Jumat, 25 Januari 2019

Jejak Prostitusi Lesbian

“Ya, namaku Rere. Sering dipanggil Re:. Pelacur itu pekerjaanku! Lebih tepatnya, pelacur lesbian! Lonte! Sampah masyarakat!" (hlm. 71).

Itulah kata kata lugas yang diutarakan sosok remaja Re: pada sang pencerita dalam novel Re: karya Maman Suherman. Ada nada kemarahan dan protes yang ingin disampaikan mengenai jati dirinya yang sebenarnya.

Berprofesi sebagai gadis penjaja cinta (khusus melayani sesama perempuan) bukanlah keinginan Re:. Apa yang menjadikannya terjerumus ke dalam dunia esek-esek ini menjadi wacana yang ingin disampaikan oleh Kang Maman. Faktor apakah yang membuat mereka rela dianggap sebagai sampah masyarakat.

Sebagai anak yang terlahir dari hubungan di luar nikah, Re: tumbuh dalam stigma yang mengelilinginya, yaitu anak haram. Barang najis bagi banyak orang karena hasil dari hubungan terlarang.

Selepas ibunya meninggal, Re: diasuh oleh neneknya yang makin membenci keberadaannya karena dianggap anak pembawa sial. Dari sini, Re: menjadi anak yang lebih pendiam, bahkan terbawa sampai usia sekolah. Mental yang terhinakan membuat ia jadi penyendiri.

Tumbuh di lingkungan penuh cacian dan makian, kepribadian Re: menjadi sedikit demi sedikit mulai melawan dengan cara yang remaja lakukan: nakal. Pubertas yang harusnya penuh dialog kasih sayang dengan orangtua, sama sekali tak dirasakannya.

Di masa SMA, kehidupan bebas mulai dijalaninya. Dan akhirnya dia pun mewarisi apa yang ibunya pernah alami, yaitu hamil di luar nikah.

Berawal dari kehamilan di luar nikah inilah Re: terjerumus ke cengkeraman seorang mucikari yang dengan cerdiknya mampu mendorong dia untuk mencari uang dengan dengan menjual diri.

Sebagaimana yang diceritakan oleh Kang Maman, novel ini ia tulis berdasarkan penelitiannya saat membuat skripsi sebagai mahasiswa kriminologi. Di tahun 80-an, pelacur lesbian masih menjadi tanda tanya keberadaanya dan Kang Maman berhasil mengungkapnya. Pelacur lesbian itu memang benar adanya.

Sosok Re: adalah salah satu obyek penelitiannya itu. Melalui sosok Re:, Kang Maman berhasil mengungkap lebih banyak lagi sisi sisi dunia pelacuran ibu kota.

Apa yang ditawarkan oleh Kang Maman mungkin tak seheboh dengan apa yang ditulis oleh Moammar Emka dalam Jakarta Undercover. Namun, apa yang dikisahkan Kang Maman dalam novel ini, banyak menelisik sisi kemanusiaan dunia pelacuran.

Dunia prostitusi memang sejalan dengan peradaban manusia itu sendiri. Selalu hadir secara tersembunyi maupun terbuka. Banyak yang mencemoohnya namun tak sedikit pula yang berusaha memahaminya dari berbagai sisi.

Salah satunya adalah penyebab seseorang menjadi pelacur. Keterhimpitan ekonomi adalah penyebab utama. Dan ini sering dimanfaatkan orang-orang picik dan jahat yang suka memperbudak orang lain; germo.

Kisah seorang pelacur mampu menginspirasi Titiek puspa menulis lagu Kupu-Kupu Malam. Kita bisa mencari penyebab lahirnya lirik “bekerja bertaruh seluruh jiwa raga” yang begitu melegenda itu.

Apakah kita pernah membayangkan bahwa seseorang rela dihina dan dicemooh setiap hari sebagai pelacur hanya demi menghidupi anak-anaknya? Hidup banyak pilihan, tapi kenapa harus melacur?

Secara garis besar, banyaknya pelacuran disebabkan oleh akses ekonomi yang sulit. Ditambah lagi, jebakan oknum (mucikari) yang memanfaatkan kelemahan para perempuan yang terdesak secara ekonomi dengan menjeratnya dengan utang piutang yang ditentukan secara sepihak. Dan Re: adalah bagian dari salah satu yang terjerat itu.

Novel ini juga menunjukkan beberapa lokasi hotspot tempat pelacuran di Ibukota yang sampai sekarang masih terdengar. Untuk yang pernah membaca Jakarta Undercover-nya Moammar Emka, pembaca bisa menemukan banyak kesamaan tempat dengan yang ditulis di buku ini. Mungkin pelayanan dan tampilannya saja yang berbeda, tapi intinya tetap sama di kedua buku itu. Bisnis kelamin.

Prostitusi adalah cara instan mendapatkan uang, terutama bagi para germo alias mucikari. Nah, bagi mereka yang tak punya pilihan lagi mengakses ekonomi disertai minimnya keterampilan, mampukah memalingkan muka dari godaan rupiah untuk menjual diri? Dan sekali lagi, hidup adalah pilihan. Selamat membaca.

Judul: Re:
Penulis: Maman Suherman
Penerbit: Jakarta; POP, 2014
Tebal: vi+160
ISBN: 978 979 91 0702 2

Kreativitas Bukan Karunia Genetis

Kenapa  banyak orang kreatif yang lahir dari daerah tertentu? Ada hubungan seperti apa antara kondisi alam maupun sosial budaya yang mampu menjadi pendorong suatu daerah melahirkan orang yang jenius? Itulah yang mendasari Eric Weiner , seorang pelancong filosofis sekaligus penulis, pembicara dan mantan koresponden sebuah media radio.
Setelah mengejutkan pembaca dengan buku sebelumnya yaitu geografi kebahagiaan atau  History of Bliss kini ia melakukan kembali pemetaannya dengan topik yang lebih subyektif lagi, The Geography of Genius.
Ada beberapa kota yang menjadi obyek ulasannya di antaranya: Athena, Hangzhou, Florence, Edinburgh, Kolkata, Wina dan Silicon Valley. Nama kota kota tersebut sudah tak asing bagi kita pecinta ilmu pengetahuan. Mereka adalah kota yang banyak melahirkan para jenius di bidangnya masing masing.
Bagi orang kreatif tidak penting apakah lingkungan sekitar mereka baik atau buruk karena mereka ingin mengambil inspirasi dari dua keadaan tersebut. Dan kebanyakan dari kita berada pada puncak kreatif saat kita mengalami keterbatasan.
Garis lurus dari semua itu adalah bahwa orang kreatif selalu berdampingan dengan resiko. Orang jenius tak jarang memepertaruhkan kekonyolan mereka. Kejeniusan selalu ada harganya  dan sebagian orang juga sebagian tempat lebih  bersedia untuk membayar harga tersebut dibandingkan yang lainnya.
Athena, adalah penghasil filosof terkemuka,  Plato, Aristoteles, Phitagoras dll, adalah ilmuwan yang lahir dari negeri Yunani tepatnya di Athena. Kondisi alam dan lingkungan yang seperti apakah hingga melahirkan orang orang kreatif itu membuat Eric blusukan ke museum dan situs situs bersejarah di sana. Mencoba merekonstruksi masa lalu dari bukti bukti yang ada. Kondisi alam dan penghargaan pada pengetahuan dari luar membuat mereka berkembang. Ilmu dari Mesir, Babilonia dan Sumeria mereka adaptasi menjadi ilmu baru. Dan memang benar di mana sesuatu itu dihargai maka sesuatu itu pun akan tumbuh.
Apa yang diuraikan tentang Athena tak berbeda jauh dengan Hangzhou. Hangzhou sebagaimana kota di China adalah suatu tempat dengan penghargaan tinggi terhadap orang orang kreatif di masanya. Namun bagi orang orang di sini apa yang disebut dengan inovasi lebih pada seberapa berguna penemuan itu bagi masyarakatnya. Dan satu hal yang pasti meski berguna penemuan tersebut harus tetap berpijak dari tradisi masa lalu.
Ada yang khas dari apa yang diuraikan oleh eric dalam bukunya ini, bahwa kejeniusan itu beragam bukan hanya milik ilmuwan alam semata tapi juga ilmuwan sosial dan tak ketinggalan ilmuwan di bidang  seni. Baginya kreatifitas bisa dimiliki oleh semua bidang keahlian. Ada ahli matematika, sastra, musik yang menghiasi deskripsi orang kreatif dalam buku ini. Dan semuanya adalah maestro, dan tentunya daerahnya berbeda beda.
Florence, sebuah kota kecil di Italia tentunya tak luput dari perhatian Eric. Kota tempat lahirnya renaisans ini tentunya menyimpan berjuta misteri hingga melahirkan begitu banyak seniman dan ilmuwan terkemuka didunia. Ketika Athena menghargai kebijaksanaan dan melahirkan Socrates, lantas apa yang ditawarkan oleh kota yang kumuh dan rawan banjir ini? Ternyata di sana banyak sekali Bottega yang berarti bengkel kerja. Di sini sebuah formula baru diuji dan dipelajari tak jarang mereka berhasil membentuk penemuan baru dari tempat ini. Dan yang terpenting adalahmemeupuk bakat bakat baru di sini.
Di Bottega inilah para ilmuwan tersohor memulai kreativitasnya, Michaelangelo dan  Leonardo da Vinci adalah dua dari sekian banyak jenius yang menjadi   alumni Bottega. Mereka  magang pada ilmuwan yang berkompeten pemilik bottega itu. Dan mereka belajar secara alami learning by doing di sana. Florence adalah kota yang mau menghargai  sebuah karya dengan mahal. Mereka  tak berhitung untuk membayar seorang seniman dan inilah yang membuatnya melahirkan banyak ilmuwan dan seniman.
Dan hal yang dihargai di suatu negeri akan tumbuh di sana. Ungkapan ini memantik dan menjadi garis lurus pembahasan buku ini.  Dan seperti diyakininya setelah melalui perjalanan ke Athena, Kolkata, Hangzhou, Edinburgh, Florence, Wina dan Silicon Valley, eric menganggap bahwa kreativitas bukan sebagai karunia atau anugerah, melainkan sesuatu yang diusahakan melalui kerja keras. Dan tentunya itu akan tumbuh jika ada situasi yang mendukung. Dan saya pun setuju dengan pendapatnya. Selamat membaca.
Judul                    : The Geography of Genius, Pencarian Tempat tempat  Paling kreatifdi Dunia dari Athena kuno Sampai Silicon Valey.
Penulis                 :Eric  Weiner
Penerjemah         :Barokah Ruziati
Penerbit              : Qanita PT Mizan Pustaka Bandung,  Cetakan I
Tebal                   : 576 hlm.

Karena Korupsi Adalah pilihan

Apakah kejahatan itu karena ada kesempatan? Bisa jadi. Lingkungan yang memberikan seseorang untuk berbuat jahat bisa mengubah perangai yang baik seseorang menjadi buruk. Novel ini membahas problematika niat dan kesempatan yang bisa melahirkan sebuah kejahatan.

Arimbi, wanita muda dari sebuah desa, bekerja di Jakarta. Dengan bekal ijasah sarjana yang ia punya, Arimbi berhasil  menjadi pegawai negeri di sebuah pengadilan negeri di Jakarta. Ia yang lugu tak mengenal gaya dan aneka keindahan materi, bahkan mungkin gaya hidup hedonis pun jauh dari kosakata kehidupannya sehari hari.

Di sebuah lingkungan birokrasi yang begitu mendewakan nilai uang untuk memperlancar segala urusan, Arimbi tergagap ketika mengetahui kehidupan teman-teman sekantornya yang terasa begitu mudah dijalani di matanya. Ia bertanya-tanya dalam hati, mereka sama dengannya sebagai pegawai negeri biasa namun sepertinya mereka tidak mengalami kesulitan untuk hidup di Jakarta.

Hidup yang berat di Jakarta, bagi Arimbi, bagaimana dia harus menyisakan gajinya untuk membayar kost dan mengirim sebagian ke kampungnya. Itu dijalani dengan hidup yang super hemat kalau tidak bisa dikatakan melarat.

Meski orang tuanya tak pernah tahu seperti apa hidup di Jakarta, mereka hanya tahu dan bangga anaknya telah menjadi pegawai negeri di sebuah instansi pemerintah. Setiap hari berseragam dengan jam kerja dan gaji yang pasti.

Namun, ketika hari demi hari yang diketahui oleh Arimbi adalah pola perilaku, yang semula ia tak mengerti hingga dikatakan ndeso oleh teman-temannya, bahwa apa yang selama ini dilakukan oleh temannya adalah ngobyek hingga mereka bisa hidup layak di Jakarta.

Arimbi yang lugu itu mulai tergoda, apalagi saat ia jatuh cinta dan perlu biaya untuk menikmati jatuh cintanya. Terlebih lagi ketika ia berkenalan dan mulai dipercaya oleh atasannya, Danti. Hidupnya berubah 180 derajat. Ia menjadi yakin bahwa uang adalah raja untuk menjadikan segala menjadi mudah untuk bisa hidup di Jakarta.

Diawali dari tip-tip kecil yang diberikan Bu Danti ketika ia harus menjadi juru tulis untuk perkara-perkara yang harus diatur agar cepat selesai ataupun dimenangkan, arimbi mulai ketagihan untuk mendapatkan uang dengan cepat dan instan. Ketika semua teman mengiyakan apa yang dilakukannya karena semua berbuat sama di instansinya ia semakin lupa diri dan tak punya malu untuk berbuat curang.

Bagi Arimbi korupsi adalah kewajaran karena semua melakukan hal yang sama. Kesempatan yang ada disertai niat karena himpitan hidupnya maka kebiasaan berbuat curang menjadi hal yang tak perlu ditanyakan benar salahnya.

Penggambaran penyebab korupsi di novel ini sangat detail sekali. Di mulai dari alasan himpitan ekonomi dan lingkungan yang permisif untuk itu yang pada akhirnya menimbulkan hubungan antara niat dan kesempatan sebagai penyebab timbulnya kejahatan.

Namun penulis kurang mengeksplorasi sisi psikologis tokohnya bahwa biar bagaimanapun segala tindakan adalah pilihan. Korupsi bukanlah murni adanya kesempatan karena setip orang punya pilihan untuk bertindak. Semua mempunyai tataran moral dalam nurani masing-masing. Pertentangan batin tokohnya kurang dieksplorasi sehingga pembaca hanya mengikuti alur yang lurus tanpa ada pertentangan-pertentangan batin yang membikin kita berdialog dengan teks.

Hingga pada akhirnya Arimbi tertangkap masih saja ia menyalahkan orang lain bukan menyadari bahwa setiap kejahatan cepat atau lambat pasti terbuka mesti disembunyikan sedemikian rupa.

Terlepas dari itu semua novel ini menggambarkan kebobrokan aparat hukum hingga kebusukan perilaku-perilaku penghuni penjara pun digambarkan dengan detail dan riil. Kehidupan yang terkucil di penjara memunculkan aneka penyimpangan hidup mulai dari seks dan pengalihan kebahagiaan melalui obat-obatan untuk sejenak menelikung rasa sepi di penjara.

Bagaimana kesepian di penjara bisa membuat seseorang menyalurkan hasratnya pada sesama jenis sangat menarik untuk disimak. Penjara yang harusnya menjadi tempat mendidik para pesakitan bahkan menjadi tempat tumbuhnya kejahatan-kejahatan baru. Pabrik obat obatan pun ada di sana dan seperti yang sudah banyak diketahui di media massa bagaimana liku-liku bandar narkoba melakukan bisnisnya digambarkan dengan apik.

Penggambaran apa yang terjadi di penjara kelihatannya didukung riset yang apik mengingat penulis novel ini adalah mantan wartawan juga. Pengalaman melakukan investigasi jurnalistik saat menjadi wartawan inilah kelihatannya memperkaya detail setiap kisah di area yang selama ini tertutup dari mata masyarakat. Inilah salah satu keunggulannya.

Terlepas dari itu semua novel ini menggambarkan kebobrokan aparat hukum hingga kebusukan perilaku-perilaku penghuni penjara pun digambarkan dengan detail dan riil. Kehidupan yang terkucil di penjara memunculkan aneka penyimpangan hidup mulai dari seks dan pengalihan kebahagiaan melalui obat-obatan untuk sejenak menelikung rasa sepi di penjara.

Pada akhirnya korupsi adalah pilihan bukan melulu karena adanya kesempatan. Manusia tetaplah punya nurani yang tak mungkin bisa begitu saja membiarkannya bebas bertindak apa pun agamanya. Selamat menikmati kisah Arimbi.

Judul: 86
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan kedua, April 2014
Tebal: 256 halaman   
baca juga; https://www.qureta.com/post/13-sajak-cinta