Jumat, 25 Januari 2019

Kreativitas Bukan Karunia Genetis

Kenapa  banyak orang kreatif yang lahir dari daerah tertentu? Ada hubungan seperti apa antara kondisi alam maupun sosial budaya yang mampu menjadi pendorong suatu daerah melahirkan orang yang jenius? Itulah yang mendasari Eric Weiner , seorang pelancong filosofis sekaligus penulis, pembicara dan mantan koresponden sebuah media radio.
Setelah mengejutkan pembaca dengan buku sebelumnya yaitu geografi kebahagiaan atau  History of Bliss kini ia melakukan kembali pemetaannya dengan topik yang lebih subyektif lagi, The Geography of Genius.
Ada beberapa kota yang menjadi obyek ulasannya di antaranya: Athena, Hangzhou, Florence, Edinburgh, Kolkata, Wina dan Silicon Valley. Nama kota kota tersebut sudah tak asing bagi kita pecinta ilmu pengetahuan. Mereka adalah kota yang banyak melahirkan para jenius di bidangnya masing masing.
Bagi orang kreatif tidak penting apakah lingkungan sekitar mereka baik atau buruk karena mereka ingin mengambil inspirasi dari dua keadaan tersebut. Dan kebanyakan dari kita berada pada puncak kreatif saat kita mengalami keterbatasan.
Garis lurus dari semua itu adalah bahwa orang kreatif selalu berdampingan dengan resiko. Orang jenius tak jarang memepertaruhkan kekonyolan mereka. Kejeniusan selalu ada harganya  dan sebagian orang juga sebagian tempat lebih  bersedia untuk membayar harga tersebut dibandingkan yang lainnya.
Athena, adalah penghasil filosof terkemuka,  Plato, Aristoteles, Phitagoras dll, adalah ilmuwan yang lahir dari negeri Yunani tepatnya di Athena. Kondisi alam dan lingkungan yang seperti apakah hingga melahirkan orang orang kreatif itu membuat Eric blusukan ke museum dan situs situs bersejarah di sana. Mencoba merekonstruksi masa lalu dari bukti bukti yang ada. Kondisi alam dan penghargaan pada pengetahuan dari luar membuat mereka berkembang. Ilmu dari Mesir, Babilonia dan Sumeria mereka adaptasi menjadi ilmu baru. Dan memang benar di mana sesuatu itu dihargai maka sesuatu itu pun akan tumbuh.
Apa yang diuraikan tentang Athena tak berbeda jauh dengan Hangzhou. Hangzhou sebagaimana kota di China adalah suatu tempat dengan penghargaan tinggi terhadap orang orang kreatif di masanya. Namun bagi orang orang di sini apa yang disebut dengan inovasi lebih pada seberapa berguna penemuan itu bagi masyarakatnya. Dan satu hal yang pasti meski berguna penemuan tersebut harus tetap berpijak dari tradisi masa lalu.
Ada yang khas dari apa yang diuraikan oleh eric dalam bukunya ini, bahwa kejeniusan itu beragam bukan hanya milik ilmuwan alam semata tapi juga ilmuwan sosial dan tak ketinggalan ilmuwan di bidang  seni. Baginya kreatifitas bisa dimiliki oleh semua bidang keahlian. Ada ahli matematika, sastra, musik yang menghiasi deskripsi orang kreatif dalam buku ini. Dan semuanya adalah maestro, dan tentunya daerahnya berbeda beda.
Florence, sebuah kota kecil di Italia tentunya tak luput dari perhatian Eric. Kota tempat lahirnya renaisans ini tentunya menyimpan berjuta misteri hingga melahirkan begitu banyak seniman dan ilmuwan terkemuka didunia. Ketika Athena menghargai kebijaksanaan dan melahirkan Socrates, lantas apa yang ditawarkan oleh kota yang kumuh dan rawan banjir ini? Ternyata di sana banyak sekali Bottega yang berarti bengkel kerja. Di sini sebuah formula baru diuji dan dipelajari tak jarang mereka berhasil membentuk penemuan baru dari tempat ini. Dan yang terpenting adalahmemeupuk bakat bakat baru di sini.
Di Bottega inilah para ilmuwan tersohor memulai kreativitasnya, Michaelangelo dan  Leonardo da Vinci adalah dua dari sekian banyak jenius yang menjadi   alumni Bottega. Mereka  magang pada ilmuwan yang berkompeten pemilik bottega itu. Dan mereka belajar secara alami learning by doing di sana. Florence adalah kota yang mau menghargai  sebuah karya dengan mahal. Mereka  tak berhitung untuk membayar seorang seniman dan inilah yang membuatnya melahirkan banyak ilmuwan dan seniman.
Dan hal yang dihargai di suatu negeri akan tumbuh di sana. Ungkapan ini memantik dan menjadi garis lurus pembahasan buku ini.  Dan seperti diyakininya setelah melalui perjalanan ke Athena, Kolkata, Hangzhou, Edinburgh, Florence, Wina dan Silicon Valley, eric menganggap bahwa kreativitas bukan sebagai karunia atau anugerah, melainkan sesuatu yang diusahakan melalui kerja keras. Dan tentunya itu akan tumbuh jika ada situasi yang mendukung. Dan saya pun setuju dengan pendapatnya. Selamat membaca.
Judul                    : The Geography of Genius, Pencarian Tempat tempat  Paling kreatifdi Dunia dari Athena kuno Sampai Silicon Valey.
Penulis                 :Eric  Weiner
Penerjemah         :Barokah Ruziati
Penerbit              : Qanita PT Mizan Pustaka Bandung,  Cetakan I
Tebal                   : 576 hlm.

Karena Korupsi Adalah pilihan

Apakah kejahatan itu karena ada kesempatan? Bisa jadi. Lingkungan yang memberikan seseorang untuk berbuat jahat bisa mengubah perangai yang baik seseorang menjadi buruk. Novel ini membahas problematika niat dan kesempatan yang bisa melahirkan sebuah kejahatan.

Arimbi, wanita muda dari sebuah desa, bekerja di Jakarta. Dengan bekal ijasah sarjana yang ia punya, Arimbi berhasil  menjadi pegawai negeri di sebuah pengadilan negeri di Jakarta. Ia yang lugu tak mengenal gaya dan aneka keindahan materi, bahkan mungkin gaya hidup hedonis pun jauh dari kosakata kehidupannya sehari hari.

Di sebuah lingkungan birokrasi yang begitu mendewakan nilai uang untuk memperlancar segala urusan, Arimbi tergagap ketika mengetahui kehidupan teman-teman sekantornya yang terasa begitu mudah dijalani di matanya. Ia bertanya-tanya dalam hati, mereka sama dengannya sebagai pegawai negeri biasa namun sepertinya mereka tidak mengalami kesulitan untuk hidup di Jakarta.

Hidup yang berat di Jakarta, bagi Arimbi, bagaimana dia harus menyisakan gajinya untuk membayar kost dan mengirim sebagian ke kampungnya. Itu dijalani dengan hidup yang super hemat kalau tidak bisa dikatakan melarat.

Meski orang tuanya tak pernah tahu seperti apa hidup di Jakarta, mereka hanya tahu dan bangga anaknya telah menjadi pegawai negeri di sebuah instansi pemerintah. Setiap hari berseragam dengan jam kerja dan gaji yang pasti.

Namun, ketika hari demi hari yang diketahui oleh Arimbi adalah pola perilaku, yang semula ia tak mengerti hingga dikatakan ndeso oleh teman-temannya, bahwa apa yang selama ini dilakukan oleh temannya adalah ngobyek hingga mereka bisa hidup layak di Jakarta.

Arimbi yang lugu itu mulai tergoda, apalagi saat ia jatuh cinta dan perlu biaya untuk menikmati jatuh cintanya. Terlebih lagi ketika ia berkenalan dan mulai dipercaya oleh atasannya, Danti. Hidupnya berubah 180 derajat. Ia menjadi yakin bahwa uang adalah raja untuk menjadikan segala menjadi mudah untuk bisa hidup di Jakarta.

Diawali dari tip-tip kecil yang diberikan Bu Danti ketika ia harus menjadi juru tulis untuk perkara-perkara yang harus diatur agar cepat selesai ataupun dimenangkan, arimbi mulai ketagihan untuk mendapatkan uang dengan cepat dan instan. Ketika semua teman mengiyakan apa yang dilakukannya karena semua berbuat sama di instansinya ia semakin lupa diri dan tak punya malu untuk berbuat curang.

Bagi Arimbi korupsi adalah kewajaran karena semua melakukan hal yang sama. Kesempatan yang ada disertai niat karena himpitan hidupnya maka kebiasaan berbuat curang menjadi hal yang tak perlu ditanyakan benar salahnya.

Penggambaran penyebab korupsi di novel ini sangat detail sekali. Di mulai dari alasan himpitan ekonomi dan lingkungan yang permisif untuk itu yang pada akhirnya menimbulkan hubungan antara niat dan kesempatan sebagai penyebab timbulnya kejahatan.

Namun penulis kurang mengeksplorasi sisi psikologis tokohnya bahwa biar bagaimanapun segala tindakan adalah pilihan. Korupsi bukanlah murni adanya kesempatan karena setip orang punya pilihan untuk bertindak. Semua mempunyai tataran moral dalam nurani masing-masing. Pertentangan batin tokohnya kurang dieksplorasi sehingga pembaca hanya mengikuti alur yang lurus tanpa ada pertentangan-pertentangan batin yang membikin kita berdialog dengan teks.

Hingga pada akhirnya Arimbi tertangkap masih saja ia menyalahkan orang lain bukan menyadari bahwa setiap kejahatan cepat atau lambat pasti terbuka mesti disembunyikan sedemikian rupa.

Terlepas dari itu semua novel ini menggambarkan kebobrokan aparat hukum hingga kebusukan perilaku-perilaku penghuni penjara pun digambarkan dengan detail dan riil. Kehidupan yang terkucil di penjara memunculkan aneka penyimpangan hidup mulai dari seks dan pengalihan kebahagiaan melalui obat-obatan untuk sejenak menelikung rasa sepi di penjara.

Bagaimana kesepian di penjara bisa membuat seseorang menyalurkan hasratnya pada sesama jenis sangat menarik untuk disimak. Penjara yang harusnya menjadi tempat mendidik para pesakitan bahkan menjadi tempat tumbuhnya kejahatan-kejahatan baru. Pabrik obat obatan pun ada di sana dan seperti yang sudah banyak diketahui di media massa bagaimana liku-liku bandar narkoba melakukan bisnisnya digambarkan dengan apik.

Penggambaran apa yang terjadi di penjara kelihatannya didukung riset yang apik mengingat penulis novel ini adalah mantan wartawan juga. Pengalaman melakukan investigasi jurnalistik saat menjadi wartawan inilah kelihatannya memperkaya detail setiap kisah di area yang selama ini tertutup dari mata masyarakat. Inilah salah satu keunggulannya.

Terlepas dari itu semua novel ini menggambarkan kebobrokan aparat hukum hingga kebusukan perilaku-perilaku penghuni penjara pun digambarkan dengan detail dan riil. Kehidupan yang terkucil di penjara memunculkan aneka penyimpangan hidup mulai dari seks dan pengalihan kebahagiaan melalui obat-obatan untuk sejenak menelikung rasa sepi di penjara.

Pada akhirnya korupsi adalah pilihan bukan melulu karena adanya kesempatan. Manusia tetaplah punya nurani yang tak mungkin bisa begitu saja membiarkannya bebas bertindak apa pun agamanya. Selamat menikmati kisah Arimbi.

Judul: 86
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan kedua, April 2014
Tebal: 256 halaman   
baca juga; https://www.qureta.com/post/13-sajak-cinta

Kamis, 09 Maret 2017

Buku Itu Guru yang Sabar

Membaca membuat seseorang sejenak lupa. Lupa di mana ia berada dan kadang tak jarang kita seolah hadir di antara kata kata.

Di antara kata kata itulah kita berdialog bagai guru dan murid. Kadang kita protes dengan apa yang kita baca. Ia pun diam tak protes balik.

Namun selalu ada informasi baru bila kita membaca buku. Informasi yang bisa memperkaya isi qalbu dan  membuat kita selalu rindu dengan sebuah buku.

Bagi kita yang selalu haus ilmu buku seolah guru yang telaten dan sabar melayani rasa ingin tahu kita. Saat sedih, marah, atau biasa saja mental kita buku akan tetap diam melayani.

Jadikan buku sebagai sahabat diwaktu luang. Anggaplah sebagai guru yang penyayang. lambat laun ia akan memberi kita dengan impian impian baru yang membuat gairah hidup kita selalu baru.

Mulailah dari buku yang isinya sesuai minat kamu. Jangan berhenti, teruslah berinteraksi dengan buku karena ia adalah guru yang selalu kau rindu. Pada akhirnya.