Minggu, 09 Juni 2013

MENARIK PEMUSTAKA KE PERPUSTAKAAN




Beberapa kiat yang perlu dilakukan pengelola perpustakaan untuk menarik pemustaka berkunjung ke perpustakaan.

1. Pemasyarakatan Gerakan Peningkatan Minat Baca
Gerakan peningkatan minat baca merupakan unsur penting yang perlu mendapat perhatian serius di semua kalangan. Minat baca tidak bisa muncul tiba-tiba tapi harus dipupuk sejak dini dan perlu upaya-upaya yang maksimal untuk mewujudkannya.
Seperti yang dilansir oleh Taufik Ismail, Bahwa Negara kita adalah bangsa dengan minat baca yang rendah di antara bangsa-bangsa di dunia. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam proses peningkatan minat baca karena bangsa kita bangsa yang lebih familiar dengan budaya tutur.
Beberapa cara yang bisa digunakan untuk meningkatkan minat baca masyarakat ialah:
a. Sosialisasi bacaan ke keluaraga
Peningkatan minat baca bisa dimulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga. Dari keluarga inilah diharapkan orangtua mulai menanamkan kecintaan anak-anaknya untuk mencintai bacaan, misalnya dilakukan dengan membacakan buku cerita pada anak-anak menjelang tidur. Apabila dilakukan secara kontinyu, kegiatan ini lambat laun akan menggugah anak untuk membaca sendiri.
Peran perpustakaan di sini bisa dilakukan dengan jalan mengadakan lomba mendongeng orang tua kepada anaknya.
Ketika kebiasaan membaca sudah tertanam di setiap keluarga maka kebutuhan akan bahan bacaan akan meningkat dan diharapkan mereka akhirnya akan mencari tempat sumber koleksi bacaan. Dari sinilah perpustakaan diharapkan untuk menangkap kegelisahan masyarakat yang haus akan bacaan.
b. Mengundang anak TK/PAUD Kunjungan ke Perpustakaan
Kegiatan ini bisa berupa; mewarnai, membaca, dan bisa juga melihat film yang diputar di perpustakaan. Aktivitas ini secara tidak langsung bisa memberikan pengalaman kepada anak-anak mengenai aktivitas perpustakaan. Anak-anak secara tidak langsung akan mengamati perilaku pengunjung dan petugas perpustakaan ketika mereka berada di ruang perpustakaan. Dari sini diharapkan mereka tidak canggung lagi ketika harus berkunjung sendiri ke perpustakaan kelak.
c. Mengadakan lomba membaca naskah sastra
Lomba membaca naskah sastra merupakan salah satu kegiatan yang dapat merangsang minat baca. Ini disebabkan karena masing-masing individu mempunyai selera yang berbeda. Mereka akan memilih dan memilah jenis bacaan yang sesuai dengan perasaannya.
Dari beberapa poin di atas diharapkan nantinya bisa tercipta kebiasaan membaca di masyarakat sehingga tercipta suatu kondisi masyarakat pembelajar sepanjang hayat ( long life education ).
2. Promosi Perpustakaan
Promosi perpustakaan adalah kegiatan pengenalan sosialisasi mengenai seluk beluk dunia perpustakaan. Tujuan dari promosi perpustakaan ini adalah:
· Untuk menginformasikan kepada pemakai layanan dan program kegiatan yang ada di perpustakaan;
· Untuk menbangkitkan minat dan keinginan pemakai terhadap perpustakaan dan layanannya;
· Untuk memelihara kesadaran pemakai terhadap layanan perpustakaan;
· Untuk meningkatkan penggunaan perpustakaan.
Jika melihat dari tujuan promosi perpustakaan tersebut maka diperlukan cara-cara yang jitu sebagaimana cara-cara promosi di dunia usaha supaya promosi perpustakaan bisa tepat sasaran dan menghasilkan hasil yang optimal.
Beberapa Sarana Promosi
1. Menggunakan media elektronik
a. Media televisi
Media televisi sangat efektif dipakai untuk memromosikan suatu produk barang atau jasa karena jangkauannya yang luas dan juga karena bentuk medianya yang audio visual.
b. Internet
Yaitu melalui penggunaan website yang menarik bagi perpustakaan yang bersangkutan akan memancing user untuk mendatangi perpustakaan tersebut. Website ini bisa menjadi perwakilan perpustakaan di dunia maya. Di sini bisa ditunjukkan seluk beluk perpustakaan mulai dari cara pendaftaran, Gedung, daftar koleksi, dan informasi lainnya.
c. Radio
Bagi perpustakaan lokal bisa memanfaatkan media radio untuk perpustakaannya. Mengingat radio adalah media audio maka bentuk atau isi iklannya dititik beratkan pada informasi-informasi insidental. Misalnya program perpustakaan yang berlangsung hanya mingguan.
2. Media Cetak
a. Surat kabar
Media surat kabar ini bisa dipakai untuk mendisplaikan buku-buku terbaru atau buku-buku yang sedang best seller di pasaran dan sudah dimiliki oleh perpustakaan.
b. Majalah
Majalah bisa dipakai untuk menampilkan profil singkat perpustakaan serta apa saja keunggulan maupun kekhasan sebuah perpustakaan yang bersangkutan yang tidak dimiliki oleh perpustakaan lainnnya.
c. Brosur
Brosur sangat efektif dipakai untuk memberikan informasi yang sifatnya beralur misalnya, cara menjadi anggota, di situ ditunjukkan prosesnya mulai dari datang ke perpustakaan sampai mendapat kartu anggota hinnga terjadi proses transaksi meminjam buku.
3. Pameran
Pameran buku merupakan ajang yang bagus untuk memancing masyarakat datang ke perpustakaan. Dengan rajin mengikuti pameran buku maupun mengadakan pameran sendiri akan membuat perpustakaan dikenal secara langsung oleh masyarakat.

JK. Rowling A Honestly Writer (Penulis yang Tulus)


" Saya menulis cerita Harry Potter sebenarnya tidak khusus kutujukan untuk konsumsi anak-anak, namun saya menulis absolutly for my self" begitulah pegakuan joanne Kathleen Rowling atau yang lebih dikenal JK Rowling penulis buku Harry Potter seperti yang dikutip oleh Marc Saphiro.

JK. Rowling "THE WIZARD BEHIND HARRY POTTER, ANAUTHORIZED BIOGRAPHY " yang ditulis oleh Marc Saphirro dan diterbitkan oleh St. Martin's Griffin, New York ini banyak menceritakan kisah hidup JK Rowling dan Latar belakang proses kelahiran Harry Potter  dan Dunia sihirnya.

Sebagai penulis, seperti halnya kebanyakan penulis sukses lainnya, JK Rowlingsejak kecil memanga suka menulis. Dan menulisnya sendiri merupakan cara dia menghibur dirinya. Pada usia anak-anak ia sudah membuat cerita imajinatif yang diberinya judul RABBIT AND MISS BEE. Cerita itu ia tulis dengan tangan pada buku hariannya kemudian ia tunjukkan pada saudaranya untuk dibaca. disamping suka menulis ia juga sangat gemar membaca seringkali waktunta banyak dihabiskan untuk menghadapi berlembar-lembar halaman buku dari pada bermain main.


Ketika beranjak dewasa ia menikah dan kemudian pernikahannya kandas ketika ia memperoleh anak satu. Pada saat itulah satu fase sulit dalam  kehidupannya bermula karena iaharus menjadi single parent. di tengah-tengah kesulitan inilah ada Blessing in disguisse. Ditengah kesukaannya meluangkan kesulitan nogkrong di kafe sendirian ia yang gemar menulis mulai membuat cerita yang kelak akan mendunia.

dengan membawa kertas dan pulpen ia habiskan waktu di kafe dengan menulis sepanjang waktu untuk menghibur dirinya.

"Saya tidak bisa membayangkan orang bisa menikmati membaca karay saya melebihi kenikmatan ketika saya sedang menuliskannya," itulah salah satu pengakuannya.

Melihat perjalanan hidup JK. Rowling kita akhirnya bisa lebih memaknai akan sebuah ketulusan dalam menjalankan aktifitas. Dan sekali lagi ketulusan pasti akan menyebabkan imbas positf bagi yang menjalankannya. Selamat membaca.

Kamis, 06 Juni 2013

PELAYANAN MAKSIMAL KEPADA DUA TIPE PEMUSTAKA DENGAN BERBASIS LEARNING COMMUNITY BUILDING UNTUK MENUJU PERPUSTAKAAN NASIONAL IDEAL.


Pendahuluan
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini berlangsung sangat cepat . Keberadaan komputer sebagai sarana bantu tenaga manusia dalam mengatasi pekerjaannya semakin tak terelakaan mengingat beberapa keunggulan yang telah ditawarkannya termasuk juga sebagai media penyampai informasi. Komputer telah mampu memberikan kecepatan dan kemudahan bagi para pencari informasi. Internet adalah aktivitas yang dihasilkan dari kemajuan teknologi infomasi ini. Dengan internet, seseorang bisa saling terhubung satu sama lain tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Dunia sudah menjadi desa global (Global Village) di mana batas batas wilayah sudah semakin kabur, dengan kata lain intenet sudah mampu mendekatkan manusia satu dengan yang lainnya sehingga mereka satu sama lain bisa saling mengetahui kejadian di belahan dunia yang lain dengan cepat. Apa yang terjadi di belahan dunia lain bisa diketahui saat itu juga.

Paparan di atas menunjukan telah terjadinya suatu tatanan masyarakat informasional. Sebagaimana yang telah dijelaskan Alvin Toffler yang dikutip oleh Sondang P Siagian, bahwa masyarakat informasional adalah masyarakat yang dipenuhi dengan informasi yang melimpah, bertipe multimedia, cepat dan dapat diakses di mana saja dan kapan saja tak terbatas ruang dan waktu. Dengan kondisi masyarakat informasional yang demikian secara tidak langsung juga turut mengubah pola perilaku para pengguna informasi dalam menyikapi cara penyajian informasi yang semula langka, lambat dan tekstual serta statis perkembangannya berubah menjadi informasi yang melimpah, cepat, dan mempunyai mobilitas tinggi.

Di tengah perkembangan masyarakat informasional yang bermobilitas tinggi, baik informasinya maupun pengguna informasinya, Perpustakaan Nasional sebagai salah satu lembaga penyedia informasi dan pengetahuan juga harus mengubah paradigma layanan yang selama ini dijalankan. Hal ini dikarenakan seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang telah memunculkan dua tipe pengguna yaitu pemustaka langsung yaitu pemustaka yang menggunakan koleksi perpustakaan dengan cara datang langsung ke gedung perpustakaan dan pemustaka virtual yaitu pemustaka yang menggunakan koleksi perpustakaan tidak secara langsung mendatangi perpustakaan melainkan menggunakan sarana teknologi informasi dan komunikasi yaitu internet.

Dua tipe pemustaka inilah yang menjadi obyek pelayanan jasa Perpustakaan Nasional sehingga tercipta perpustakaan yang ideal yang dapat melayani kebutuhan dua tipe pemustakanya tersebut secara maksimal. Walaupun kemudahan mesin pencari ( search engine ) di internet dalam menyediakan informasi sangat menarik bagi pencari informasi namun keberadaan perpustakaan tetaplah selalu dibutuhkan oleh penggunanya. Ini dikarenakan informasi yang disediakan oleh perpustakaan kebanyakan berupa informasi yang berbasis pustaka dan dalam proses mengubahnya menjadi pengetahuan memerlukan proses internalisasi yang panjang. Sedangkan yang diberikan oleh internet kebanyakan informasi yang siap pakai (instant) dan tidak perlu kajian mendalam untuk memahaminya.

Strategi Perpustakaan Nasional Untuk Memenuhi Kebutuhan Pemustaka Konvensional Maupun Pemustaka Virtual Sebelum melangkah lebih jauh mengenai strategi pengelolaan Perpustakaan Nasional untuk memenuhi dua tipe pemustaka di atas ada baiknya kita tengok pendapat James. J. Stapleton yang menguraikan langkah langkah yang diperlukan seseorang untuk mengubah informasi menjadi pengetahuan yang berguna, yaitu: 1. cari 2. dapatkan 3. evaluasi 4. susun 5. pahami 6. analisis 7. simpulkan 8. sebarkan 9. bertindaklah berbasis pengetahuan 10. pelihara dan gabungkan Dari sepuluh item yang diutarakan terlihat sebuah proses belajar mandiri yang harus dilakukan oleh seseorang agar bisa mengubah informasi menjadi pengetahuan.

Kesepuluh langkah tersebut adalah sebuah daur hidup pengetahuan yang siklusnya selalu berulang di mana pengetahuan yang tercipta merupakan sebuah informasi baru yang akan diproses lagi untuk menjadi pengetahuan yang baru. Gambar 1. Daur Hidup Pengetahuan Berdasarkan gambar di atas perpustakaan bisa mengambil peran sentral karena perpustakaan adalah sumber informasi sekaligus bisa menjadi tempat proses pengubahan informasi menjadi pengetahuan baru yang akan dikaji kembali sebagai informasi yang baru. Dari sinilah lahir tantangan sesungguhnya keberadaan lembaga perpustakaan bagaimana sebuah perpustakaan menjadi katalisator yang mempermudah proses daur hidup pengetahuan supaya bisa berlangsung terus menerus sehingga tercipta suatu kondisi masyarakat pembelajar sepanjang hayat (life long education).

Ada tiga elemen penting yang dapat membuat perpustakaan mempermudah pemustaka dalam proses mengubah informasi menjadi pengetahuan. Ketiga elemen tersebut hasil penyederhanaan dari enam elemen standar yang harus digunakan oleh perpustakaan yang diamanatkan oleh Undang-undang Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan yaitu: 1. Standar Koleksi Perpustakaan 2. Standar Sarana dan Prasarana 3. Standar Pelayanan Perpustakaan 4. Standar Tenaga Perpustakaan 5. Standar Penyelenggaraan 6. Standar Pengelolaan keenamnya bisa kita sederhanakan menjadi tiga elemen yaitu;
1. Kelengkapan Koleksi
2. Kemudahan Akses
3. Smart Building Community (komunitas gedung pembelajaran)

 1.1 Kelengkapan Koleksi Koleksi perpustakaan sebagian besar adalah bahan pustaka hal ini mengingat informasi yang dikelola oleh perpustakaan adalah informasi yang berbasis pustaka. Agar koleksi bisa diakses oleh dua tipe pemustaka seperti yang tersebut di atas maka perlu diadakan alih media terhadap seluru khasanah koleksi tekstual menjadi koleksi digital (E book). Pengalihmediaan ini mutlak dilaksanakan karena koleksi tekstual diperuntukkan bagi pemustaka konvensional saja sedangkan koleksi hasil alih media ditujukan untuk pemustaka virtual di dunia maya (via internet). Perpustakaan Nasional sebagai perpustakaan deposit harus menginventarisir seluruh koleksi perpustakaan di daerah terutama untuk manuskrip kuno yang mengandung kearifan local agar bisa digunakan oleh pemustaka di seluruh nusantara dengan mengalihmediakan naskah tersebut kedalam bentuk digitalsehingga tujuan Perpustakaan Nasional untuk menjadi perpustakaan deposit bisa terlaksana.

 2.1 Kemudahan Akses Akan menjadi mubazir apabila kelengkapan koleksi tidak dibarengi kemudahan akses dari koleksi tersebut. Untuk itu diperlukan sebuah system pelayanan yang berbasis teknologi informasi (on line). Sistim Informasi Koleksi Pustaka (SIKP) yang mengelola pengkatalogan yang menghasilkan peta lokasi pustaka tekstual dan E book. SIKP ini bekerja secara online sehingga pemustaka virtual juga bisa mengakses informasi Perpustakaan Nasional yang berbentuk digital walaupun secara fisik, koleksi tersebut masih berada di Perpustakaan Nasional namun informasinya bisa diakses oleh pemustaka virtual tersebut. Selain itu SIKP juga dilengkapi sarana Tunjuk Silang (Cross Refferece) yang berkenaan dengan isi koleksi yang diakses misalnya, apabila yang sedang diakses oleh pemustaka adalah buku budaya maka tunjuk silangnya akan menunjukkan lokasi keberadaan benda-benda budaya yang ada dalam buku tersebut . Dalam hal ini SIKP bisa merujuk pada koleksi yang dimiliki oleh Museun Nasional ataupun Galeri Nasional yang menyimpan benda tersebut sehingga pemustaka akan lebih menghayati pengalaman belajarnya.

 3.1 Learning Community Building ( gedung komunitas pembelajar) Poin terakhir dari ketiga elemen pembentuk perpustakaan ideal adalah gedung. perpustakaan. Perpustakaan Nasional sebagai perpustakaan induk harus bisa menciptakan kondisi gedung perpustakaan yang bisa menjadi wadah bagi sebuah komunitas pembelajar yang berbasis pengetahuan. Hal ini diwujudkan dengan pemberian sarana-sarana pembelajaran di lingkungan Perpustakaan Nasional. Sarana pembelajaran itu bisa berupa beberapa sarana bermain kreatif yang berada di luar gedung, tempat riset/ruang baca disertai sarana untuk menulis, dan ruang audio visual. Gambar 2. Proses terciptanya perpustakaan ideal yang berorientasi 2 tipe pemustaka Penutup Kemajuan teknologi informasi memang tidak bisa dihindari. Perpustakaan sebagai bagian dari komunitas informasi juga dituntut harus bisa mengubah pola fikir (mindset) agar tidak tertinggal jauh dengan saudara sepupunya (internet). Era kecepatan dan kemudahan informasi baik tipe tekstual dan maupun digital, menuntut sebuah hadirnya perpustakaan yang ideal yang mampu mengimbanginya.

Perpustakaan Nasional sebagai perpustakaan pembina bisa mengambil langkah lebih dulu dengan melakukan langkah sebagai berikut:
 1. melengkapi koleksi dalam dua bentuk yaitu tekstual dan digital;
 2. memberikan sarana kemudahan akses informasi dengan membuat suatu sistim informasi koleksi kearsipan (SIKP);
 3. membangun suatu gedung yang dapat mendorong terciptanya suatu komunitas pembelajaran; Semoga arah menuju ke sana segera terlaksana. Amin.

 Daftar Pustaka
Ponti, Marisa. (2007). A LIS Collaboratory to Bridge The Research-Practice gap.
Library Manajement vol. 29 No. 4/5. 2008.
Siagian, Sondang P. (2003).Sistem Informasi Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara. Stapleton, James J. (2003) Executives Guide to Knowledge Manajemen: Puncak Keunggulan Kompetitif (alih bahasa: Emil Salim, S.H.). Jakarta: Erlangga. Suhardini, Dini. (2006).

Keberadaan Lembaga Perpustakaan dan Peranannya Dalam Rangka Meningkatkan Kualitas Kehidupan Masyarakat. Perpustakaan Universitas Pendidikan Indonesia, 2006.

 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan. Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2008.