Jumat, 25 Januari 2019

Jurus Menjadi Citizen Reporter

Kehadiran Pewarta  Warga atau Citizen Jurnalism begitu pesat di media media arus utama. Semua media, baik cetak maupun elektronik, berlomba memberikan ruang bagi warga untuk turut serta memberikan informasi. Semua mencoba memfasilitasi atau sekadar mencari konsumen atau agar tidak ditinggal konsumen informasinya sehingga konsumen pun harus dilibatkan dalam menyajikan berita.

Terlepas dari berbagai alasan media media itu memberikan kesempatan untuk munculnya pewarta warga, selalu ada sisi positif baik dari sisi media sebagai tempat warga menyampaikan berita/informasi maupun warga sebagai konsumen informasi yang dihasilkan awak media massa tersebut. Karena sekarang ini kita berada di era semua berhak bicara dan dengan ini media harus bisa memfasilitasi konsumen beritanya turut menyajikan berita kalau mereka tidak ingin ditinggalkan oleh konsumennya.

Kehadiran Buku Cara Mudah menjadi Pewarta Warga Teori dan Praktik karya Imam Nugroho ini menjadi alat pengasah pisau jurnalistik masyarakat yang ingin berpartisipasi menghasilkan berita yang kredibel. Pengalaman penulis buku ini menjadi Citizen reporter di harian surya selama hampir 9 tahun membuat buku ini menjadi referensi jitu karena ditulis praktisi yang sudah teruji tulisannya.

Imam tidak hanya menyajikan unsur 5W+H yang sering diutarakan dalam teori jurnalistik. Lebih dari itu Ia juga menyajikan teknik mendasar penyusunan kalimat berita hingga tip dan teknik mengirimnya ke sebuah media. 

Pewarta warga  pun tidak serta merta menyajikan sesuatu untuk dikonsumsi publik. Mereka pun sedikit banyak harus mengikuti aturan aturan yang berlaku dalam penyajian informasi kepada masyarakat sebagaimana yang diikuti oleh media arus utama. Salah satunya adalah validitas fakta yang mereka sampaikan kepada masyarakat karena tentunya masyarakat tidak mau hanya dicekoki gosip semata.

Sebagaimana yang diutarakan oleh Imam perihal ketrampilan menulis itu dipraktikan untuk bisa menghasilkan tulisan bukan hanya teori. Ada 4 hal yang dipersyaratkan oleh Imam agar kita bisa mampu berpartisipasi menjadi pewarta warga;

Melatih membaca dan memahami pola penulisan artikel berbagai berita yang terdapat dalam koran atau majalah
Mengumpulkan dan mendatanya secara rapi menurut tema yang diinginkan
Berlatih menyusun kalimat sesuai kebiasaan media yang hendak dituju (untuk memahami selera editor media)
Berani mengirim tulisan secara berkala (karena ini adalah latihan yang sesungguhnya)
Biar bagaimanapun Pewarta warga tak akan bertidak semaunya karena apa yang mereka sajikan akan di moderasi oleh editor media di mana media itulah yang menyediakan ruang untuk Pewarta warga berkreasi dan yang pasti tanggung jawab konten informasi adalah pewarta warga itu sendiri.

Dengan adanya Pewarta Warga  masyarakat bisa memperoleh banyak pilihan informasi/berita yang mereka inginkan. Berita yang disajikan Pewarta warga  menjadi alternatif lain karena penikmat informasi bisa merasakan bagaimana sebuah berita bila disampaikan dalam kacamata konsumen berita sebagaimana dirinya.

Informasi yang disajikan oleh Pewarta warga ada keunggulan tersendiri karena biasanya lepas dari pengaruh atasan, pemilik modal maupun kepentingan sempit golongan karena Pewarta warga kebanyakan bekerja mandiri tidak berafiliasi ke grup atau perusahaan tertentu apalagi partai politik. Hal ini dikarenakan Pewarta warga bertanggungjawab pribadi atas apa apa yang telah disebarkannya.

Meski tak tertutup kemungkinan subyektifitas berita yang dihasilkan oleh seorang Pewarta warga itu terasa, setidaknya ada pendapat lain yang mungkin bisa dijadikan referensi penikmat berita dalam menafsirkan sebuah informasi. Bukankah di era keterbukaan informasi dan kebebasan berpendapat suara suara bukan hanya monopoli awak media?

Judul: Cara Mudah Menjadi Pewarta Warga (Teori dan Praktik)
Penulis: Imam Nugroho
Penerbit: Indie Book Corner, Yogyakarta
Tebal: xii+114 hlm
Tahun: 2018

Membacalah di Sekitar Anak-Anak Kita


Kebiasaan membaca memang perlu ditanamkan sejak kecil. Namun, apakah hanya perlu dengan menyuruhnya untuk belajar membaca sejak kecil maka kebiasaan membaca itu tumbuh dengan sendirinya? Tentunya pertanyaan ini masih perlu kita telisik kembali kebenarannya.

Bukankah sejak kecil kita sudah mulai rmembaca? Akan tetapi adakah di antara kita yang sudah keranjingan untuk membaca? Mungkin hanya sebagian kecil dari kita yang mempunyai gairah tinggi untuk membaca, padahal kita sudah mengenal baca tulis sejak kecil.

Membaca buku jenis apa pun, sastra, tips dan trik, motivasi maupun pengetahuan eksakta yang rumit perlu dibiasakan. Pertama kalinya tentu harus dipaksakan pada diri sendiri dengan membaca buku yang kita suka. Lambat laun itu akan menjadi kebiasaan dan bahkan mungkin menjadi suatu ketagihan. Bukankah segala jenis ketagihan dimulai dari yang namanya coba-coba?

Seseorang tidak akan serta-merta keranjingan membaca bila orang tersebut tidak mempunyai kebiasaan membaca. Nah, kebiasaan inilah yang perlu dipupuk melalui bacaan-bacaan yang menarik untuk kita. Unsur menarik-tidaknya sebuah bacaan, tergantung dari di mana passion Anda, tentunya masing-masing orang berbeda-beda.

Kembali ke persoalan menumbuhkan kegemaran membaca pada anak-anak kita. Kebiasaan itu tidak-serta merta ditumbuhkan hanya karena sejak usia pra-sekolah mereka sudah diajarkan untuk membaca. Ada yang lebih penting dan mengena daripada sekadar mengajarinya membaca, yaitu lingkungan tempat ia tumbuh harus selalu beraroma bacaan, bacaan, dan bacaan.

Lingkungan mempunyai peran yang tidak kecil untuk menumbuhkan kebiasaan pada anak. Bisa kita baca pada biografi penulis-penulis terkenal, baik dalam negeri maupun luar negeri, bahwa kebanyakan mereka dibesarkan di lingkungan yang menstimulasi mereka untuk mencintai bacaan.

Pada saat masih dalam tahap usia dini, mereka selalu diliputi buku-buku sehari-harinya. Mereka pun membaca tanpa ada rencana atau tujuan apa. Mereka menikmati kalimat dan kata-kata yang pada akhirnya melekat di alam bawah sadarnya.

Soekarno, Hatta, Gus Dur, dan Habibie adalah sebagian dari tokoh-tokoh yang sejak kecil menggemari membaca buku. Mereka pun meninggalkan koleksinya menjadi perpustakaan-perpustakaan yang bisa dipakai hingga sekarang koleksi bukunya. Garis lurusnya adalah mereka semua tumbuh dari lingkungan keluarga pecinta ilmu.

Lingkungan itu adalah keluarga sebagai pencetus utama untuk menumbuhkan kebiasaan membaca pada seorang anak. Tentunya sangat tidak mungkin ini bisa terjadi untuk memunculkan gairah membaca pada anak-anak kita jika di lingkungan keluarganya tak ada buku bacaan maupun teladan dari kedua orangtuanya.

Ketersediaan bahan bacaan bisa diusahakan untuk selalu menyisihkan anggaran rumah tangga untuk membeli buku-buku. Anak anak suka buku bergambar, maka dari itu sediakanlah buku yang seperti itu di sekitar mereka. Jangan menyuruhnya untuk membaca, tapi mulailah dari diri Anda sendiri.

Bacalah buku cerita bergambar itu dengan suara yang bisa ia dengar. Membacalah terus di sekitar mereka dan Anda akan terkejut ketika mereka suatu saat akan berlagak seperti Anda membaca. Itu semua adalah hasil dari apa yang ia dengan dan lihat serta rasakan setiap hari akibat berinteraksi dengan buku dan membaca.

Keteladanan orangtua menjadi lebih penting karena anak-anak lebih bisa menangkap apa yang ia dengar dan lihat daripada sekadar menerima perintah dan perintah. Kecenderungan meniru lebih mudah diaplikasikan anak anak dalam perilaku sehari harinya.

Mulailah membaca di sekitar mereka. Kalau perlu, membacalah dengan suara yang bisa didengarkan oleh anak-anak Anda. Membacalah terus dan terus di sekitar mereka. Salah satu kebiasaan yang bisa Anda terapkan adalah mengaji dengan suara keras di sekitar mereka. Lambat laun mereka akan melihat kebiasaan kita dan akan mencoba menirunya dan itulah saat terbagus kita menangkap momen antusias mereka untuk belajar membaca.

Keteladan ternyata lebih manjur untuk menumbuhkan kebiasaan membaca anak anak kita. Beberapa contoh di atas adalah hal kecil yang penulis alami dan lakukan di rumah. Tentu akan sangat tidak etis bila kita sebagai orangtua menyuruh anak-anak kita untuk gemar membaca namun mereka tanpa pernah sekalipun melihat orang tuanya sedang menyendiri sibuk menekuni bahan bacaan.

Anak anak perlu bukti konkret agar ia mau melakukan sesuatu. Otak mereka tak mudah menangkap ide  yang tidak konkret; harus jelas dan nyata.

Nah, sekadar tips untuk kita memulai memberi teladan, bila kita tertarik bidang ekonomi, bacalah buku ekonomi. Kalau tertarik di bidang filsafat, bacalah juga buku filsafat. Semua tergantung Anda. Bidang apakah yang membuat Anda antusias, itulah passion Anda.

Membacalah di sekitar mereka. Berikan mereka pemandangan bagaimana kita memanfaatkan waktu dan menikmati saat-saat kita sedang asyik membaca. Apakah Anda mau mencoba?

Literasi Sekolah Menjawab Tantangan Zaman

Sekolah sebagai tempat menumbuhkan semangat pembelajaran sepanjang hayat. Bisa jadi inilah tantangan terbesar sekolah dalam mencetak kader bangsa.

Biar bagaimanapun sekolah haruslah menyenangkan sehingga warganya menjadi warga yang selalu haus informasi dan pengetahuan. Sekolah jangan malah mematikan semangat tersebut karena terlalu kaku dengan aturan aturan yang menakutkan.

Memang sekolah adalah tempat mendidik sekaligus mengajar bagi guru, namun membuka dan menumbuhkan antusiasme untuk belajar itu saya rasa lebih utama. Siswa harus menikmati suasana sekolah yang pada akhirnya menumbuhkan semangat berekemajuan baik ruhani maupun fisiknya. Sekolah harus tanggap dengan masivnya serbuan informasi yang bisa diakses siswanya dengan membekalinya dengan ilmu memilih dan memilah informasi itu.

Kita masuk di era banjir informasi. Kemajuan teknologi Informasi yang begitu pesat membuat orang mendapat informasi melimpah ruah. Informasi yang cepat, mudah dan murah  membuat kita  lebih sering mengakses informasi, dengan kata lain kita dikepung dan dipaksa menerima informasi. Sampai sampai membludaknya informasi tersebut membuat orang bingung mana yang dapat dipercaya dan bisa dipakai manfaatnya.

Kini,  asal sesuatu itu  tertulis di media dan kita bisa membacanya  sekaligus mengonsumsinya, tak peduli apakah informasi tersebut  berguna atau tidak kita bisa mengonsumsinya. Seolah kita diserang dengan berjuta data untuk kita gunakan meski seringkali kita bingung mau menggunakan informasi yang mana yang tepat untuk kita.

Menjawab tantangan ini, sekolah harus bisa menyajikan sumber informasi yang kredibel yang bisa diakses oleh warganya sehingga mereka terbiasa kritis karena kebiasaan membaca yang tinggi. Selain itu, di lingkungan sekolah dibiasakan juga untuk menulis agar bisa berfikir terstruktur dan memudahkannya memahami sebuah bacaan yang telah dikonsumsinya.

Literasi Informasi adalah syarat utama memasuki dunia banjir informasi. Ini dikarenakan karena Literasi Informasi mampu membuat kemampuan seseorang untuk menyadari kebutuhan informasi dan saat kapan informasi dibutuhkan, mengidentifikasi dan menemukan lokasi informasi yang diperlukan, mengorganisasikan dan menggunakan informasi tersebut untuk mengatasi persoalan maupun mengambil keputusan.

Literasi Informasi berkaitan dengan pemakaian informasi  secara efektif dan efisien. Di era media online yang semakin berkembang kemapuan literasi informasi menjadi penting agar kita tidak kebanjiran informasi sampah. Dan yang lebih fatal lagi apabila kita termakan hoax.

Berdasarkan hal tersebut di atas,  literasi bukan hanya soal membaca. literasi lebih luas cakupannya karena literasi menunjukkan  kemampuan seseorang dalam mencari informasi, dimana lokasi informasi tersebut dan mampu mengaplikasikan informasi yang didapat untuk mengatasi persoalan setelah dievaluasi secara matang.

Seseorang yang terliterasi mempunyai tiga syarat minimal hingga seseorang tersebut dianggap terliterasi.

Pertama, Sesorang harus bisa mencari dan menemukan informasi yang dibutuhkan secara efektif dan efisien. Ketika membutuhkan suatu data terkait dengan keputusan yang diambil orang tersebut harus bisa secara cepat menetukan lokasi keberadaan di mana informasi tersebut berada. Di tahap ini, penguasaan lokasi tempat dan cara informasi didapatkan mutlak harus diketahui.

Kedua, ketika informasi sudah didapatkan, orang tersebut harus bisa mengidentifikasi dan mengevaluasi secara kritis apakah informasi tersebut bisa dipercaya dan mempunyai nilai guna untuk mengatasi persoalan maupun mengambil keputusan. Apakah informasi yang didapatkan sudah sesuai dengan kebutuhan? di sini kemampuan seseorang dalam menguasai sesuatu bisa dilihat jika ia mampu menyederhanakannya dalam sebuah tulisan.

Ketiga, apabila sudah dirasa valid dan dapat dipercaya, orang tersbut harus mampu menggunakan informasi tersebut secara kreatif dan akurat. Dengan kata lain orang tersebut harus mampu mengaplikasikan informasi yang didapat untuk mengembangkan kompetensinya agar mudah mengatasi persoalan hidupnya. Diharapkan dengan kreatifitas baru dapat ditemukan informasi baru yang melengkapi informasi  yang didapatkan sebelumnya. Proses inilah yang menjadi sintesa saat orang tersebut menuliskannya kembali.

Dengan standar minimal di atas bisa dikatakan bahwa seseorang sudah bisa dianggap terliterasi dan bisa melakukan proses belajar sepanjang hayat secara mandiri.

Di era internet ini, sekedar tahu, bukan lagi membawa manfaat bagi seseorang. Yang lebih penting adalah apakah kita bisa menggunakan informasi itu untuk mengembangkan potensi pribadi kita menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain. Tentunya itu semua bisa dilakukan jika kita mampu menuliskannya kembali dan dapat dikonsumsi orang lain.

Last but not least, Sekolah adalah sebuah ekosistim pembelajaran tentunya selepas dari situ mental pembelajar haruslah semakin tumbuh bukan malah teralienasi dengan informasi pada saat warganya lepas ke dunia yang sesungguhnya. Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan adalah tantangan untuk menciptakan masyarakat yang terliterasi.

Pengetahuan bukan lagi sekedar hafalan namun menuangkan kembali menjadi sebuah tulisan adalah sarat pertama seseorang dianggap terliterasi. Mampukah sekolah kita menjawab tantangan itu?