Jumat, 25 Januari 2019

Literasi Sekolah Menjawab Tantangan Zaman

Sekolah sebagai tempat menumbuhkan semangat pembelajaran sepanjang hayat. Bisa jadi inilah tantangan terbesar sekolah dalam mencetak kader bangsa.

Biar bagaimanapun sekolah haruslah menyenangkan sehingga warganya menjadi warga yang selalu haus informasi dan pengetahuan. Sekolah jangan malah mematikan semangat tersebut karena terlalu kaku dengan aturan aturan yang menakutkan.

Memang sekolah adalah tempat mendidik sekaligus mengajar bagi guru, namun membuka dan menumbuhkan antusiasme untuk belajar itu saya rasa lebih utama. Siswa harus menikmati suasana sekolah yang pada akhirnya menumbuhkan semangat berekemajuan baik ruhani maupun fisiknya. Sekolah harus tanggap dengan masivnya serbuan informasi yang bisa diakses siswanya dengan membekalinya dengan ilmu memilih dan memilah informasi itu.

Kita masuk di era banjir informasi. Kemajuan teknologi Informasi yang begitu pesat membuat orang mendapat informasi melimpah ruah. Informasi yang cepat, mudah dan murah  membuat kita  lebih sering mengakses informasi, dengan kata lain kita dikepung dan dipaksa menerima informasi. Sampai sampai membludaknya informasi tersebut membuat orang bingung mana yang dapat dipercaya dan bisa dipakai manfaatnya.

Kini,  asal sesuatu itu  tertulis di media dan kita bisa membacanya  sekaligus mengonsumsinya, tak peduli apakah informasi tersebut  berguna atau tidak kita bisa mengonsumsinya. Seolah kita diserang dengan berjuta data untuk kita gunakan meski seringkali kita bingung mau menggunakan informasi yang mana yang tepat untuk kita.

Menjawab tantangan ini, sekolah harus bisa menyajikan sumber informasi yang kredibel yang bisa diakses oleh warganya sehingga mereka terbiasa kritis karena kebiasaan membaca yang tinggi. Selain itu, di lingkungan sekolah dibiasakan juga untuk menulis agar bisa berfikir terstruktur dan memudahkannya memahami sebuah bacaan yang telah dikonsumsinya.

Literasi Informasi adalah syarat utama memasuki dunia banjir informasi. Ini dikarenakan karena Literasi Informasi mampu membuat kemampuan seseorang untuk menyadari kebutuhan informasi dan saat kapan informasi dibutuhkan, mengidentifikasi dan menemukan lokasi informasi yang diperlukan, mengorganisasikan dan menggunakan informasi tersebut untuk mengatasi persoalan maupun mengambil keputusan.

Literasi Informasi berkaitan dengan pemakaian informasi  secara efektif dan efisien. Di era media online yang semakin berkembang kemapuan literasi informasi menjadi penting agar kita tidak kebanjiran informasi sampah. Dan yang lebih fatal lagi apabila kita termakan hoax.

Berdasarkan hal tersebut di atas,  literasi bukan hanya soal membaca. literasi lebih luas cakupannya karena literasi menunjukkan  kemampuan seseorang dalam mencari informasi, dimana lokasi informasi tersebut dan mampu mengaplikasikan informasi yang didapat untuk mengatasi persoalan setelah dievaluasi secara matang.

Seseorang yang terliterasi mempunyai tiga syarat minimal hingga seseorang tersebut dianggap terliterasi.

Pertama, Sesorang harus bisa mencari dan menemukan informasi yang dibutuhkan secara efektif dan efisien. Ketika membutuhkan suatu data terkait dengan keputusan yang diambil orang tersebut harus bisa secara cepat menetukan lokasi keberadaan di mana informasi tersebut berada. Di tahap ini, penguasaan lokasi tempat dan cara informasi didapatkan mutlak harus diketahui.

Kedua, ketika informasi sudah didapatkan, orang tersebut harus bisa mengidentifikasi dan mengevaluasi secara kritis apakah informasi tersebut bisa dipercaya dan mempunyai nilai guna untuk mengatasi persoalan maupun mengambil keputusan. Apakah informasi yang didapatkan sudah sesuai dengan kebutuhan? di sini kemampuan seseorang dalam menguasai sesuatu bisa dilihat jika ia mampu menyederhanakannya dalam sebuah tulisan.

Ketiga, apabila sudah dirasa valid dan dapat dipercaya, orang tersbut harus mampu menggunakan informasi tersebut secara kreatif dan akurat. Dengan kata lain orang tersebut harus mampu mengaplikasikan informasi yang didapat untuk mengembangkan kompetensinya agar mudah mengatasi persoalan hidupnya. Diharapkan dengan kreatifitas baru dapat ditemukan informasi baru yang melengkapi informasi  yang didapatkan sebelumnya. Proses inilah yang menjadi sintesa saat orang tersebut menuliskannya kembali.

Dengan standar minimal di atas bisa dikatakan bahwa seseorang sudah bisa dianggap terliterasi dan bisa melakukan proses belajar sepanjang hayat secara mandiri.

Di era internet ini, sekedar tahu, bukan lagi membawa manfaat bagi seseorang. Yang lebih penting adalah apakah kita bisa menggunakan informasi itu untuk mengembangkan potensi pribadi kita menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain. Tentunya itu semua bisa dilakukan jika kita mampu menuliskannya kembali dan dapat dikonsumsi orang lain.

Last but not least, Sekolah adalah sebuah ekosistim pembelajaran tentunya selepas dari situ mental pembelajar haruslah semakin tumbuh bukan malah teralienasi dengan informasi pada saat warganya lepas ke dunia yang sesungguhnya. Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan adalah tantangan untuk menciptakan masyarakat yang terliterasi.

Pengetahuan bukan lagi sekedar hafalan namun menuangkan kembali menjadi sebuah tulisan adalah sarat pertama seseorang dianggap terliterasi. Mampukah sekolah kita menjawab tantangan itu?

Jejak Prostitusi Lesbian

“Ya, namaku Rere. Sering dipanggil Re:. Pelacur itu pekerjaanku! Lebih tepatnya, pelacur lesbian! Lonte! Sampah masyarakat!" (hlm. 71).

Itulah kata kata lugas yang diutarakan sosok remaja Re: pada sang pencerita dalam novel Re: karya Maman Suherman. Ada nada kemarahan dan protes yang ingin disampaikan mengenai jati dirinya yang sebenarnya.

Berprofesi sebagai gadis penjaja cinta (khusus melayani sesama perempuan) bukanlah keinginan Re:. Apa yang menjadikannya terjerumus ke dalam dunia esek-esek ini menjadi wacana yang ingin disampaikan oleh Kang Maman. Faktor apakah yang membuat mereka rela dianggap sebagai sampah masyarakat.

Sebagai anak yang terlahir dari hubungan di luar nikah, Re: tumbuh dalam stigma yang mengelilinginya, yaitu anak haram. Barang najis bagi banyak orang karena hasil dari hubungan terlarang.

Selepas ibunya meninggal, Re: diasuh oleh neneknya yang makin membenci keberadaannya karena dianggap anak pembawa sial. Dari sini, Re: menjadi anak yang lebih pendiam, bahkan terbawa sampai usia sekolah. Mental yang terhinakan membuat ia jadi penyendiri.

Tumbuh di lingkungan penuh cacian dan makian, kepribadian Re: menjadi sedikit demi sedikit mulai melawan dengan cara yang remaja lakukan: nakal. Pubertas yang harusnya penuh dialog kasih sayang dengan orangtua, sama sekali tak dirasakannya.

Di masa SMA, kehidupan bebas mulai dijalaninya. Dan akhirnya dia pun mewarisi apa yang ibunya pernah alami, yaitu hamil di luar nikah.

Berawal dari kehamilan di luar nikah inilah Re: terjerumus ke cengkeraman seorang mucikari yang dengan cerdiknya mampu mendorong dia untuk mencari uang dengan dengan menjual diri.

Sebagaimana yang diceritakan oleh Kang Maman, novel ini ia tulis berdasarkan penelitiannya saat membuat skripsi sebagai mahasiswa kriminologi. Di tahun 80-an, pelacur lesbian masih menjadi tanda tanya keberadaanya dan Kang Maman berhasil mengungkapnya. Pelacur lesbian itu memang benar adanya.

Sosok Re: adalah salah satu obyek penelitiannya itu. Melalui sosok Re:, Kang Maman berhasil mengungkap lebih banyak lagi sisi sisi dunia pelacuran ibu kota.

Apa yang ditawarkan oleh Kang Maman mungkin tak seheboh dengan apa yang ditulis oleh Moammar Emka dalam Jakarta Undercover. Namun, apa yang dikisahkan Kang Maman dalam novel ini, banyak menelisik sisi kemanusiaan dunia pelacuran.

Dunia prostitusi memang sejalan dengan peradaban manusia itu sendiri. Selalu hadir secara tersembunyi maupun terbuka. Banyak yang mencemoohnya namun tak sedikit pula yang berusaha memahaminya dari berbagai sisi.

Salah satunya adalah penyebab seseorang menjadi pelacur. Keterhimpitan ekonomi adalah penyebab utama. Dan ini sering dimanfaatkan orang-orang picik dan jahat yang suka memperbudak orang lain; germo.

Kisah seorang pelacur mampu menginspirasi Titiek puspa menulis lagu Kupu-Kupu Malam. Kita bisa mencari penyebab lahirnya lirik “bekerja bertaruh seluruh jiwa raga” yang begitu melegenda itu.

Apakah kita pernah membayangkan bahwa seseorang rela dihina dan dicemooh setiap hari sebagai pelacur hanya demi menghidupi anak-anaknya? Hidup banyak pilihan, tapi kenapa harus melacur?

Secara garis besar, banyaknya pelacuran disebabkan oleh akses ekonomi yang sulit. Ditambah lagi, jebakan oknum (mucikari) yang memanfaatkan kelemahan para perempuan yang terdesak secara ekonomi dengan menjeratnya dengan utang piutang yang ditentukan secara sepihak. Dan Re: adalah bagian dari salah satu yang terjerat itu.

Novel ini juga menunjukkan beberapa lokasi hotspot tempat pelacuran di Ibukota yang sampai sekarang masih terdengar. Untuk yang pernah membaca Jakarta Undercover-nya Moammar Emka, pembaca bisa menemukan banyak kesamaan tempat dengan yang ditulis di buku ini. Mungkin pelayanan dan tampilannya saja yang berbeda, tapi intinya tetap sama di kedua buku itu. Bisnis kelamin.

Prostitusi adalah cara instan mendapatkan uang, terutama bagi para germo alias mucikari. Nah, bagi mereka yang tak punya pilihan lagi mengakses ekonomi disertai minimnya keterampilan, mampukah memalingkan muka dari godaan rupiah untuk menjual diri? Dan sekali lagi, hidup adalah pilihan. Selamat membaca.

Judul: Re:
Penulis: Maman Suherman
Penerbit: Jakarta; POP, 2014
Tebal: vi+160
ISBN: 978 979 91 0702 2

Kreativitas Bukan Karunia Genetis

Kenapa  banyak orang kreatif yang lahir dari daerah tertentu? Ada hubungan seperti apa antara kondisi alam maupun sosial budaya yang mampu menjadi pendorong suatu daerah melahirkan orang yang jenius? Itulah yang mendasari Eric Weiner , seorang pelancong filosofis sekaligus penulis, pembicara dan mantan koresponden sebuah media radio.
Setelah mengejutkan pembaca dengan buku sebelumnya yaitu geografi kebahagiaan atau  History of Bliss kini ia melakukan kembali pemetaannya dengan topik yang lebih subyektif lagi, The Geography of Genius.
Ada beberapa kota yang menjadi obyek ulasannya di antaranya: Athena, Hangzhou, Florence, Edinburgh, Kolkata, Wina dan Silicon Valley. Nama kota kota tersebut sudah tak asing bagi kita pecinta ilmu pengetahuan. Mereka adalah kota yang banyak melahirkan para jenius di bidangnya masing masing.
Bagi orang kreatif tidak penting apakah lingkungan sekitar mereka baik atau buruk karena mereka ingin mengambil inspirasi dari dua keadaan tersebut. Dan kebanyakan dari kita berada pada puncak kreatif saat kita mengalami keterbatasan.
Garis lurus dari semua itu adalah bahwa orang kreatif selalu berdampingan dengan resiko. Orang jenius tak jarang memepertaruhkan kekonyolan mereka. Kejeniusan selalu ada harganya  dan sebagian orang juga sebagian tempat lebih  bersedia untuk membayar harga tersebut dibandingkan yang lainnya.
Athena, adalah penghasil filosof terkemuka,  Plato, Aristoteles, Phitagoras dll, adalah ilmuwan yang lahir dari negeri Yunani tepatnya di Athena. Kondisi alam dan lingkungan yang seperti apakah hingga melahirkan orang orang kreatif itu membuat Eric blusukan ke museum dan situs situs bersejarah di sana. Mencoba merekonstruksi masa lalu dari bukti bukti yang ada. Kondisi alam dan penghargaan pada pengetahuan dari luar membuat mereka berkembang. Ilmu dari Mesir, Babilonia dan Sumeria mereka adaptasi menjadi ilmu baru. Dan memang benar di mana sesuatu itu dihargai maka sesuatu itu pun akan tumbuh.
Apa yang diuraikan tentang Athena tak berbeda jauh dengan Hangzhou. Hangzhou sebagaimana kota di China adalah suatu tempat dengan penghargaan tinggi terhadap orang orang kreatif di masanya. Namun bagi orang orang di sini apa yang disebut dengan inovasi lebih pada seberapa berguna penemuan itu bagi masyarakatnya. Dan satu hal yang pasti meski berguna penemuan tersebut harus tetap berpijak dari tradisi masa lalu.
Ada yang khas dari apa yang diuraikan oleh eric dalam bukunya ini, bahwa kejeniusan itu beragam bukan hanya milik ilmuwan alam semata tapi juga ilmuwan sosial dan tak ketinggalan ilmuwan di bidang  seni. Baginya kreatifitas bisa dimiliki oleh semua bidang keahlian. Ada ahli matematika, sastra, musik yang menghiasi deskripsi orang kreatif dalam buku ini. Dan semuanya adalah maestro, dan tentunya daerahnya berbeda beda.
Florence, sebuah kota kecil di Italia tentunya tak luput dari perhatian Eric. Kota tempat lahirnya renaisans ini tentunya menyimpan berjuta misteri hingga melahirkan begitu banyak seniman dan ilmuwan terkemuka didunia. Ketika Athena menghargai kebijaksanaan dan melahirkan Socrates, lantas apa yang ditawarkan oleh kota yang kumuh dan rawan banjir ini? Ternyata di sana banyak sekali Bottega yang berarti bengkel kerja. Di sini sebuah formula baru diuji dan dipelajari tak jarang mereka berhasil membentuk penemuan baru dari tempat ini. Dan yang terpenting adalahmemeupuk bakat bakat baru di sini.
Di Bottega inilah para ilmuwan tersohor memulai kreativitasnya, Michaelangelo dan  Leonardo da Vinci adalah dua dari sekian banyak jenius yang menjadi   alumni Bottega. Mereka  magang pada ilmuwan yang berkompeten pemilik bottega itu. Dan mereka belajar secara alami learning by doing di sana. Florence adalah kota yang mau menghargai  sebuah karya dengan mahal. Mereka  tak berhitung untuk membayar seorang seniman dan inilah yang membuatnya melahirkan banyak ilmuwan dan seniman.
Dan hal yang dihargai di suatu negeri akan tumbuh di sana. Ungkapan ini memantik dan menjadi garis lurus pembahasan buku ini.  Dan seperti diyakininya setelah melalui perjalanan ke Athena, Kolkata, Hangzhou, Edinburgh, Florence, Wina dan Silicon Valley, eric menganggap bahwa kreativitas bukan sebagai karunia atau anugerah, melainkan sesuatu yang diusahakan melalui kerja keras. Dan tentunya itu akan tumbuh jika ada situasi yang mendukung. Dan saya pun setuju dengan pendapatnya. Selamat membaca.
Judul                    : The Geography of Genius, Pencarian Tempat tempat  Paling kreatifdi Dunia dari Athena kuno Sampai Silicon Valey.
Penulis                 :Eric  Weiner
Penerjemah         :Barokah Ruziati
Penerbit              : Qanita PT Mizan Pustaka Bandung,  Cetakan I
Tebal                   : 576 hlm.