fariz RM tentang bagaimana ia menggubah komposisi lagunya yang terkenal, Barcelona. Lagu  yang sangat terkenal  di era 80-an itu, ternyata digubah oleh Fariz RM hanya dengan cara menuliskan notasi lagunya dalam buku partitur-sama sekali tanpa menggunakan alat musik- luar biasa!
Inilah salah satu  isi buku yang ditulis oleh Fariz RM, yang berjudul REKAYASA FIKSI, yang secara keseluruhan memuat 20 lagu hits dari Fariz RM. Melalui bukunya ini Fariz mencoba merekonstuksi ulang setiap kenangannya dalam melahirkan sebuah komposisi lagu yang ia gubah. Secara detail, Fariz menerangkan sisi ekstrinsik yang mempengaruhi proses terjadinya lagu-lagunya, mulai dari latar, tokoh, maupun kisah-kisah yang melatarbelakangi isi cerita dari lagu yang dibuatnya.
Tentunya sangat menarik bagi kita dapat mengetahui proses kreatif  seorang Fariz RM Sebagai seorang musisi serba bisa Indonesia, yang oleh pengamat musik dianggap sebagai perwujudan generasi emas musisi Indonesia bersama Dedi Dhukun, Dian Permana Putra, Adhi M.S. dan Erwin Gutawa. Di era 80-an mereka memberi warna yang berbeda terhadap blantika musik pop Indonesia yang didominasi oleh aliran musik ‘cengeng’ yang diwakili oleh Betharia Sonata dkk.
Di samping menyajikan 20  lagu-lagu hits dari Fariz, buku ini juga menyajikan perjalanan hidup fariz RM mulai dari kecil hingga ia terjun ke dunia musik. Seperti yang diakuinya, bahwa sejak kecil Fariz memang sudah bercita-cita menjadi musisi. Pada saat itu, cita-cita tersebut sungguh aneh bagi sebagian orang tua yang lebih banyak menghendaki anak-anaknya menjadi ekonom, dokter dan ilmuwan yang lain asalkan bukan  musisi. Namun, bagi Fariz, cita-cita tersebutlah yang selalu terlintas dibenaknya setiap kali ditanya oleh orang tuanya maupun oleh teman-temannya.
Persinggungan Fariz dengan dunia musik sebenarnya dimulai sejak ia balita di mana setiap kali ibunya selesai memandikannya pasti ibunya akan meletakkan dia dipangkuannya sambil memainkan tuts-tuts piano. Keadaan itulah yang akhirnya, tanpa disadari, telah  menstimulus sense of music Fariz RM. Bahkan, ketika menjelang remaja Fariz diikutkan les piano klasik oleh ibunya. Keadaan inilah yang membuat Faris ketika remaja sangat dikagumi oleh teman sekolahnya berkenaan dengan ketrampilannya dalam bermain musik.
Ketika lepas masa SMA Faris pindah ke Bandung karena ia  diterima di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Di Bandung inilah Faris merasa bahwa idealismenya dalam bermusik semakin berkembang berkat pergaulannya dengan seniman-seniman Bandung yang penuh dengan ide-ide kreatif dan mendobrak kemapanan. Salah satu seniman Bandung  yang banyak   menginspirasinya ialah almarhum Harry Roesli.
Namun, seperti yang diakuinya, sosok yang sangat berpengaruh ketika  ia memutuskaan untuk menekuni dunia musik sebagai jalan hidupnya adalah almarhum Chrise. Dari Chrise inilah Fariz pertama kali mendapat tawaran untuk turut serta dalam mengerjakan proyek album musik soundtrack film Badai Pasti Berlalu yang sedang dikerjakan oleh Chrise. Pada saat itu, Faris diminta untuk menjadi additional player, yaitu  posisi sebagai pemain drum. Dan dari Chrise inilah Faris memperoleh nama beken yang membuat ia malang melintang di blantika musik, yaitu: Faris RM.
Kehadiran buku ini, menurut Faris, hanyalah  wujud pertanggungjawabannya sebagai makhluk yang dikaruniai oleh Sang Pencipta dengan bakat menggubah lagu. Karenanya, ia ingin membaginya  dengan orang lain. Ia berharap penggemarnya dapat merasakan perasaan yang sama dalam menghayati lagunya. Dan untuk mewujudkan  keinginan tersebut, Faris menuliskan  20 hits-hitsnya dalam bentuk partitur lagu, yang dalam penulisan partiturnya ia dibantu oleh Irsa Destiwi, yang oleh Fariz dianggap sangat mahir di bidang notasi balok.  
Gaya penyajian buku ini pun  dilakukan oleh  fariz dengan cara yang sederhana.  Hal ini ditegaskan  oleh Fariz RM sendiri bahwa dia tidak bermaksud menjelaskan hal teknis dalam proses terciptanya sebuah lagu, tak lebih hanya  sekedar untuk berbagi pengalaman dengan penggemarnya, secara simple disertai dengan istilah-istilah sederhana. Dan yang lebih menambah keeksklusifan buku ini bagi pembacanya adalah, bagi kita yang bisa membaca notasi musik (not balok), sengaja dimanjakan oleh Fariz dengan disertakannya partitur lagu yang dibahasnya agar pembaca bisa memainkan lagu tersebut sesuai dengan nada yang diinginkan oleh Fariz RM. Selamat menikmati.
OLEH : AGUS BUCHORI
STAF PERPUSTAKAAN
BADAN PERPUSTAKAAN DAN ARSIP DAERAH KAB. LAMONGAN

DAN SEGALANYA TENTANG SENI RUPA



JUDUL           : Gelaran Almanak Seni Rupa Jogja 1999-2009
PENULIS       : Muhidin M. Dahlan dkk.
PENERBIT     : GELARAN BUDAYA, Yogyakarta, 2009
TEBAL           : 872 hlm.

Apakah anda seorang yang menggeluti dunia seni rupa dan merindukan referensi yang komprehensif tentang seni rupa? Bila anda mengiyakan pertanyaan saya maka anda layak gembira karena buku referensi yang mampu menjawab kegelisahan anda sudah muncul di belantika perbukuan Indonesia. Ya buku tersebut berjudul Gelaran Almanak Seni Rupa Yogya 1999-2009 (gelaran ASRY).
Dunia seni rupa sangatlah luas cakupannya walaupun bisa  kita sederhanakan hanya dua bidang yaitu seni murni dan desain-baik dua dimensi maupun tiga dimensi. Melalui Buku Gelaran ASRY ini kita bisa menelisik lebih dalam kedua cabang seni rupa tersebut tanpa takut kehabisan informasi yang kita butuhkan.  Di kategori seni murni; lukis, patung, dan komik tak luput dari pembahasan. Begitu pun di bidang desain mulai dari batik, keris, dan kriya juga sangat dalam dibahasnya. Disertai keterangan mengenai riwayat hidup para maestro-maestro dibidang tersebut, menjadi lengkaplah informasi yang disajikan oleh Gelaran ASRY ini.
Walaupun yang disuguhkan lebih banyak bersetting Yogya, namun buku ini sangat representatif untuk dijadikan referensi mengingat Yogya dianggap sebagai barometer seni rupa Indonesia.  Meski berbentuk almanak, yang biasannya hanya menyajikan kronologi suatu peristiwa dalam  kurun waktu tertentu, kenyataannya Gelaran ASRY ini berbeda sekali dengan buku almanak kebanyakan. Di sana banyak sekali terangkum entri yang bervariasi. Bahkan penerbitnya sendiri menyebut buku ini adalah almanak plus karena teknik penyajiannya menggabungkan beberapa model: Ensiklopedia, Kamus, Kronik, Apa dan siapa, katalog maupun seperti tampilan Yellow pages (Nama dan Alamat). Bisa dikatakan buku ini merupakan bank data seni rupa Yogyakarta.
Dengan teknik penyajian yang beragam ini kita bisa mencari istilah dengan cepat, karena penyajiannya model kamus, apabila kita ingin mengetahui tokoh seni rupa pun kita tidak kesulitan karena dengan menggunakan teknik penyajian apa dan siapa, buku ini pun bisa menjawab keingintahuan kita. Bahkan yang lebih menarik lagi  adalah bagaimana dengan lihainya buku ini mampu memberikan penjelasan ringkas terhadap pokok bahasan tertentu yang berkaitan dengan dunia seni rupa karena teknik penyajiannya yang sangat ensiklopedis.
Namun yang lebih banyak menjadi bahasan di buku ini adalah perjalanan proses kreatif seniman yogyakarta yang terangkum secara kronologis mulai dari Januari 1999 sampai Desember 2009. mulai dari pameran, seminar, obituari seniman, lelang  maupun artikel yang termuat di suratkabar terangkum rapi dan berurut per tanggal.
Masih ada lagi kelebihan dari gelaran ASRY ini, yaitu memuat karya-karya senirupa dari seniman-seniman  Yogyakarta . Dimulai dari sang maestro Affandi, Joko Pekik sampai seniman seniman muda yang saat ini karyanya banyak meramaikan balai lelang seni dalam negeri maupun manca Negara di antaranya Jumadil Alfi, I Nyoman Masriadi, Alit Sembodo dan teman-teman seangkatannya. Dan semua karya yang dimuat tersebut disajikan dengan berwarna. Dalam hal ini Gelaran ASRY oleh penerbitnya diharapkan bisa menjadi sebuah galeri tanpa dinding.
Akhirnya, dengan sedikit kekurangan, karena lebih banyak mengulas dunia seni rupa ‘lokal’ (Yogyakarta), semoga buku ini bisa menjadi oase yang bisa menghapus dahaga kita akan referensi yang komprehensif di bidang seni rupa. Semoga.
Peresensi: Agus Buchori
Penikmat Budaya Rupa
Tinggal di Paciran, Lamongan

Minggu, 02 Juni 2013

MEMBACA SEBUAH REKREASI JIWA


Bagi sebagian orang membaca adalah kegiatan yang berat apabila  yang dibaca adalah buku tebal. namun, ada juga yang beranggapan membaca adalah menbuang-buang waktu saja-hanya untuk orang yang tak punya kerjaan. Semua boleh berpendapat dengan cara pandang yang berbeda namun satu hal yang pasti bahwa dengan membaca otak secara tidak sadar berlatih untuk fokus pada sesuatu yang dihadapi.

Otak perlu distimulasi dengan kegiatan yang memancing untuk fokus salah satunya membaca sehingga daya kerjanya tidak melemah dimakan usia. Dan ada satu hal yang sering dilupakan bahwa otak perlu berrekreasi agar tidak tegang karena selalu dipakai menganalisa-salah satunya dengan dipakai membaca buku buku informasional yang menghibur.

Membaca tidak akan membuat pelakunya rugi malah akan semakin kaya. Jika tidak kaya harta kita masih bisa kaya logika budaya. Apalagi membaca kitab suci bila menjadi kebiasaan akan membuat hidup lebih berarti.

Boleh dicoba karena tidak membahayakan!