Jumat, 25 Januari 2019

Jurus Menjadi Citizen Reporter

Kehadiran Pewarta  Warga atau Citizen Jurnalism begitu pesat di media media arus utama. Semua media, baik cetak maupun elektronik, berlomba memberikan ruang bagi warga untuk turut serta memberikan informasi. Semua mencoba memfasilitasi atau sekadar mencari konsumen atau agar tidak ditinggal konsumen informasinya sehingga konsumen pun harus dilibatkan dalam menyajikan berita.

Terlepas dari berbagai alasan media media itu memberikan kesempatan untuk munculnya pewarta warga, selalu ada sisi positif baik dari sisi media sebagai tempat warga menyampaikan berita/informasi maupun warga sebagai konsumen informasi yang dihasilkan awak media massa tersebut. Karena sekarang ini kita berada di era semua berhak bicara dan dengan ini media harus bisa memfasilitasi konsumen beritanya turut menyajikan berita kalau mereka tidak ingin ditinggalkan oleh konsumennya.

Kehadiran Buku Cara Mudah menjadi Pewarta Warga Teori dan Praktik karya Imam Nugroho ini menjadi alat pengasah pisau jurnalistik masyarakat yang ingin berpartisipasi menghasilkan berita yang kredibel. Pengalaman penulis buku ini menjadi Citizen reporter di harian surya selama hampir 9 tahun membuat buku ini menjadi referensi jitu karena ditulis praktisi yang sudah teruji tulisannya.

Imam tidak hanya menyajikan unsur 5W+H yang sering diutarakan dalam teori jurnalistik. Lebih dari itu Ia juga menyajikan teknik mendasar penyusunan kalimat berita hingga tip dan teknik mengirimnya ke sebuah media. 

Pewarta warga  pun tidak serta merta menyajikan sesuatu untuk dikonsumsi publik. Mereka pun sedikit banyak harus mengikuti aturan aturan yang berlaku dalam penyajian informasi kepada masyarakat sebagaimana yang diikuti oleh media arus utama. Salah satunya adalah validitas fakta yang mereka sampaikan kepada masyarakat karena tentunya masyarakat tidak mau hanya dicekoki gosip semata.

Sebagaimana yang diutarakan oleh Imam perihal ketrampilan menulis itu dipraktikan untuk bisa menghasilkan tulisan bukan hanya teori. Ada 4 hal yang dipersyaratkan oleh Imam agar kita bisa mampu berpartisipasi menjadi pewarta warga;

Melatih membaca dan memahami pola penulisan artikel berbagai berita yang terdapat dalam koran atau majalah
Mengumpulkan dan mendatanya secara rapi menurut tema yang diinginkan
Berlatih menyusun kalimat sesuai kebiasaan media yang hendak dituju (untuk memahami selera editor media)
Berani mengirim tulisan secara berkala (karena ini adalah latihan yang sesungguhnya)
Biar bagaimanapun Pewarta warga tak akan bertidak semaunya karena apa yang mereka sajikan akan di moderasi oleh editor media di mana media itulah yang menyediakan ruang untuk Pewarta warga berkreasi dan yang pasti tanggung jawab konten informasi adalah pewarta warga itu sendiri.

Dengan adanya Pewarta Warga  masyarakat bisa memperoleh banyak pilihan informasi/berita yang mereka inginkan. Berita yang disajikan Pewarta warga  menjadi alternatif lain karena penikmat informasi bisa merasakan bagaimana sebuah berita bila disampaikan dalam kacamata konsumen berita sebagaimana dirinya.

Informasi yang disajikan oleh Pewarta warga ada keunggulan tersendiri karena biasanya lepas dari pengaruh atasan, pemilik modal maupun kepentingan sempit golongan karena Pewarta warga kebanyakan bekerja mandiri tidak berafiliasi ke grup atau perusahaan tertentu apalagi partai politik. Hal ini dikarenakan Pewarta warga bertanggungjawab pribadi atas apa apa yang telah disebarkannya.

Meski tak tertutup kemungkinan subyektifitas berita yang dihasilkan oleh seorang Pewarta warga itu terasa, setidaknya ada pendapat lain yang mungkin bisa dijadikan referensi penikmat berita dalam menafsirkan sebuah informasi. Bukankah di era keterbukaan informasi dan kebebasan berpendapat suara suara bukan hanya monopoli awak media?

Judul: Cara Mudah Menjadi Pewarta Warga (Teori dan Praktik)
Penulis: Imam Nugroho
Penerbit: Indie Book Corner, Yogyakarta
Tebal: xii+114 hlm
Tahun: 2018

Membacalah di Sekitar Anak-Anak Kita


Kebiasaan membaca memang perlu ditanamkan sejak kecil. Namun, apakah hanya perlu dengan menyuruhnya untuk belajar membaca sejak kecil maka kebiasaan membaca itu tumbuh dengan sendirinya? Tentunya pertanyaan ini masih perlu kita telisik kembali kebenarannya.

Bukankah sejak kecil kita sudah mulai rmembaca? Akan tetapi adakah di antara kita yang sudah keranjingan untuk membaca? Mungkin hanya sebagian kecil dari kita yang mempunyai gairah tinggi untuk membaca, padahal kita sudah mengenal baca tulis sejak kecil.

Membaca buku jenis apa pun, sastra, tips dan trik, motivasi maupun pengetahuan eksakta yang rumit perlu dibiasakan. Pertama kalinya tentu harus dipaksakan pada diri sendiri dengan membaca buku yang kita suka. Lambat laun itu akan menjadi kebiasaan dan bahkan mungkin menjadi suatu ketagihan. Bukankah segala jenis ketagihan dimulai dari yang namanya coba-coba?

Seseorang tidak akan serta-merta keranjingan membaca bila orang tersebut tidak mempunyai kebiasaan membaca. Nah, kebiasaan inilah yang perlu dipupuk melalui bacaan-bacaan yang menarik untuk kita. Unsur menarik-tidaknya sebuah bacaan, tergantung dari di mana passion Anda, tentunya masing-masing orang berbeda-beda.

Kembali ke persoalan menumbuhkan kegemaran membaca pada anak-anak kita. Kebiasaan itu tidak-serta merta ditumbuhkan hanya karena sejak usia pra-sekolah mereka sudah diajarkan untuk membaca. Ada yang lebih penting dan mengena daripada sekadar mengajarinya membaca, yaitu lingkungan tempat ia tumbuh harus selalu beraroma bacaan, bacaan, dan bacaan.

Lingkungan mempunyai peran yang tidak kecil untuk menumbuhkan kebiasaan pada anak. Bisa kita baca pada biografi penulis-penulis terkenal, baik dalam negeri maupun luar negeri, bahwa kebanyakan mereka dibesarkan di lingkungan yang menstimulasi mereka untuk mencintai bacaan.

Pada saat masih dalam tahap usia dini, mereka selalu diliputi buku-buku sehari-harinya. Mereka pun membaca tanpa ada rencana atau tujuan apa. Mereka menikmati kalimat dan kata-kata yang pada akhirnya melekat di alam bawah sadarnya.

Soekarno, Hatta, Gus Dur, dan Habibie adalah sebagian dari tokoh-tokoh yang sejak kecil menggemari membaca buku. Mereka pun meninggalkan koleksinya menjadi perpustakaan-perpustakaan yang bisa dipakai hingga sekarang koleksi bukunya. Garis lurusnya adalah mereka semua tumbuh dari lingkungan keluarga pecinta ilmu.

Lingkungan itu adalah keluarga sebagai pencetus utama untuk menumbuhkan kebiasaan membaca pada seorang anak. Tentunya sangat tidak mungkin ini bisa terjadi untuk memunculkan gairah membaca pada anak-anak kita jika di lingkungan keluarganya tak ada buku bacaan maupun teladan dari kedua orangtuanya.

Ketersediaan bahan bacaan bisa diusahakan untuk selalu menyisihkan anggaran rumah tangga untuk membeli buku-buku. Anak anak suka buku bergambar, maka dari itu sediakanlah buku yang seperti itu di sekitar mereka. Jangan menyuruhnya untuk membaca, tapi mulailah dari diri Anda sendiri.

Bacalah buku cerita bergambar itu dengan suara yang bisa ia dengar. Membacalah terus di sekitar mereka dan Anda akan terkejut ketika mereka suatu saat akan berlagak seperti Anda membaca. Itu semua adalah hasil dari apa yang ia dengan dan lihat serta rasakan setiap hari akibat berinteraksi dengan buku dan membaca.

Keteladanan orangtua menjadi lebih penting karena anak-anak lebih bisa menangkap apa yang ia dengar dan lihat daripada sekadar menerima perintah dan perintah. Kecenderungan meniru lebih mudah diaplikasikan anak anak dalam perilaku sehari harinya.

Mulailah membaca di sekitar mereka. Kalau perlu, membacalah dengan suara yang bisa didengarkan oleh anak-anak Anda. Membacalah terus dan terus di sekitar mereka. Salah satu kebiasaan yang bisa Anda terapkan adalah mengaji dengan suara keras di sekitar mereka. Lambat laun mereka akan melihat kebiasaan kita dan akan mencoba menirunya dan itulah saat terbagus kita menangkap momen antusias mereka untuk belajar membaca.

Keteladan ternyata lebih manjur untuk menumbuhkan kebiasaan membaca anak anak kita. Beberapa contoh di atas adalah hal kecil yang penulis alami dan lakukan di rumah. Tentu akan sangat tidak etis bila kita sebagai orangtua menyuruh anak-anak kita untuk gemar membaca namun mereka tanpa pernah sekalipun melihat orang tuanya sedang menyendiri sibuk menekuni bahan bacaan.

Anak anak perlu bukti konkret agar ia mau melakukan sesuatu. Otak mereka tak mudah menangkap ide  yang tidak konkret; harus jelas dan nyata.

Nah, sekadar tips untuk kita memulai memberi teladan, bila kita tertarik bidang ekonomi, bacalah buku ekonomi. Kalau tertarik di bidang filsafat, bacalah juga buku filsafat. Semua tergantung Anda. Bidang apakah yang membuat Anda antusias, itulah passion Anda.

Membacalah di sekitar mereka. Berikan mereka pemandangan bagaimana kita memanfaatkan waktu dan menikmati saat-saat kita sedang asyik membaca. Apakah Anda mau mencoba?

Literasi Sekolah Menjawab Tantangan Zaman

Sekolah sebagai tempat menumbuhkan semangat pembelajaran sepanjang hayat. Bisa jadi inilah tantangan terbesar sekolah dalam mencetak kader bangsa.

Biar bagaimanapun sekolah haruslah menyenangkan sehingga warganya menjadi warga yang selalu haus informasi dan pengetahuan. Sekolah jangan malah mematikan semangat tersebut karena terlalu kaku dengan aturan aturan yang menakutkan.

Memang sekolah adalah tempat mendidik sekaligus mengajar bagi guru, namun membuka dan menumbuhkan antusiasme untuk belajar itu saya rasa lebih utama. Siswa harus menikmati suasana sekolah yang pada akhirnya menumbuhkan semangat berekemajuan baik ruhani maupun fisiknya. Sekolah harus tanggap dengan masivnya serbuan informasi yang bisa diakses siswanya dengan membekalinya dengan ilmu memilih dan memilah informasi itu.

Kita masuk di era banjir informasi. Kemajuan teknologi Informasi yang begitu pesat membuat orang mendapat informasi melimpah ruah. Informasi yang cepat, mudah dan murah  membuat kita  lebih sering mengakses informasi, dengan kata lain kita dikepung dan dipaksa menerima informasi. Sampai sampai membludaknya informasi tersebut membuat orang bingung mana yang dapat dipercaya dan bisa dipakai manfaatnya.

Kini,  asal sesuatu itu  tertulis di media dan kita bisa membacanya  sekaligus mengonsumsinya, tak peduli apakah informasi tersebut  berguna atau tidak kita bisa mengonsumsinya. Seolah kita diserang dengan berjuta data untuk kita gunakan meski seringkali kita bingung mau menggunakan informasi yang mana yang tepat untuk kita.

Menjawab tantangan ini, sekolah harus bisa menyajikan sumber informasi yang kredibel yang bisa diakses oleh warganya sehingga mereka terbiasa kritis karena kebiasaan membaca yang tinggi. Selain itu, di lingkungan sekolah dibiasakan juga untuk menulis agar bisa berfikir terstruktur dan memudahkannya memahami sebuah bacaan yang telah dikonsumsinya.

Literasi Informasi adalah syarat utama memasuki dunia banjir informasi. Ini dikarenakan karena Literasi Informasi mampu membuat kemampuan seseorang untuk menyadari kebutuhan informasi dan saat kapan informasi dibutuhkan, mengidentifikasi dan menemukan lokasi informasi yang diperlukan, mengorganisasikan dan menggunakan informasi tersebut untuk mengatasi persoalan maupun mengambil keputusan.

Literasi Informasi berkaitan dengan pemakaian informasi  secara efektif dan efisien. Di era media online yang semakin berkembang kemapuan literasi informasi menjadi penting agar kita tidak kebanjiran informasi sampah. Dan yang lebih fatal lagi apabila kita termakan hoax.

Berdasarkan hal tersebut di atas,  literasi bukan hanya soal membaca. literasi lebih luas cakupannya karena literasi menunjukkan  kemampuan seseorang dalam mencari informasi, dimana lokasi informasi tersebut dan mampu mengaplikasikan informasi yang didapat untuk mengatasi persoalan setelah dievaluasi secara matang.

Seseorang yang terliterasi mempunyai tiga syarat minimal hingga seseorang tersebut dianggap terliterasi.

Pertama, Sesorang harus bisa mencari dan menemukan informasi yang dibutuhkan secara efektif dan efisien. Ketika membutuhkan suatu data terkait dengan keputusan yang diambil orang tersebut harus bisa secara cepat menetukan lokasi keberadaan di mana informasi tersebut berada. Di tahap ini, penguasaan lokasi tempat dan cara informasi didapatkan mutlak harus diketahui.

Kedua, ketika informasi sudah didapatkan, orang tersebut harus bisa mengidentifikasi dan mengevaluasi secara kritis apakah informasi tersebut bisa dipercaya dan mempunyai nilai guna untuk mengatasi persoalan maupun mengambil keputusan. Apakah informasi yang didapatkan sudah sesuai dengan kebutuhan? di sini kemampuan seseorang dalam menguasai sesuatu bisa dilihat jika ia mampu menyederhanakannya dalam sebuah tulisan.

Ketiga, apabila sudah dirasa valid dan dapat dipercaya, orang tersbut harus mampu menggunakan informasi tersebut secara kreatif dan akurat. Dengan kata lain orang tersebut harus mampu mengaplikasikan informasi yang didapat untuk mengembangkan kompetensinya agar mudah mengatasi persoalan hidupnya. Diharapkan dengan kreatifitas baru dapat ditemukan informasi baru yang melengkapi informasi  yang didapatkan sebelumnya. Proses inilah yang menjadi sintesa saat orang tersebut menuliskannya kembali.

Dengan standar minimal di atas bisa dikatakan bahwa seseorang sudah bisa dianggap terliterasi dan bisa melakukan proses belajar sepanjang hayat secara mandiri.

Di era internet ini, sekedar tahu, bukan lagi membawa manfaat bagi seseorang. Yang lebih penting adalah apakah kita bisa menggunakan informasi itu untuk mengembangkan potensi pribadi kita menjadi lebih bermanfaat bagi orang lain. Tentunya itu semua bisa dilakukan jika kita mampu menuliskannya kembali dan dapat dikonsumsi orang lain.

Last but not least, Sekolah adalah sebuah ekosistim pembelajaran tentunya selepas dari situ mental pembelajar haruslah semakin tumbuh bukan malah teralienasi dengan informasi pada saat warganya lepas ke dunia yang sesungguhnya. Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan adalah tantangan untuk menciptakan masyarakat yang terliterasi.

Pengetahuan bukan lagi sekedar hafalan namun menuangkan kembali menjadi sebuah tulisan adalah sarat pertama seseorang dianggap terliterasi. Mampukah sekolah kita menjawab tantangan itu?

Jejak Prostitusi Lesbian

“Ya, namaku Rere. Sering dipanggil Re:. Pelacur itu pekerjaanku! Lebih tepatnya, pelacur lesbian! Lonte! Sampah masyarakat!" (hlm. 71).

Itulah kata kata lugas yang diutarakan sosok remaja Re: pada sang pencerita dalam novel Re: karya Maman Suherman. Ada nada kemarahan dan protes yang ingin disampaikan mengenai jati dirinya yang sebenarnya.

Berprofesi sebagai gadis penjaja cinta (khusus melayani sesama perempuan) bukanlah keinginan Re:. Apa yang menjadikannya terjerumus ke dalam dunia esek-esek ini menjadi wacana yang ingin disampaikan oleh Kang Maman. Faktor apakah yang membuat mereka rela dianggap sebagai sampah masyarakat.

Sebagai anak yang terlahir dari hubungan di luar nikah, Re: tumbuh dalam stigma yang mengelilinginya, yaitu anak haram. Barang najis bagi banyak orang karena hasil dari hubungan terlarang.

Selepas ibunya meninggal, Re: diasuh oleh neneknya yang makin membenci keberadaannya karena dianggap anak pembawa sial. Dari sini, Re: menjadi anak yang lebih pendiam, bahkan terbawa sampai usia sekolah. Mental yang terhinakan membuat ia jadi penyendiri.

Tumbuh di lingkungan penuh cacian dan makian, kepribadian Re: menjadi sedikit demi sedikit mulai melawan dengan cara yang remaja lakukan: nakal. Pubertas yang harusnya penuh dialog kasih sayang dengan orangtua, sama sekali tak dirasakannya.

Di masa SMA, kehidupan bebas mulai dijalaninya. Dan akhirnya dia pun mewarisi apa yang ibunya pernah alami, yaitu hamil di luar nikah.

Berawal dari kehamilan di luar nikah inilah Re: terjerumus ke cengkeraman seorang mucikari yang dengan cerdiknya mampu mendorong dia untuk mencari uang dengan dengan menjual diri.

Sebagaimana yang diceritakan oleh Kang Maman, novel ini ia tulis berdasarkan penelitiannya saat membuat skripsi sebagai mahasiswa kriminologi. Di tahun 80-an, pelacur lesbian masih menjadi tanda tanya keberadaanya dan Kang Maman berhasil mengungkapnya. Pelacur lesbian itu memang benar adanya.

Sosok Re: adalah salah satu obyek penelitiannya itu. Melalui sosok Re:, Kang Maman berhasil mengungkap lebih banyak lagi sisi sisi dunia pelacuran ibu kota.

Apa yang ditawarkan oleh Kang Maman mungkin tak seheboh dengan apa yang ditulis oleh Moammar Emka dalam Jakarta Undercover. Namun, apa yang dikisahkan Kang Maman dalam novel ini, banyak menelisik sisi kemanusiaan dunia pelacuran.

Dunia prostitusi memang sejalan dengan peradaban manusia itu sendiri. Selalu hadir secara tersembunyi maupun terbuka. Banyak yang mencemoohnya namun tak sedikit pula yang berusaha memahaminya dari berbagai sisi.

Salah satunya adalah penyebab seseorang menjadi pelacur. Keterhimpitan ekonomi adalah penyebab utama. Dan ini sering dimanfaatkan orang-orang picik dan jahat yang suka memperbudak orang lain; germo.

Kisah seorang pelacur mampu menginspirasi Titiek puspa menulis lagu Kupu-Kupu Malam. Kita bisa mencari penyebab lahirnya lirik “bekerja bertaruh seluruh jiwa raga” yang begitu melegenda itu.

Apakah kita pernah membayangkan bahwa seseorang rela dihina dan dicemooh setiap hari sebagai pelacur hanya demi menghidupi anak-anaknya? Hidup banyak pilihan, tapi kenapa harus melacur?

Secara garis besar, banyaknya pelacuran disebabkan oleh akses ekonomi yang sulit. Ditambah lagi, jebakan oknum (mucikari) yang memanfaatkan kelemahan para perempuan yang terdesak secara ekonomi dengan menjeratnya dengan utang piutang yang ditentukan secara sepihak. Dan Re: adalah bagian dari salah satu yang terjerat itu.

Novel ini juga menunjukkan beberapa lokasi hotspot tempat pelacuran di Ibukota yang sampai sekarang masih terdengar. Untuk yang pernah membaca Jakarta Undercover-nya Moammar Emka, pembaca bisa menemukan banyak kesamaan tempat dengan yang ditulis di buku ini. Mungkin pelayanan dan tampilannya saja yang berbeda, tapi intinya tetap sama di kedua buku itu. Bisnis kelamin.

Prostitusi adalah cara instan mendapatkan uang, terutama bagi para germo alias mucikari. Nah, bagi mereka yang tak punya pilihan lagi mengakses ekonomi disertai minimnya keterampilan, mampukah memalingkan muka dari godaan rupiah untuk menjual diri? Dan sekali lagi, hidup adalah pilihan. Selamat membaca.

Judul: Re:
Penulis: Maman Suherman
Penerbit: Jakarta; POP, 2014
Tebal: vi+160
ISBN: 978 979 91 0702 2

Kreativitas Bukan Karunia Genetis

Kenapa  banyak orang kreatif yang lahir dari daerah tertentu? Ada hubungan seperti apa antara kondisi alam maupun sosial budaya yang mampu menjadi pendorong suatu daerah melahirkan orang yang jenius? Itulah yang mendasari Eric Weiner , seorang pelancong filosofis sekaligus penulis, pembicara dan mantan koresponden sebuah media radio.
Setelah mengejutkan pembaca dengan buku sebelumnya yaitu geografi kebahagiaan atau  History of Bliss kini ia melakukan kembali pemetaannya dengan topik yang lebih subyektif lagi, The Geography of Genius.
Ada beberapa kota yang menjadi obyek ulasannya di antaranya: Athena, Hangzhou, Florence, Edinburgh, Kolkata, Wina dan Silicon Valley. Nama kota kota tersebut sudah tak asing bagi kita pecinta ilmu pengetahuan. Mereka adalah kota yang banyak melahirkan para jenius di bidangnya masing masing.
Bagi orang kreatif tidak penting apakah lingkungan sekitar mereka baik atau buruk karena mereka ingin mengambil inspirasi dari dua keadaan tersebut. Dan kebanyakan dari kita berada pada puncak kreatif saat kita mengalami keterbatasan.
Garis lurus dari semua itu adalah bahwa orang kreatif selalu berdampingan dengan resiko. Orang jenius tak jarang memepertaruhkan kekonyolan mereka. Kejeniusan selalu ada harganya  dan sebagian orang juga sebagian tempat lebih  bersedia untuk membayar harga tersebut dibandingkan yang lainnya.
Athena, adalah penghasil filosof terkemuka,  Plato, Aristoteles, Phitagoras dll, adalah ilmuwan yang lahir dari negeri Yunani tepatnya di Athena. Kondisi alam dan lingkungan yang seperti apakah hingga melahirkan orang orang kreatif itu membuat Eric blusukan ke museum dan situs situs bersejarah di sana. Mencoba merekonstruksi masa lalu dari bukti bukti yang ada. Kondisi alam dan penghargaan pada pengetahuan dari luar membuat mereka berkembang. Ilmu dari Mesir, Babilonia dan Sumeria mereka adaptasi menjadi ilmu baru. Dan memang benar di mana sesuatu itu dihargai maka sesuatu itu pun akan tumbuh.
Apa yang diuraikan tentang Athena tak berbeda jauh dengan Hangzhou. Hangzhou sebagaimana kota di China adalah suatu tempat dengan penghargaan tinggi terhadap orang orang kreatif di masanya. Namun bagi orang orang di sini apa yang disebut dengan inovasi lebih pada seberapa berguna penemuan itu bagi masyarakatnya. Dan satu hal yang pasti meski berguna penemuan tersebut harus tetap berpijak dari tradisi masa lalu.
Ada yang khas dari apa yang diuraikan oleh eric dalam bukunya ini, bahwa kejeniusan itu beragam bukan hanya milik ilmuwan alam semata tapi juga ilmuwan sosial dan tak ketinggalan ilmuwan di bidang  seni. Baginya kreatifitas bisa dimiliki oleh semua bidang keahlian. Ada ahli matematika, sastra, musik yang menghiasi deskripsi orang kreatif dalam buku ini. Dan semuanya adalah maestro, dan tentunya daerahnya berbeda beda.
Florence, sebuah kota kecil di Italia tentunya tak luput dari perhatian Eric. Kota tempat lahirnya renaisans ini tentunya menyimpan berjuta misteri hingga melahirkan begitu banyak seniman dan ilmuwan terkemuka didunia. Ketika Athena menghargai kebijaksanaan dan melahirkan Socrates, lantas apa yang ditawarkan oleh kota yang kumuh dan rawan banjir ini? Ternyata di sana banyak sekali Bottega yang berarti bengkel kerja. Di sini sebuah formula baru diuji dan dipelajari tak jarang mereka berhasil membentuk penemuan baru dari tempat ini. Dan yang terpenting adalahmemeupuk bakat bakat baru di sini.
Di Bottega inilah para ilmuwan tersohor memulai kreativitasnya, Michaelangelo dan  Leonardo da Vinci adalah dua dari sekian banyak jenius yang menjadi   alumni Bottega. Mereka  magang pada ilmuwan yang berkompeten pemilik bottega itu. Dan mereka belajar secara alami learning by doing di sana. Florence adalah kota yang mau menghargai  sebuah karya dengan mahal. Mereka  tak berhitung untuk membayar seorang seniman dan inilah yang membuatnya melahirkan banyak ilmuwan dan seniman.
Dan hal yang dihargai di suatu negeri akan tumbuh di sana. Ungkapan ini memantik dan menjadi garis lurus pembahasan buku ini.  Dan seperti diyakininya setelah melalui perjalanan ke Athena, Kolkata, Hangzhou, Edinburgh, Florence, Wina dan Silicon Valley, eric menganggap bahwa kreativitas bukan sebagai karunia atau anugerah, melainkan sesuatu yang diusahakan melalui kerja keras. Dan tentunya itu akan tumbuh jika ada situasi yang mendukung. Dan saya pun setuju dengan pendapatnya. Selamat membaca.
Judul                    : The Geography of Genius, Pencarian Tempat tempat  Paling kreatifdi Dunia dari Athena kuno Sampai Silicon Valey.
Penulis                 :Eric  Weiner
Penerjemah         :Barokah Ruziati
Penerbit              : Qanita PT Mizan Pustaka Bandung,  Cetakan I
Tebal                   : 576 hlm.

Karena Korupsi Adalah pilihan

Apakah kejahatan itu karena ada kesempatan? Bisa jadi. Lingkungan yang memberikan seseorang untuk berbuat jahat bisa mengubah perangai yang baik seseorang menjadi buruk. Novel ini membahas problematika niat dan kesempatan yang bisa melahirkan sebuah kejahatan.

Arimbi, wanita muda dari sebuah desa, bekerja di Jakarta. Dengan bekal ijasah sarjana yang ia punya, Arimbi berhasil  menjadi pegawai negeri di sebuah pengadilan negeri di Jakarta. Ia yang lugu tak mengenal gaya dan aneka keindahan materi, bahkan mungkin gaya hidup hedonis pun jauh dari kosakata kehidupannya sehari hari.

Di sebuah lingkungan birokrasi yang begitu mendewakan nilai uang untuk memperlancar segala urusan, Arimbi tergagap ketika mengetahui kehidupan teman-teman sekantornya yang terasa begitu mudah dijalani di matanya. Ia bertanya-tanya dalam hati, mereka sama dengannya sebagai pegawai negeri biasa namun sepertinya mereka tidak mengalami kesulitan untuk hidup di Jakarta.

Hidup yang berat di Jakarta, bagi Arimbi, bagaimana dia harus menyisakan gajinya untuk membayar kost dan mengirim sebagian ke kampungnya. Itu dijalani dengan hidup yang super hemat kalau tidak bisa dikatakan melarat.

Meski orang tuanya tak pernah tahu seperti apa hidup di Jakarta, mereka hanya tahu dan bangga anaknya telah menjadi pegawai negeri di sebuah instansi pemerintah. Setiap hari berseragam dengan jam kerja dan gaji yang pasti.

Namun, ketika hari demi hari yang diketahui oleh Arimbi adalah pola perilaku, yang semula ia tak mengerti hingga dikatakan ndeso oleh teman-temannya, bahwa apa yang selama ini dilakukan oleh temannya adalah ngobyek hingga mereka bisa hidup layak di Jakarta.

Arimbi yang lugu itu mulai tergoda, apalagi saat ia jatuh cinta dan perlu biaya untuk menikmati jatuh cintanya. Terlebih lagi ketika ia berkenalan dan mulai dipercaya oleh atasannya, Danti. Hidupnya berubah 180 derajat. Ia menjadi yakin bahwa uang adalah raja untuk menjadikan segala menjadi mudah untuk bisa hidup di Jakarta.

Diawali dari tip-tip kecil yang diberikan Bu Danti ketika ia harus menjadi juru tulis untuk perkara-perkara yang harus diatur agar cepat selesai ataupun dimenangkan, arimbi mulai ketagihan untuk mendapatkan uang dengan cepat dan instan. Ketika semua teman mengiyakan apa yang dilakukannya karena semua berbuat sama di instansinya ia semakin lupa diri dan tak punya malu untuk berbuat curang.

Bagi Arimbi korupsi adalah kewajaran karena semua melakukan hal yang sama. Kesempatan yang ada disertai niat karena himpitan hidupnya maka kebiasaan berbuat curang menjadi hal yang tak perlu ditanyakan benar salahnya.

Penggambaran penyebab korupsi di novel ini sangat detail sekali. Di mulai dari alasan himpitan ekonomi dan lingkungan yang permisif untuk itu yang pada akhirnya menimbulkan hubungan antara niat dan kesempatan sebagai penyebab timbulnya kejahatan.

Namun penulis kurang mengeksplorasi sisi psikologis tokohnya bahwa biar bagaimanapun segala tindakan adalah pilihan. Korupsi bukanlah murni adanya kesempatan karena setip orang punya pilihan untuk bertindak. Semua mempunyai tataran moral dalam nurani masing-masing. Pertentangan batin tokohnya kurang dieksplorasi sehingga pembaca hanya mengikuti alur yang lurus tanpa ada pertentangan-pertentangan batin yang membikin kita berdialog dengan teks.

Hingga pada akhirnya Arimbi tertangkap masih saja ia menyalahkan orang lain bukan menyadari bahwa setiap kejahatan cepat atau lambat pasti terbuka mesti disembunyikan sedemikian rupa.

Terlepas dari itu semua novel ini menggambarkan kebobrokan aparat hukum hingga kebusukan perilaku-perilaku penghuni penjara pun digambarkan dengan detail dan riil. Kehidupan yang terkucil di penjara memunculkan aneka penyimpangan hidup mulai dari seks dan pengalihan kebahagiaan melalui obat-obatan untuk sejenak menelikung rasa sepi di penjara.

Bagaimana kesepian di penjara bisa membuat seseorang menyalurkan hasratnya pada sesama jenis sangat menarik untuk disimak. Penjara yang harusnya menjadi tempat mendidik para pesakitan bahkan menjadi tempat tumbuhnya kejahatan-kejahatan baru. Pabrik obat obatan pun ada di sana dan seperti yang sudah banyak diketahui di media massa bagaimana liku-liku bandar narkoba melakukan bisnisnya digambarkan dengan apik.

Penggambaran apa yang terjadi di penjara kelihatannya didukung riset yang apik mengingat penulis novel ini adalah mantan wartawan juga. Pengalaman melakukan investigasi jurnalistik saat menjadi wartawan inilah kelihatannya memperkaya detail setiap kisah di area yang selama ini tertutup dari mata masyarakat. Inilah salah satu keunggulannya.

Terlepas dari itu semua novel ini menggambarkan kebobrokan aparat hukum hingga kebusukan perilaku-perilaku penghuni penjara pun digambarkan dengan detail dan riil. Kehidupan yang terkucil di penjara memunculkan aneka penyimpangan hidup mulai dari seks dan pengalihan kebahagiaan melalui obat-obatan untuk sejenak menelikung rasa sepi di penjara.

Pada akhirnya korupsi adalah pilihan bukan melulu karena adanya kesempatan. Manusia tetaplah punya nurani yang tak mungkin bisa begitu saja membiarkannya bebas bertindak apa pun agamanya. Selamat menikmati kisah Arimbi.

Judul: 86
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Cetakan kedua, April 2014
Tebal: 256 halaman   
baca juga; https://www.qureta.com/post/13-sajak-cinta