Judul :
Biografi A.R. Baswedan
Membangun Bangsa , Merajut Keindonesiaan
Penulis :
Suratmin dan Didi Kwartanada
Penerbit :
Penerbit Buku Kompas, Jakarta
Tahun :
2014
Tebal :
xliv+308 hlm
ISBN :
978-979-709-859-9
Perjalanana
berdirinya negara Indonesia tidak terlepas dari perjuangan orang-orang yang
bukan warga negara asli Indonesia. Mereka adalah
para warga keturunan yang berdedikasi dan mengakui bahwa walaupun mereka adalah
peranakan ada yang keturunan Tionghoa,
Arab dan Eropa. Mereka lahir dan
dibesarkan di bumi pertiwi Indonesia. Salah satu di antara warga keturunan Arab
yang peranannya tidak bisa dibilang
kecil dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia adalah Abdul Rahman Baswedan yang lebih
dikenal A.R. Baswedan.

Di
antara warga keturuna Arab Indonesia terbagi menjadi dua golongan; kaum Arab
Asli (Wulaiti/totok) dan kaum
keturunan Arab (Muwalad/peranakan).
Kaum Wulaiti berdarah Arab murni dan
biasanya lahir serta besar dinegeri Arab, terutam Hadramaut. Sedangkan Muwalad berdarah campuran dan
dilahirkan serta dibesarkan di Indonesia. Terlahir dari keluarga keturunan Arab,
golongan Muwalad, A.R. Baswedan memberikan teladan terhadap orang-orang Wulaiti maupun Muwalad bagaimana menjunjung tinggi tanah kelahiran bukan atas asal
keturunan semata-mata. Biarpun dia adalah keturunan arab namun ia mengakui
bahwa tanah airnya adalah Indonesia karena ia lahir dan dibesarkan dengan nilai
nilai kebudayaan Indonesia bukan dengan lingkungan budaya Arab . Ia memelopori
bagaimana warga keturunan harus berinteraksi dengan pribumi asli. Membaur dalam
kehidupan bermasyarakat sebagai warga negara yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Di
awal awal mempraktekan cara hidup bermasyarakat dengan cara membaur dengan
pribumi A.R. Baswedan banyak mendapat kecaman dari golongan Wulaiti. Mereka para golongan Wulaiti
tersebut beranggapan bahwa tanah airnya
adalah arab bukanlah Indonesia. Baginya Indonesia adalah tempat mencari nafkah
saja. A.R. Baswedan berani bersebrangan dengan mereka karena ia lahir dan
dibesarkan di Indonesia maka ia berhak menganggap Indonesia sebagai tanah
airnya.
Terlahir
dari ayah Awad Baswedan dan ibu Aliyah dari Bangil di Surabaya, 9 September
1908. Berbarengan dengan tahun berdirinya Boedi
Oetomo. Ia adalah seorang nasionalis sejati bagi bangsa Indonesia dan
khususnya peranakan Arab-Indonesia. Ia juga jurnalis, pejuang kemerdekaan
Indonesia, diplomat juga sastrawan Indonesia. Beliau juga bisa disebut salah
satu Founding Fathers (Bapak Bangsa) karena tercapat sebagai anggota Badan
Penyelidik Usaha dan Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Hal 4.
Di
dunia pers A.R. Baswedan seolah mendapat tempat yang menyuburkan jiwa
nasionalismenya. Bersama dengan sahabatnya seorang wartawan dan penulis kawakan Liem Koen Hian
yang keturunan tionghoa, yang pada saat itu
sudah redaktur senior di harian Melayu-Tionghoa, Sin Tit Po, A.R Baswedan banyak membuat karangan yang bernuansa
keindonesiaan. Selama bekerja di harian tersebut beliau banyak melepaskan
kritik kritik pada pemerintah kolonial juga banyak memuat berita berita politik
tentang pergerakan kemerdekaan pada saat itu.
Sebagai
seorang diplomat, , beliau termasuk tokoh yang terlibat dalam diplomasi yang
diketuai oleh the Grand Old Man, H.
Agus Salim ke Timur Tengah untuk
menggalang pengakuan kemerdekaan
Indionesia, dan mereka berhasil mendapatkan pengakuan secara de jure dan de facto bagi kemerdekaan
Republik Indonesia yaitu dari Mesir dan Liga Arab.
Beliau
juga layak menjadi teladan bagi seorang yang mengaku pejuang. Karakter tanpa
pamrih yang memang seharusnya dimiliki oleh para pejuang untuk membuktikan
dedikasinya terhadap apa apa yang telah diperjuangkannya. Walaupun sempat
menjabat menjadi Menteri Muda Penerangan
namun rumah pun Beliau tidak punya dan
sehari-harinya beliau tinggal di rumah kontrakan. Beliau membedakan dengan
jelas arti berjuang dan bekerja. Itu ia buktikan dengan tidak pernah meminta
honor sebagai pengurus partai karena baginya partai adalah medan perjuangan bukan
untuk mencari uang.
Itulah
teladan yang bisa kita ambil dari seorang A.R. Baswedan yang bisa berperan
sebagai ayah yang sederhana, Politisi yang lihai, wartawan yang berpena tajam
juga seorang sastrawan. Sebagai seorang sastrawan saya kutipkan bait syair
beliau yang bertitel “Nikmat Rokhani”. Bangun,
bangunlah benih!/ Jadilah pohon, berbuah bercabang,/ Biarkan panas membakar
usang,/ Biarkan hujan lebat tertuang,/ Untuk khalayak, didiri malang,/ Namun
adalah Tuhan Pengasih,/ Dia memberi nikmat ruhani!!.