Jumat, 25 Januari 2019

Karena Korupsi Adalah pilihan

Apakah kejahatan itu karena ada kesempatan? Bisa jadi. Lingkungan yang memberikan seseorang untuk berbuat jahat bisa mengubah perangai yang baik seseorang menjadi buruk. Novel ini membahas problematika niat dan kesempatan yang bisa melahirkan sebuah kejahatan.

Arimbi, wanita muda dari sebuah desa, bekerja di Jakarta. Dengan bekal ijasah sarjana yang ia punya, Arimbi berhasil  menjadi pegawai negeri di sebuah pengadilan negeri di Jakarta. Ia yang lugu tak mengenal gaya dan aneka keindahan materi, bahkan mungkin gaya hidup hedonis pun jauh dari kosakata kehidupannya sehari hari.

Di sebuah lingkungan birokrasi yang begitu mendewakan nilai uang untuk memperlancar segala urusan, Arimbi tergagap ketika mengetahui kehidupan teman-teman sekantornya yang terasa begitu mudah dijalani di matanya. Ia bertanya-tanya dalam hati, mereka sama dengannya sebagai pegawai negeri biasa namun sepertinya mereka tidak mengalami kesulitan untuk hidup di Jakarta.

Hidup yang berat di Jakarta, bagi Arimbi, bagaimana dia harus menyisakan gajinya untuk membayar kost dan mengirim sebagian ke kampungnya. Itu dijalani dengan hidup yang super hemat kalau tidak bisa dikatakan melarat.

Meski orang tuanya tak pernah tahu seperti apa hidup di Jakarta, mereka hanya tahu dan bangga anaknya telah menjadi pegawai negeri di sebuah instansi pemerintah. Setiap hari berseragam dengan jam kerja dan gaji yang pasti.

Namun, ketika hari demi hari yang diketahui oleh Arimbi adalah pola perilaku, yang semula ia tak mengerti hingga dikatakan ndeso oleh teman-temannya, bahwa apa yang selama ini dilakukan oleh temannya adalah ngobyek hingga mereka bisa hidup layak di Jakarta.

Arimbi yang lugu itu mulai tergoda, apalagi saat ia jatuh cinta dan perlu biaya untuk menikmati jatuh cintanya. Terlebih lagi ketika ia berkenalan dan mulai dipercaya oleh atasannya, Danti. Hidupnya berubah 180 derajat. Ia menjadi yakin bahwa uang adalah raja untuk menjadikan segala menjadi mudah untuk bisa hidup di Jakarta.

Diawali dari tip-tip kecil yang diberikan Bu Danti ketika ia harus menjadi juru tulis untuk perkara-perkara yang harus diatur agar cepat selesai ataupun dimenangkan, arimbi mulai ketagihan untuk mendapatkan uang dengan cepat dan instan. Ketika semua teman mengiyakan apa yang dilakukannya karena semua berbuat sama di instansinya ia semakin lupa diri dan tak punya malu untuk berbuat curang.

Bagi Arimbi korupsi adalah kewajaran karena semua melakukan hal yang sama. Kesempatan yang ada disertai niat karena himpitan hidupnya maka kebiasaan berbuat curang menjadi hal yang tak perlu ditanyakan benar salahnya.

Penggambaran penyebab korupsi di novel ini sangat detail sekali. Di mulai dari alasan himpitan ekonomi dan lingkungan yang permisif untuk itu yang pada akhirnya menimbulkan hubungan antara niat dan kesempatan sebagai penyebab timbulnya kejahatan.

Namun penulis kurang mengeksplorasi sisi psikologis tokohnya bahwa biar bagaimanapun segala tindakan adalah pilihan. Korupsi bukanlah murni adanya kesempatan karena setip orang punya pilihan untuk bertindak. Semua mempunyai tataran moral dalam nurani masing-masing. Pertentangan batin tokohnya kurang dieksplorasi sehingga pembaca hanya mengikuti alur yang lurus tanpa ada pertentangan-pertentangan batin yang membikin kita berdialog dengan teks.

Hingga pada akhirnya Arimbi tertangkap masih saja ia menyalahkan orang lain bukan menyadari bahwa setiap kejahatan cepat atau lambat pasti terbuka mesti disembunyikan sedemikian rupa.

Terlepas dari itu semua novel ini menggambarkan kebobrokan aparat hukum hingga kebusukan perilaku-perilaku penghuni penjara pun digambarkan dengan detail dan riil. Kehidupan yang terkucil di penjara memunculkan aneka penyimpangan hidup mulai dari seks dan pengalihan kebahagiaan melalui obat-obatan untuk sejenak menelikung rasa sepi di penjara.

Bagaimana kesepian di penjara bisa membuat seseorang menyalurkan hasratnya pada sesama jenis sangat menarik untuk disimak. Penjara yang harusnya menjadi tempat mendidik para pesakitan bahkan menjadi tempat tumbuhnya kejahatan-kejahatan baru. Pabrik obat obatan pun ada di sana dan seperti yang sudah banyak diketahui di media massa bagaimana liku-liku bandar narkoba melakukan bisnisnya digambarkan dengan apik.

Penggambaran apa yang terjadi di penjara kelihatannya didukung riset yang apik mengingat penulis novel ini adalah mantan wartawan juga. Pengalaman melakukan investigasi jurnalistik saat menjadi wartawan inilah kelihatannya memperkaya detail setiap kisah di area yang selama ini tertutup dari mata masyarakat. Inilah salah satu keunggulannya.

Terlepas dari itu semua novel ini menggambarkan kebobrokan aparat hukum hingga kebusukan perilaku-perilaku penghuni penjara pun digambarkan dengan detail dan riil. Kehidupan yang terkucil di penjara memunculkan aneka penyimpangan hidup mulai dari seks dan pengalihan kebahagiaan melalui obat-obatan untuk sejenak menelikung rasa sepi di penjara.

Pada akhirnya korupsi adalah pilihan bukan melulu karena adanya kesempatan. Manusia tetaplah punya nurani yang tak mungkin bisa begitu saja membiarkannya bebas bertindak apa pun agamanya. Selamat menikmati kisah Arimbi.

Judul: 86
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan kedua, April 2014
Tebal: 256 halaman   
baca juga; https://www.qureta.com/post/13-sajak-cinta

Kamis, 09 Maret 2017

Buku Itu Guru yang Sabar

Membaca membuat seseorang sejenak lupa. Lupa di mana ia berada dan kadang tak jarang kita seolah hadir di antara kata kata.

Di antara kata kata itulah kita berdialog bagai guru dan murid. Kadang kita protes dengan apa yang kita baca. Ia pun diam tak protes balik.

Namun selalu ada informasi baru bila kita membaca buku. Informasi yang bisa memperkaya isi qalbu dan  membuat kita selalu rindu dengan sebuah buku.

Bagi kita yang selalu haus ilmu buku seolah guru yang telaten dan sabar melayani rasa ingin tahu kita. Saat sedih, marah, atau biasa saja mental kita buku akan tetap diam melayani.

Jadikan buku sebagai sahabat diwaktu luang. Anggaplah sebagai guru yang penyayang. lambat laun ia akan memberi kita dengan impian impian baru yang membuat gairah hidup kita selalu baru.

Mulailah dari buku yang isinya sesuai minat kamu. Jangan berhenti, teruslah berinteraksi dengan buku karena ia adalah guru yang selalu kau rindu. Pada akhirnya.

Rabu, 23 Maret 2016

Gambaran Interaksi Muhammadiyah dan NU dalam Novel Kambing dan Hujan




Judul               : Kambing dan Hujan
Penulis            : Mahfud Ikhwan
Penerbit          : Bentang (PT Bentang Pustaka) Yogyakarta
Cetakan          : Mei 2015
Tebal               : vi+374 hlm; 20,5 cm
ISBN               : 978-602-291-027-5

Benturan budaya sudah sering menjadi bumbu penyedap dalam cerita fiksi. Namun bagaimana kalau  yang menjadi bumbu adalah friksi dalam interaksi sosial antara dua ormas terbesar di Indonesia; Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Tentunya ini sangat rawan untuk diperbincangkan namun dalam jagad dunia fiksi- baca sastra, semua yang tidak mungkin menjadi mungkin karena kenyataan dan rekaan dalam fiksi berkelindan mesra dalam sebuah teks yang bebas untuk ditafsirkan.

Dalam Novel kambing dan hujan karangan Mahfud Ikhwan ini,  konflik diawali dengan keinginan Miftahul Abrar dan Nurul Fauzia untuk menikah dan masing masing harus  meminta persetujuan kedua orang tuanya. Dari sini semua kompleksitas cerita bermula. Keduanya adalah anak dua tokoh penting  di  dusun Centong  yang masing masing menjadi pengurus Masjid Utara dan Masjid Selatan dan di kedua mesjid tersebut adalah perwujudan dua ormas besar di negeri ini yaitu Muhammadiyah dan NU. Iskandar sebagai orang tua Mif, panggilan Miftahul Abrar adalah pengurus Masjid Utara yang berafiliasi ke  Muhammadiyah yang mengklaim sebagai  Islam pembaruan dan Muhammad Fauzan ayah dari Fauzia adalah pengurus Masjid Selatan yang berafiliasi ke  NU yang dianggap sebagai Islam tradisionalis.

Ternyata tanpa sepengetahuan Mif dan Fauzia kedua orangtua yang akan berbesanan ini meskipun berbeda organisasi, sebenarnya keduanya ini adalah sahabat di waktu kecil. Bahkan tanpa sepengetahuan kedua sejoli yang hendak menikah  ini,  ternyata ibu fauziah adalah gadis yang dulu sempat berpacaran dengan bapaknya mif. Hanya karena berbeda golongan saja  bapaknya mif urung menikah dengan ibunya fauzia.

Konflik antara muhammadiyah dan NU yang disodorkan dalam novel ini memang sebagaimana konflik yang terjadi  di tataran akar rumput yang selama ini terjadi pada kedua organisasi ini. Perdebatan antara Qunut dan tidak Qunut dalam shalat subuh, jumlah rakaat dalam tarawih maupun ritual kebudayaan lainnya semisal syukuran sedekah bumi dan masalah dua adzan dalam pelaksanaan shalat jumat. Penggambaran konflik dua ormas keagamaan terbesar di Indonesia  pada novel ini yang mengambil setting sebuah kampung kecil di pantai utara Lamongan berbatasan dengan Kabupaten Tuban  ini seolah menjadi kaca benggala bagaimana interaksi kedua ormas tersebut selama ini berlangsung dan mewarnai kehidupan agama kedua Ormas ini di Indonesia. 

Novel ini seolah mengkritik bagaimana konflik yang terjadi pada kedua ormas tersebut sebenarnya hanyalah berkutat pada hal hal yang bukan prinsipil dalam sebuah ritual keagamaan karena apa yang kedua ormas ini jalani  keduanya bisa dibenarkan karena masing masing mengacu pada lima mazhab besar, Sunni. Sebagai organisasi yang sama-sama ahlussunah mungkin perdebatan yang terjadi hanyalah sebuah riak kecil karena banyak faktor-faktor lain  selain factor  agama yang membuat perdebatan ini lestari pada tataran akar rumput kedua organisasi.   

Akhirnya, apakah masing masing menerima  jalan hidup yang hendak ditempuh anak-anaknya atau  harus memegang teguh garis organisasi yang mereka yakini. Akankah keluarga mereka menjalankan ritual berbeda dalam satu rumah jika keduanya harus berbesanan. Bagaimana para jamaah masjid utara dan jamaah masjid Selatan akan bersuara melihat apa yang telah mereka jalani. Apakah demi cinta anak anak mereka, mereka harus rela melakukan kompromi meski itu melawan garis garis organisasi yang sudah selama ini mereka perjuangkan hingga menjadi sebuah trade mark yang diyakini banyak orang. Selamat membaca!