Minggu, 03 November 2019

Buku Kiri atau Kanan, Terserah

Sekarang marak sekali tuduhan dan perasaan terancam pada sebuah buku. Apakah buku harus ditutup jika isinya membahayakan? lantas seperti apakah buku yang berbahaya itu?

Buku tidak selayaknya dihadapi dengan kekuatan fisik. Buku harus dilawan dengan buku. Jika ada buku yang isinya kita tentang maka harus kita tentang dengan buku juga.

Bagiku buku hanyalah kata kata statis tanpa pembaca. Kita serang pembaca buku dengan menghadirkan buku tandingannya. 

Tentu adu strategi pasar ikut bermain dalam hal ini. Bagaimana kita menciptakan ruang bertarung sebuah buku akan membutuhkan kecerdikan pemasaran kedua penerbit.

Kita sering terkecoh pada pertarungan penerbit buku sehingga termakan hasutan untuk menafikan buku yang sedang laris dengan tuduhan tuduhan yang secara tak kasat mata ada tangan dari para penerbit itu sendiri.

Yang paling membosankan adalah isyu buku kiri dan kanan. Bagiku buku tak ada di pihak kiri atau kanan. Buku ada di jalan tengah pengetahuan.

Jumat, 25 Januari 2019

Jurus Menjadi Citizen Reporter

Kehadiran Pewarta  Warga atau Citizen Jurnalism begitu pesat di media media arus utama. Semua media, baik cetak maupun elektronik, berlomba memberikan ruang bagi warga untuk turut serta memberikan informasi. Semua mencoba memfasilitasi atau sekadar mencari konsumen atau agar tidak ditinggal konsumen informasinya sehingga konsumen pun harus dilibatkan dalam menyajikan berita.

Terlepas dari berbagai alasan media media itu memberikan kesempatan untuk munculnya pewarta warga, selalu ada sisi positif baik dari sisi media sebagai tempat warga menyampaikan berita/informasi maupun warga sebagai konsumen informasi yang dihasilkan awak media massa tersebut. Karena sekarang ini kita berada di era semua berhak bicara dan dengan ini media harus bisa memfasilitasi konsumen beritanya turut menyajikan berita kalau mereka tidak ingin ditinggalkan oleh konsumennya.

Kehadiran Buku Cara Mudah menjadi Pewarta Warga Teori dan Praktik karya Imam Nugroho ini menjadi alat pengasah pisau jurnalistik masyarakat yang ingin berpartisipasi menghasilkan berita yang kredibel. Pengalaman penulis buku ini menjadi Citizen reporter di harian surya selama hampir 9 tahun membuat buku ini menjadi referensi jitu karena ditulis praktisi yang sudah teruji tulisannya.

Imam tidak hanya menyajikan unsur 5W+H yang sering diutarakan dalam teori jurnalistik. Lebih dari itu Ia juga menyajikan teknik mendasar penyusunan kalimat berita hingga tip dan teknik mengirimnya ke sebuah media. 

Pewarta warga  pun tidak serta merta menyajikan sesuatu untuk dikonsumsi publik. Mereka pun sedikit banyak harus mengikuti aturan aturan yang berlaku dalam penyajian informasi kepada masyarakat sebagaimana yang diikuti oleh media arus utama. Salah satunya adalah validitas fakta yang mereka sampaikan kepada masyarakat karena tentunya masyarakat tidak mau hanya dicekoki gosip semata.

Sebagaimana yang diutarakan oleh Imam perihal ketrampilan menulis itu dipraktikan untuk bisa menghasilkan tulisan bukan hanya teori. Ada 4 hal yang dipersyaratkan oleh Imam agar kita bisa mampu berpartisipasi menjadi pewarta warga;

Melatih membaca dan memahami pola penulisan artikel berbagai berita yang terdapat dalam koran atau majalah
Mengumpulkan dan mendatanya secara rapi menurut tema yang diinginkan
Berlatih menyusun kalimat sesuai kebiasaan media yang hendak dituju (untuk memahami selera editor media)
Berani mengirim tulisan secara berkala (karena ini adalah latihan yang sesungguhnya)
Biar bagaimanapun Pewarta warga tak akan bertidak semaunya karena apa yang mereka sajikan akan di moderasi oleh editor media di mana media itulah yang menyediakan ruang untuk Pewarta warga berkreasi dan yang pasti tanggung jawab konten informasi adalah pewarta warga itu sendiri.

Dengan adanya Pewarta Warga  masyarakat bisa memperoleh banyak pilihan informasi/berita yang mereka inginkan. Berita yang disajikan Pewarta warga  menjadi alternatif lain karena penikmat informasi bisa merasakan bagaimana sebuah berita bila disampaikan dalam kacamata konsumen berita sebagaimana dirinya.

Informasi yang disajikan oleh Pewarta warga ada keunggulan tersendiri karena biasanya lepas dari pengaruh atasan, pemilik modal maupun kepentingan sempit golongan karena Pewarta warga kebanyakan bekerja mandiri tidak berafiliasi ke grup atau perusahaan tertentu apalagi partai politik. Hal ini dikarenakan Pewarta warga bertanggungjawab pribadi atas apa apa yang telah disebarkannya.

Meski tak tertutup kemungkinan subyektifitas berita yang dihasilkan oleh seorang Pewarta warga itu terasa, setidaknya ada pendapat lain yang mungkin bisa dijadikan referensi penikmat berita dalam menafsirkan sebuah informasi. Bukankah di era keterbukaan informasi dan kebebasan berpendapat suara suara bukan hanya monopoli awak media?

Judul: Cara Mudah Menjadi Pewarta Warga (Teori dan Praktik)
Penulis: Imam Nugroho
Penerbit: Indie Book Corner, Yogyakarta
Tebal: xii+114 hlm
Tahun: 2018

Membacalah di Sekitar Anak-Anak Kita


Kebiasaan membaca memang perlu ditanamkan sejak kecil. Namun, apakah hanya perlu dengan menyuruhnya untuk belajar membaca sejak kecil maka kebiasaan membaca itu tumbuh dengan sendirinya? Tentunya pertanyaan ini masih perlu kita telisik kembali kebenarannya.

Bukankah sejak kecil kita sudah mulai rmembaca? Akan tetapi adakah di antara kita yang sudah keranjingan untuk membaca? Mungkin hanya sebagian kecil dari kita yang mempunyai gairah tinggi untuk membaca, padahal kita sudah mengenal baca tulis sejak kecil.

Membaca buku jenis apa pun, sastra, tips dan trik, motivasi maupun pengetahuan eksakta yang rumit perlu dibiasakan. Pertama kalinya tentu harus dipaksakan pada diri sendiri dengan membaca buku yang kita suka. Lambat laun itu akan menjadi kebiasaan dan bahkan mungkin menjadi suatu ketagihan. Bukankah segala jenis ketagihan dimulai dari yang namanya coba-coba?

Seseorang tidak akan serta-merta keranjingan membaca bila orang tersebut tidak mempunyai kebiasaan membaca. Nah, kebiasaan inilah yang perlu dipupuk melalui bacaan-bacaan yang menarik untuk kita. Unsur menarik-tidaknya sebuah bacaan, tergantung dari di mana passion Anda, tentunya masing-masing orang berbeda-beda.

Kembali ke persoalan menumbuhkan kegemaran membaca pada anak-anak kita. Kebiasaan itu tidak-serta merta ditumbuhkan hanya karena sejak usia pra-sekolah mereka sudah diajarkan untuk membaca. Ada yang lebih penting dan mengena daripada sekadar mengajarinya membaca, yaitu lingkungan tempat ia tumbuh harus selalu beraroma bacaan, bacaan, dan bacaan.

Lingkungan mempunyai peran yang tidak kecil untuk menumbuhkan kebiasaan pada anak. Bisa kita baca pada biografi penulis-penulis terkenal, baik dalam negeri maupun luar negeri, bahwa kebanyakan mereka dibesarkan di lingkungan yang menstimulasi mereka untuk mencintai bacaan.

Pada saat masih dalam tahap usia dini, mereka selalu diliputi buku-buku sehari-harinya. Mereka pun membaca tanpa ada rencana atau tujuan apa. Mereka menikmati kalimat dan kata-kata yang pada akhirnya melekat di alam bawah sadarnya.

Soekarno, Hatta, Gus Dur, dan Habibie adalah sebagian dari tokoh-tokoh yang sejak kecil menggemari membaca buku. Mereka pun meninggalkan koleksinya menjadi perpustakaan-perpustakaan yang bisa dipakai hingga sekarang koleksi bukunya. Garis lurusnya adalah mereka semua tumbuh dari lingkungan keluarga pecinta ilmu.

Lingkungan itu adalah keluarga sebagai pencetus utama untuk menumbuhkan kebiasaan membaca pada seorang anak. Tentunya sangat tidak mungkin ini bisa terjadi untuk memunculkan gairah membaca pada anak-anak kita jika di lingkungan keluarganya tak ada buku bacaan maupun teladan dari kedua orangtuanya.

Ketersediaan bahan bacaan bisa diusahakan untuk selalu menyisihkan anggaran rumah tangga untuk membeli buku-buku. Anak anak suka buku bergambar, maka dari itu sediakanlah buku yang seperti itu di sekitar mereka. Jangan menyuruhnya untuk membaca, tapi mulailah dari diri Anda sendiri.

Bacalah buku cerita bergambar itu dengan suara yang bisa ia dengar. Membacalah terus di sekitar mereka dan Anda akan terkejut ketika mereka suatu saat akan berlagak seperti Anda membaca. Itu semua adalah hasil dari apa yang ia dengan dan lihat serta rasakan setiap hari akibat berinteraksi dengan buku dan membaca.

Keteladanan orangtua menjadi lebih penting karena anak-anak lebih bisa menangkap apa yang ia dengar dan lihat daripada sekadar menerima perintah dan perintah. Kecenderungan meniru lebih mudah diaplikasikan anak anak dalam perilaku sehari harinya.

Mulailah membaca di sekitar mereka. Kalau perlu, membacalah dengan suara yang bisa didengarkan oleh anak-anak Anda. Membacalah terus dan terus di sekitar mereka. Salah satu kebiasaan yang bisa Anda terapkan adalah mengaji dengan suara keras di sekitar mereka. Lambat laun mereka akan melihat kebiasaan kita dan akan mencoba menirunya dan itulah saat terbagus kita menangkap momen antusias mereka untuk belajar membaca.

Keteladan ternyata lebih manjur untuk menumbuhkan kebiasaan membaca anak anak kita. Beberapa contoh di atas adalah hal kecil yang penulis alami dan lakukan di rumah. Tentu akan sangat tidak etis bila kita sebagai orangtua menyuruh anak-anak kita untuk gemar membaca namun mereka tanpa pernah sekalipun melihat orang tuanya sedang menyendiri sibuk menekuni bahan bacaan.

Anak anak perlu bukti konkret agar ia mau melakukan sesuatu. Otak mereka tak mudah menangkap ide  yang tidak konkret; harus jelas dan nyata.

Nah, sekadar tips untuk kita memulai memberi teladan, bila kita tertarik bidang ekonomi, bacalah buku ekonomi. Kalau tertarik di bidang filsafat, bacalah juga buku filsafat. Semua tergantung Anda. Bidang apakah yang membuat Anda antusias, itulah passion Anda.

Membacalah di sekitar mereka. Berikan mereka pemandangan bagaimana kita memanfaatkan waktu dan menikmati saat-saat kita sedang asyik membaca. Apakah Anda mau mencoba?